Berikan Alternatifnya Ketika Kita Berkata “Jangan” kepada Anak

[Rubrik: Faidah Ringkas]
Sebagai orang tua, kita tentu sering melarang anak melakukan sesuatu. Namun, terkadang ketika kita melarangnya, alih-alih berhenti, anak justru tetap melakukan hal yang kita larang. Kita berkata, “Jangan berisik!” tetapi anak tetap saja berisik. Kita berkata, “Jangan lari!” tetapi ia tetap berlari. Lantas, apakah orang tua sebaiknya tidak menggunakan kata “jangan” ketika berkomunikasi dengan anak?
Sebenarnya, menggunakan kata “jangan” untuk melarang anak bukanlah sesuatu yang keliru. Ada kalanya larangan yang tegas memang diperlukan, terutama ketika anak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya atau orang lain. Namun, pada anak yang masih kecil, larangan yang hanya berupa kata “jangan” terkadang kurang efektif.
Salah satu alasannya adalah anak kecil belum selalu mampu memahami maksud larangan yang abstrak. Ketika kita mengatakan, “Jangan lari!”, anak mungkin memahami bahwa ia tidak boleh berlari, tetapi belum tentu tahu apa yang seharusnya ia lakukan sebagai gantinya. Akibatnya, instruksi yang kita berikan belum tentu dipahami sebagaimana yang kita harapkan.
Lantas, bagaimana agar komunikasi kita dengan anak menjadi lebih efektif?
Salah satu caranya adalah dengan memberikan instruksi yang jelas mengenai perilaku yang kita harapkan, bukan hanya menyebutkan perilaku yang harus dihindari. Dengan demikian, anak tidak sekadar mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga memahami apa yang sebaiknya ia lakukan.
Misalnya, daripada hanya berkata, “Jangan lari!”, kita bisa mengatakan, “Nak, jalan pelan-pelan, ya. Nanti kalau berlari di sini kamu bisa jatuh.” Instruksi tersebut lebih jelas karena anak mendapatkan arahan tentang perilaku yang diharapkan sekaligus alasan di balik arahan tersebut.
Cara ini juga sejalan dengan sebuah kaidah yang dinukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:
النفوس لا تترك شيئا إلا بشيء
“Jiwa tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali dengan sesuatu yang lain sebagai gantinya.” (Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim,2/125)
Kaidah ini mengingatkan kita bahwa meninggalkan suatu kebiasaan atau perilaku akan lebih mudah apabila tersedia alternatif yang bisa dilakukan sebagai gantinya.
Ketika kita meminta anak meninggalkan sesuatu, akan lebih baik jika kita juga menunjukkan apa yang bisa ia lakukan sebagai pengganti. Dengan begitu, anak tidak hanya berhadapan dengan larangan, tetapi juga mendapatkan arahan yang konkret.
Misalnya, ketika anak berlari di dalam rumah, kita bisa mengatakan, “Nak, jangan berlari di dalam rumah, ya. Nanti kamu bisa terpeleset. Kalau mau ke sana, jalan pelan-pelan saja.”
Atau ketika kita khawatir anak terpengaruh oleh perilaku buruk temannya, kita bisa menjelaskan dengan tenang, “Nak, Abi khawatir kalau kamu sering bermain dengannya, kamu ikut terbiasa berkata-kata kasar. Abi ingin kamu berteman dengan teman-teman yang bisa saling mengajak kepada kebaikan. Yuk, kita bermain bersama teman yang itu.”
Intinya, jangan hanya berfokus pada perilaku yang ingin kita hentikan, tetapi tunjukkan juga perilaku yang kita harapkan sebagai gantinya. Dengan cara ini, komunikasi kita menjadi lebih jelas, dan anak memiliki arahan yang lebih konkret untuk diikuti.
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)



