Home / Bahasa Arab / Keunikan-Keunikan Bahasa Arab [Bag. 3]

Keunikan-Keunikan Bahasa Arab [Bag. 3]

>>ada pola dan cetakan kata [wazan] untuk mencetak kata

Ini mempermudah kita agar mengetahui kata dan lebih mudah menghapalnya. Ini yang dikenal dengan istilah [وزن] “wazan” yang terangkum dalam ilmu shorof bahasa Arab. Kita tinggal menghapal pola dan cetakan “wazan” atau yang disebut “tahsrif”, maka kita bisa memproduksi atau melahirkan berbagai macam kata.

Wazan” tersebut diwakili oleh kata [فعل] dengan huruf [ف] sebagai wakil huruf pertama dan [ع] wakil huruf kedua dan  [ل] wakil huruf ketiga huruf ketiga. Contoh sederhananya adalah,

Ada pola tashrif,

[فعل – فاعل – مقعول] “fa’ala – faa’ilun – maf’ulun”, penjelasannya,

-[ فعل] “fa’ala” = kata kerja

-[ فاعل] “faa’ilun” = cetakan kata yang berarti pelaku atau yang melakukan pekerjaan/perbuatan

-[ مقعول] “maf’uulun” = cetakan kata yang berarti objek atau yang dikenai pekerjaan/perbuatan

Maka, dengan kita tahu ada kata kerja [خلق] “khalaqa”= menciptakan, maka kita tahu dengan “Wazan”/cetakan kata ,

-[ فاعل]à [خالق] “khaaliqun” =pelakunya, yaitu yang menciptakan, serapan bahasa Indonesia= “khaliq” yaitu Tuhan

-[ مقعول]à [مخلوق] “makhluqun” =objeknya, yaitu yang diciptakan, serapan bahasa Indonesia= “makhuk”

Contoh lagi, kata kerja [علم] “’alima”=mengetahui, kita akan tahu

-[ فاعل]à [عالم] “Aalimun”= pelakunya, yaitu yang mengetahui, serapan bahasa Indonesia= “alim” yaitu pintar, pintar agama

-[ مقعول]à [معلوم] “ma’luumun”= yang diketahui, serapan bahasa Indonesi= “maklum”

Contoh lagi, kata kerja [كتب] “kataba” =menulis, kita akan tahu,

-[ فاعل]à [كاتب] “kaatibun”=pelakunya, yaitu yang menulis atau sekretaris

-[ مقعول]à [مكتوب] “maktuubun”= yang ditulis/tertulis, serapan bahasa Indonesia= “maktub” yaitu tertulis

Bagaimana, mudah dan sederhana bukan?

>> mempunyai kaidah struktur bahasa yang lebih sempurna

Bahasa Arab mengenal istilah maskulin [muzakkar] dan feminin [muannats]. Dan yang lebih membuatnya sempurna dalam bilangan dikenal juga penggunaan double/dua-an [mutsanna] yang sangat jarang ditemui dalam bahasa yang lain. Sehingga dalam bilangan dikenal istilah tunggal [mufrad], dua-an [mutsanna] dan jamak [jam’]. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.
التلميذ يذهب إلى المدرسة – Pelajar (lelaki) itu pergi ke sekolah
التلميذة تذهب إلى المدرسةِ – Pelajar (perempuan) itu pergi ke sekolah
التلميذان يذهبان إلى المدرسةِ – Dua orang pelajar (lelaki) itu pergi ke sekolah
التلميذتان تذهبان إلى المدرسةِ – Dua orang pelajar (perempuan) itu pergi ke sekolah
التلاميذ يذهبون إلى المدرسةِ – Pelajar-pelajar (lelaki) itu pergi ke sekolah
التلميذات يذهبن إلى المدرسةِ – Pelajar-pelajar (perempuan) itu pergi ke sekolah

Begitu juga dengan kata kerjanya, lebih lengkap. Kata kerja lampau [madhi], kata kerja sekarang dan akan datang [mudhari’], dan yang membuatnya lebih lengkap ada kata kerja perintah [‘amr]. Perhatikan contoh berikut,
ذهب الولدُ إلى المدرسةِ – anak laki-laki itu (telah) pergi ke sekolah
يذهب الولد إلى المدرسة – anak laki-laki (sedang) pergi ke sekolah
إذهب إلى الدرسة – Pergilah [kamu anak laki-laki] ke sekolah.

>> mengandung informasi yang padat dan ringkas

Hanya dengan beberapa huruf yang menyusun kata, Bahasa Arab bisa mengungkapkan banyak ungkapan. Kita ambil contoh kata [عين] “’ain” yang umumnya dikenal artinya: mata, maka jika kita membuka kamus artinya sangat banyak yaitu:

manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.

Kemudian dalam bahasa Arab juga dikenal istilah pembuangan kata atau kata yang disembunyikan yang dikenal dengan istilah “mahdzuf”. Contohnya,

Pada kalimat syahadat [لا أله ألا الله] maka bukan artinya,

-[لا ]=tiada

-[أله]=tuhan

-[ألا]=selain

-[الله]=Allah

Karena arti ini salah besar, karena ada Ada khabar yang [محذوف] dibuang/tidak ditampakkan. Khabar yang dibuang tersebut adalah [حق atau بحق] “haqqun atau bihaqqin”.

Maka makna syahadat yang benar adalah,

لا معبود حق ألا الله

“tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah”

 

Kata [حق atau بحق] “haqqun atau bihaqqin” berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah (sesembahan) yang Haq (benar), adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya adalah (sesembahan) yang Bathil.” [QS. Luqman: 30].

Begitu juga tafsir para ulama, Ibnu Katsir menafsirkan surat Al-Qashash:70, At-Thabari menafsirkan surat Al-An’am:106, As-Suyuti menafsirkan surat Al-Baqarah: 255. Dan banyak ulama yang lainnya

Contoh yang lain firman Allah dalam surat Yusuf Ayat 82,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا

Arti perkata adalah: “Tanyalah kepada kampung yang kami tinggal padanya”

Namun ada kata yang “mahzuf”/dibuang yaitu [أهل] “ahli” /penduduk yaitu “mudhaf” dari [الْقَرْيَةَ]

Abul Baqa’ Al-‘akbariy rahimahullah menjelaskan tentang ini,

قوله تعالى: (واسأل القرية) : أي أهل القرية ; وجاز حذف المضاف ; لأن المعنى لا يلتبس.

“Firman Allah, “tanyalah kepada kampung” yaitu, penduduk kampung, boleh membuang [mahzuf] mudhaf, karena maknanya tidak menjadi rancu.” [At-Tibyan fi I’rabil Qur’an 2/742, Asy-Syamilah]

Jadi arti yang tepat adalah: ““Tanyalah kepada penduduk kampung yang kami tinggal padanya”

Oleh karena itu, belum pernah ada satupun terjemahan Al-Qur’an yang lebih singkat dari bahasa arab aslinya.

>> lebih mudah dihapalkan

Ini karena adanya “wazan” atau cetakan/pola kata yang sudah kami jelaskan sebelumnya. Dengan adanya cetakan kata tersebut lidah dan lisan kita akan terbiasa mengucapkannya. Dan sesuatu yang sudah terbiasa kita ucapkan maka akan lebih mudah dihapalkan

Selain itu, bahasa Arab seakan-akan tiap kata bisa disambung bacaannya. Jadi seakan-akan beberapa kata tersebut kita sambung terus, sebagaimana kita membaca Al-Quran. Ini karena struktur bahasa arab yang mendukung seperti adanya [ال] “alif lam”, dan ada kaidah penyambungan tiap kata.

Mungkin bisa kita buktikan, jika kita menghapal Al-Quran tiap kata kita putus-putus cara bacaannya, maka kita agak kesusahan. Berbeda jika kita menyambung tiap kata maka akan memudahkan, contohnya Basmalah,

Jika kita hapal [ب – اسم – الله – الرحمان – الرحيم] “bi – ismi – Allahi – Ar-Rahmani- Ar-Rahimi”

Maka kita akan agak kesusahan, tetapi jika kita sambung, maka akan memudahkan sebagaimana kita membaca basmalah.

Terbukti bahwa orang-orang Arab sekalipun Arab badui [kampung] hapalannya kuat dan mampu menghapal beribu-ribu bait syair. Mampu menceritakan banyak cerita sejarah hanya berdasarkan hapalan, sehingga dahulu tulis-menulis dikalangan mereka kurang berkembang, karena jika mudah dihapal maka tidak perlu ditulis. Ditambah lagi mereka dianugrahkan kekuatan hapalan.

Bukti lainnya, banyak orang yang tidak mengenal dasar bahasa Arab sekalipun tetapi mampu menghapal 30 juz Al-Quran dengan hapalan yang kokoh dan tanpa cacat tiap kata bahkan huruf.

>>memiliki gaya bahasa yang membuat tidak bosan membaca dan mendengarnya

Jika kita mendengar atau membaca perkataan atau suara lainya, maka kita akan bisa bosan. Akan tetapi Al-Quran yang menggunakan bahasa Arab, maka kita tidak akan pernah bosan membacanya dan mendengarnya.

Kita ambil contoh surat Al-Fatihah, telah dibaca orang berkali-kali tak terhitung baik di dalam shalat atau di luar shalat, dan belum pernah ada orang yang merasa jemu, bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Yang mereka dapatkan bahwa bacaan Al-Qur’an itu terasa sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang tidak tahu bahasa Arab. Bagaimana lagi yang mengerti bahasa arab tentu lebih menyentuh.

Kemudian salah satu yang membuat kita tidak bosan contohnya adalah variasi dhamir/ kata ganti dan pergesaran penggunaannya dalam satu konteks kalimat dalam bahasa Arab. Maka kadang kita jumpai bahwa Allah Ta’ala menggunakan kata “Aku” dan kadang “Kami”.

[pembahasan yang lengkap silahkan lihat kitab Ushuul fii tafsiir karya syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab Dhamir, Al-Idzhar fii maudi’il idhmar, dan Al-Iltifat]

Faidah mengenai dhamir/kata ganti diatas:

-kamu untuk satu orang bahasa Arabnya [أنت] “anta”

Sedangkan, Kalian [banyak orang] bahasa Arabnya [أنتم] “antum”

Tetapi sering kita memanggil satu orang dengan[أنتم] “antum”, faidahnya yaitu ini menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara

-Allah kadang menyebut dirinya dengan menggunakan bentuk jamak yaitu “Kami”, maka ini menunjukkan kebesaran dan kesombongan Allah, maka ini adalah hak Allah. Faidah ini sekaligus menjawab syubhat orang Nasrani yang mengatakan bahwa tuhan itu tiga sehingga Allah menngunakan “Kami” ketika berbicara.

INSYA ALLAH BERSAMBUNG…

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

1 Dzulhijjah 1432 H, Bertepatan  28 oktober 2011

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis.

Artikel https://muslimafiyah.com

artikel terkait:
1. Keunikan-Keunikan Bahasa Arab [Bag. 1]

2.Keunikan-Keunikan Bahasa Arab [Bag. 2]

3.Keunikan-Keunikan Bahasa Arab [Bag. 4]

Leave a Reply