Home / Adab / Menangis Karena Sakit Dan Menceritakan Sakitnya (Apakah Termasuk Mengeluh?)

Menangis Karena Sakit Dan Menceritakan Sakitnya (Apakah Termasuk Mengeluh?)

1inde'x

Perlu diketahui bahwa bahwa kita dilarang mengeluh kepada manusia, kita sebaiknya hanya mengadu kepada Allah saja. Jika ingin yang menceritakan masalah, maka sebaiknya kita tidak mengeluh, akan tetapi ceritakanlah kepada beberapa orang saja yang bisa membatu kita mencarikan solusi masalah (musawarah)  dan bisa memberikan nasehat kepada kita.

Dalam sebuah hadits Qudsi,

قَالَاللَّهُتَبَارَكَوَتَعَالَىإِذَاابْتَلَيْتُعَبْدِىالْمُؤْمِنَفَلَمْيَشْكُنِىإِلَىعُوَّادِهِأَطْلَقْتُهُمِنْإِسَارِىثُمَّأَبْدَلْتُهُلَحْمًاخَيْرًامِنْلَحْمِهِوَدَمًاخَيْرًامِنْدَمِهِ،ثُمَّيَسْتَأْنِفُالْعَمَلَ

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hambaKu yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya maka Aku akan melepaskannya dari tahananKu (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).”[1]

 

Bagaimana ketika sakit? apakah hal ini termasuk mengeluh dan berkeluh kesah yang diharamkan? Syaikh Abdul Aziz bin Baz  rahimahullah ditanya,

الأخت تقول في سؤالها أنا مريضة وأحيانا أبكي لما صارت إليه حالتي بعد مرضي فهل هذا البكاء معناه اعتراض على الله عز وجل وعدم الرضا بقضائه وهذا الفعل خارج عن إرادتي وكذلك هل التحدث مع المقربين عن المرض يدخل في ذلك ؟

Seorang wanita berkata:  saya sedang sakit dan kadang saya menangisi keadaan saya ketika tertimpa penyakit. Apakah tangisan ini menunjukkan rasa tidak terima dan tidak ridha terhadap takdir Allah? Padahal perasaan sedih ini muncul begitu saja. Lalu apakah menceritakan keadaan saya tersebut kepada teman-teman dekat saya juga termasuk sikap tidak ridha terhadap takdir?

 

Beliau menjawab:

لا حرج عليك في البكاء إذا كان بدمع العين فقط لا بصوت لقول النبي صلى الله عليه وسلم لما مات ابنه إبراهيم: ((العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون))، والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ولا حرج عليك أيضا في إخبار الأقارب والأصدقاء بمرضك مع حمد الله وشكره والثناء عليه وسؤاله العافية وتعاطي الأسباب المباحة، نوصيك بالصبر والاحتساب وأبشري بالخير لقول الله سبحانه وتعالى: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ[1]، ولقوله تعالى: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ[2]، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب وهو المرض ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه))، وقوله عليه الصلاة والسلام : ((من يرد الله به خيرا يصب منه)) نسأل الله أن يمن عليك بالشفاء والعافية وصلاح القلب والعمل إنه سميع مجيب.

Anda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja, jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika anaknya, Ibrahim, meninggal,

العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون

Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)

Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh yang mubah. Aku menasehatkan anda agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Aku akan memberi anda kabar gembira, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 156-158)

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب( وهو المرض) ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه

Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19)

Juga sabda beliau,

من يرد الله به خيرا يصب منه

Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)

Aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa.[2]

 

Mengadu kepada Allah terlebih dahulu

akan tetapi sebelum kita mengadu dan menceritakan kepada manusia tentang penyakit ataupun musibah, maka hendaknya kita lebih dahulu mengadu kepada Allah. Sebagaimana dicontohkan oleh para nabi dan orang-orang shalih.

Allah berfirman tentang Nabi Ya’quub ‘alaihis salam,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf : 86)

Begitu juga tentang  Nabi Ayyub ‘alaihis salam, Allah berfirman,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia Amat taat (kepada Tuhan-nya)” (Shad : 44)

 

baca juga artikel: Imam Ahmad ditegur ketika mengerang sakit

 

Pogung Baru-Jogja

10 Rabi’ul Awwal 1434 H

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel  www.muslimafiyah.com

 

 

 

 


[1] HR. Al-Hakim dalam Mutadraknya no. 1290, Al Baihaqi dalam Sunanul Qubra no. 6790.  Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaliy

 

3 Comments

  1. Agus Sukoyo says:

    suka duka senang susah bahagia merana ceria galau lega mangkel sehat sakit, semua berpasang-pasangan. mengadu pada yang merancang adanya pasangan itu ternyata lebih puas daripada kepada sesama user/pengguna. yang meciptakan pasti maha tahu solusinya …

  2. wiro says:

    Kebutuhan dan kebahagiaan ruh itu tidak sama dengan kebahagiaan jasad.
    Surga adalah alam ruh,maka jangan membayangkan surga dengan kebutuhan jasad.Ruh tidak punya nafsu jasad punya,ruh tidak ngantuk maka jasad tidur.ruh tidak makan kalau jasad lapar.
    Maka jangan punya pikiran sex paling nikmat maka di angapnya di surga sex adalah yang paling nikmat.
    Sebahagia bahagiyyanya ruh adalah bertemu dengan maha ruh.

Leave a Reply