Akibat Belajar Suka Loncat-Loncat, Akhlak Tidak Mencerminkan Ilmu

[Rubrik: Faidah Ringkas]
Di antara fenomena yang menimpa sebagian kita atau saudara-saudara kita adalah ketika seseorang mulai rajin mengaji dan bersemangat belajar agama, namun alih-alih akhlaknya semakin baik, justru menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Setelah ngaji lisannya semakin pedas, wajahnya tampak garang, ketika bermuamalah tidak amanah, dan berbagai sikap buruk lainnya.
Tentu fenomena seperti ini hanya terjadi pada sebagian orang. Adapun mereka yang semakin baik akhlaknya dan semakin lembut tutur katanya jauh lebih banyak.
Anomali seperti ini bisa jadi disebabkan oleh kekeliruan dalam metode belajar. Sebab, ketika ilmu tidak melahirkan akhlak yang baik, berarti ada sesuatu yang keliru sejak awal proses menuntut ilmu. Ada anak tangga yang terlewati, padahal ia merupakan fondasi yang sangat penting, yaitu pelajaran tentang adab dan akhlak.
Materi-materi seperti pentingnya amanah, tercelanya sifat tamak terhadap harta, sikap qanaah terhadap rezeki, menjaga lisan, serta adab bermuamalah secara umum, sejatinya merupakan pelajaran dasar dalam kurikulum belajar agama apabila seseorang menempuh metode belajar yang benar.
Sebagai contoh, kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah hampir selalu dimasukkan oleh para ulama sejak dahulu sebagai bagian dari kurikulum dasar penuntut ilmu. Kitab yang menghimpun 42 hadits ini memuat pokok-pokok ajaran Islam, termasuk berbagai adab dan akhlak yang menjadi fondasi kehidupan seorang muslim.
Bahkan ketika seseorang mulai rutin belajar kepada seorang guru, proses pembelajaran adab tidak hanya diperoleh melalui textbook (materi pelajaran). Ia juga belajar dari cara gurunya berbicara, bersikap, dan bermuamalah. Seorang penuntut ilmu mungkin sedang mempelajari akidah atau fikih, tetapi pada saat yang sama ia juga sedang mempelajari adab melalui perilaku gurunya. Inilah salah satu metode para ulama salaf dalam menuntut ilmu.
Imam Malik rahimahullah saat masih kecil dan hendak belajar kepada gurunya, Rabi’ah, beliau menceritakan tentang kebiasaan ibunya:
كانت أمي تعممني وتقول لي: اذهب إلى ربيعة فتعلم من أدبه قبل علمه
“Ibuku memakaikanku sorban lalu berpesan kepadaku: ‘Pergilah kepada Rabi’ah. Pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya’.” (Tartibul Madarik, 1/130)
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah juga menceritakan keadaan majelis Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت
“Yang menghadiri majelis Imam Ahmad berjumlah sekitar lima ribu orang atau lebih. Sekitar lima ratus orang mencatat pelajaran, sedangkan sisanya belajar dari keluhuran adab dan kepribadiannya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 11/316)
Oleh karena itu, kekeliruan dalam manhaj (metode) belajar agama bisa berdampak pada pembentukan akhlak seseorang. Ketika pelajaran-pelajaran dasar tentang adab terlewatkan atau seseorang tidak menjadikan gurunya sebagai teladan dalam akhlak, maka ilmu yang diperolehnya tidak memberikan bekas pada perilakunya.
Akibatnya, kita menjumpai orang yang rajin menghadiri majelis ilmu, tetapi ketika bermuamalah tidak amanah, ketika berbicara lisannya tajam, atau ketika berinteraksi dengan keluarganya justru kasar dan pelit. Ironisnya, bisa jadi ia sangat ramah dan dermawan kepada teman-teman pengajiannya, tetapi berbeda sikap ketika berada di rumah bersama istri dan anak-anaknya.
Ilmu yang benar semestinya membuahkan akhlak yang baik. Semakin bertambah ilmu seseorang, seharusnya semakin tampak pula kerendahan hati, kelembutan lisan, amanah dalam bermuamalah, dan kasih sayangnya kepada orang lain. Jika yang bertambah hanya pengetahuan, sementara akhlaknya tidak berubah atau bahkan semakin buruk, maka sudah semestinya ia mengoreksi kembali cara ia belajar dan meniti jalan menuntut ilmu.
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)



