Home / Adab / Sedang Berhubungan Suami-Istri, Kemudian Terdengar Adzan Subuh Ramadhan?

Sedang Berhubungan Suami-Istri, Kemudian Terdengar Adzan Subuh Ramadhan?

3843606134_17146ec30d

Pertanyaan:

السؤال: أثناء الجماع أذن الفجر فما الحكم

“ketika sedang berjima’ kemudian dikumandangkan adzan subuh, bagaimana hukumnya?

Jawab:

الجواب: إذا أذن المؤذن وهو يجامع وجب عليه أن ينزع فيقوم عن المرأة ولا شيء عليه على الصحيح، ومن العلماء من يقول: أن النزع جماع، والذي يترجح خلاف هذا، فنقول: إذا قام عن المرأة فيتم صومه ويغتسل ولا شيء عليه، أما إذا استمر يجامع والمؤذن يؤذن وهو يعلم أن الوقت قد دخل ومع ذلك استمر في الجماع حتى فرغ منه فهذا عليه الكفارة، والمرأة إذا كانت مطاوعة راضية، أما إذا كانت تدفعه لما سمعت النداء وهو يأبى إلى أن يتم جماعه فلا شيء عليها، أما إذا كانت مطاوعة راضية فعليها كذلك الكفارة

“jika muadzzin mengumandangkan adzan subuh dan ia sedang melakukan jima’, maka wajib baginya mencabut (menghentikan) kemudian menjauhi istrinya dan tidak mengapa baginya menurut pendapat yang shahih. Ada ulama yang berpendapat bahwa mencabut terhitung jima’, akan tetapi yang rajih adalah kebalikan pendapat ini.

Kita katakan: jika ia menjauhi istrinya kemudian menyempurnakan puasanya dan mandi junub maka tidak mengapa (puasanya sah).

Adapun jika ia melanjutkan jima’nya ketika adzan berkumandang dan ia tahu bahwa telah masuk waktu subuh akan tetapi ia tetap melanjutkan jima’nya sampai selsai maka wajib baginya membayar kafarah. Demikian juga istrinya jika setuju dan ridha untuk melanjutkan. Adapun jika ia menolaknya tatkala ia mendengar adzan dan ia enggan untuk melanjutkan jima’ maka tidak mengapa baginya. Adapun jika ia setuju dan ridha maka wajib baginya membayar kafarah.[1]

 

Catatan:

Ada pendapat yang mengtakan bahwa puasanya batal meskipun ia segera mencabutnya. Mengenai hal ini syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata,

والنزع جماع»: أي لو كان الرجل يجامع زوجته في آخر الليل، ثم أذن مؤذن، وهو ممن يؤذن على طلوع الفجر، فنزع في الحال، فإنه يترتب عليه ما يترتب على الجماع من القضاء والكفارة، وهذا من غرائب العلم؛ فكيف يكون الفارُّ من الشيء كالواقع فيه؟!! ولهذا كان القول الراجح أنه ليس جماعاً بل توبة، وأنه لا يفسد الصوم وليس عليه كفارة

“ Adapun pendapat “mencabut terhitung jima’, yaitu jika seorang laki-laki menyetubuhi istrinya pada akhir malam, kemudian adzan subuh berkumandang, kemudian ia mencabutnya seketika maka statusnya ia telah melakukan jima’, maka wajib mengqadha dan membayar kafarah. Maka ini merupakan pendapat yang aneh, bagaimana mungkin seseorang yang menghindari sama dengan orang yang melakukan? Oleh karena pendapat yang rajih hal ini bukan terhitung jima’ akan tetapi taubat. Maka tidak merusak puasanya dan tidak wajib baginya kafarah.”[2]

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata,

لو طلع الفجر , وهو مجامع فَنَزَعَ في الحال صحَّ صومُه

“jika telah terbit fajar [masuk waktu subuh] sedang ia dalam keadaan berjima’ kemudia ia langsung mencabutnya seketika. Maka puasanya sah.”[3]

 

Ada yang berpendapat bahwa melanjutkan berhubungan badan ketika terdengar adzan boleh karena diqiyaskan dengan bolehnya melanjutkan minum ketika terdengar adzan sebagaimana di hadits. Maka ini adalah qiyas yang kurang tepat. Karena berbeda antara minum dan berjima’.

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata,

إذا طلع الفجر وهو يجامع فاستدام الجماع؛ فعليه القضاء والكفارة، وبه قال مالكٌ والشافعيُّ

“jika terbit fajar ketika ia sedang berjima’ kemudian ia melanjutkan jima’. Maka wajib baginya qhada’ dan membayar kafarah. Demikian pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i.”[4]

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata,

أمَّا إذا طلع الفجر وهو مجامع فعَلِمَ طلوعَهُ, ثم مكث مستديمًا لِلجماع، فيبطل صومُه بلا خلاف, نصَّ عليْه وتابَعَهُ الأصحاب, ولا يُعلم فيه خِلافٌ لِلْعُلماء، وتلزمه الكفارة على المذهب”.

“JIka terbit fajar ketika ia sedang berjima’ dan ia mengetahui terbitnya. Kemudian ia melanjutkan jima’ maka puasanya batal tanpa ada khilaf. Hal ini ditegaskan oleh ulama syafi’iyah. Tidak diketahui adanya khilaf di antara ulama. Wajib baginya membayar kafarah.”[5]

 

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

17 Sya’ban 1433 H, Bertepatan  7 Juli 2012

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 


[1] Sumber: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=193006

[2] Asy-Syarhul Mumti’ 3/61, Jundul Afkar, Iskandariyah

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/316,  Darul fikr, Beirut, Syamilah

[4] Al-Mughni 3/65, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, Syamilah

[5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/309,  Darul fikr, Beirut, Syamilah

Leave a Reply