Home / Aqidah / Gen Pintar Dan Gen Ganteng, Ada Gen Shalih Dan Shalihah Juga Lho..!

Gen Pintar Dan Gen Ganteng, Ada Gen Shalih Dan Shalihah Juga Lho..!

dna_rgb

 Konon, ada berita bahwa mantan presiden kita yang terkenal pintar dan jenius hafidzahullahu diminta agar sperma beliau ditampung di bank sperma untuk program bayi tabung, sehingga menghasilkan manusia-manusia super jenius, wallahu a’lam. Begitu juga jika seseorang memilih jodoh salah satu yang jadi pertimbangan adalah bagaimana “otaknya”.

 

Ilmu pewarisan gen dalam Islam

Memang Islam mengakui ilmu gen pewarisan DNA, yaitu sifat dan fisik seseorang bisa di turunkan kepada anak-cucu keturunannya.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu ia berkata,

يا رسول الله! ولد لي غلام أسود! فقال: “هل لك من إبل“؟ قال: نعم، قال: “ما ألوانها“؟ قال: حمر، قال: “هل فيها من أورق“؟ قال: نعم، قال: “فأنى ذلك“؟ قال: لعله نزعه عرق، قال: “فلعل ابنك هذا نزعه عرق“

“Wahai Rasullullah! “Ya Rasulullah, isteriku melahirkan anak yang berkulit hitam”. [ia dan istrinya tidak berkulit hitam -pent] Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apakah kamu memiliki unta? Ia menjawab : “Ya”, Nabi berkata : “Apa saja warnanya?” Ia menjawab : “Merah”, Nabi berkata : “Apakah ada yang berwarna keabu-abuan?” Ia menjawab : “Ya”, Nabi berkata : “Mengapa demikian?” Ia menjawab ”Boleh jadi karena faktor keturunan/genetika”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ”Anakmu yang berkulit hitam itu boleh jadi karena faktor keturunan/genetika.[1]

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata,

فدل هذا على أن للوراثة تأثيراً ولا ريب في هذا… أن للوراثة تأثيراً في خُلق الإنسان وفي خِلقته

“Hadits di atas menunjukkan bahwa faktor genetika itu mempengaruhi keturunan dan hal ini adalah hal yang tidak diragukan lagi… faktor genetika itu memiliki pengaruh pada akhlak dan kondisi fisik keturunan.”[2]

 

Gen shalih dan shalihah

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)

Al-Qurthubi rahimahullahu menafsirkan,

ففيه ما يدل على أن الله تعالى يحفظ الصالح في نفسه وفي ولده وإن بعدوا عنه. وقد روي أن الله تعالى يحفظ الصالح في سبعة من ذريته

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menjaga keshalihan seseorang dan menjaga keshalihan anak keturunannya meskipun jauh darinya [beberapa generasi setelahnya –pent]. Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga keshalihan pada generasi ketujuh dari keturunannya.[3]

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya [Ath Thuur: 21]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan,

ذريتهم الذين اتبعوهم بإيمان أي: الذين لحقوهم بالإيمان الصادر من آبائهم، فصارت الذرية تبعا لهم بالإيمان، ومن باب أولى إذا تبعتهم ذريتهم بإيمانهم الصادر منهم أنفسهم، فهؤلاء المذكورون، يلحقهم الله بمنازل آبائهم في الجنة وإن لم يبلغوها، جزاء لآبائهم، وزيادة في ثوابهم، ومع ذلك، لا ينقص الله الآباء من أعمالهم شيئا

“keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua/kakek-buyut mereka. maka keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Maka lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Mereka yang disebut ini, maka Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua/kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya [kedudukan anak lebih rendah dari orang tua –pent], sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. akan tetapi dengan hal ini, Allah tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”[4]

 

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

11 Rajab 1433 H, Bertepatan  1 Juni 2012

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 

 

 

 


[1]HR. Bukhari no. 6847 dan Muslim no. 1500

[2] http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6411.shtml

[3] Al-Jami’ liahkamil Quran 39/11, Darul Kutubil Mishriyah, Koiro, cet. Ke-2, 1384 H, Syamilah

[4] Taisir Karimir rahmah hal  780, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet.I, 1424 H

5 Comments

  1. abgan simorange says:

    mohon maaf jika menulis hadist agar dilengkapi dengan para perawinya biar pembaca gk bertanya-tanya siapa perawi hadist ini dan keshahehannya kaya’ gimana

    • Raehan says:

      terima kasih atas masukannya, saya memilih meringkas dan tanpa menyebutkan perawi agar memudahkan pembaca yg rata2 masih awam, tidak terlalu ribet dan memenuhi tulisan

  2. Ummu Abdullaah says:

    Assalamu’alaikum ustadz. Ana mulai mengenal manhaj salaf sejak kurang lebih 4 tahun lalu, di saat usia ana sudah mencapai 30+ tahun. Saat ini ana berusia 37 tahun. Akan tetapi rasanya belum ada perubahan signifikan dalam diri ana. Apakah ini disebabkan karena orangtua ana pelaku kesyirikan dan bid’ah, sehingga ana terhalang dari hidayah taufik?

    Ayah ana dinyatakan MIA saat bekerja di luar negeri, ketika usia ana masih 14 tahun. Ana mengalami physical & verbal abuse dari ibu ana sejak masih usia TK, beliau juga sering mengajak ana ke dukun, tidak mengajari peribadatan yang benar, ana dibiarkan berpacaran, bahkan hingga hari ini dalam keadaan ana kesulitan finansial (pasca taubat dari menuntaskan hutang riba dan membiayai 3 orang anak ana) beliau enggan membagikan hak waris dari ayah kepada anak-anaknya, namun beliau menuntut ana menjadi anak yang berbakti, mengikuti segala perintahnya (padahal menyelisihi syariat). Apabila ana menasihati beliau tentang syariat, ana pun tidak dianggap karena ana miskin.

    Mengapa ana tidak mendapatkan hidayah taufik untuk bisa mencintai ibu ana sendiri ya ustadz?

    • Wa’alaikumussalam,
      doakan terus ibu anda dan.maafkan masa lalunya,
      Bnyak skali kepada engkau kebaiknnya…

      Berdoalan dn minta kepada Allah

      • Ummu Abdullaah says:

        Jazaakallaah khairan ustadz, ana berusaha.

        Teman ana membagikan sedikit nukilan dari sebuah seminar parenting, dijelaskan bahwa saat ortu memberi stimulasi positif ada aliran2 listrik ringan ke dalam otak.menyambungkan syaraf2 otak anak. Tapi saat ortu membentak mereka…ternyata masuk aliran listrik yang terlalu besar sehingga membuat korsleting dan menghancurkan beberapa sambungan yg sampai ajal tidak akan pernah tersambung lagi.

        Ana merasa itulah yang terjadi pada ana ustadz. Tak hanya verbal abuse yang ana alami, bahkan lebih sering physical abuse. Mohon doakan ana agar Allah mengobati hati ana ustadz

Leave a Reply