Jangan Ingin Instan Jadi Kaya

[Rubrik: Faidah Ringkas]
Kita mungkin sering melihat konten-konten bertajuk cara cepat jadi kaya, cara instan menjadi sukses, cara mendapatkan omzet satu miliar dalam sebulan, cara membangun bisnis hingga memiliki banyak cabang hanya dalam setahun, dan berbagai judul bombastis lainnya. Konten-konten seperti ini tersebar di mana-mana, baik dalam bentuk tulisan, video pendek, maupun podcast.
Pematerinya menyampaikan pengalaman dan ilmunya dengan sangat meyakinkan. Semuanya tampak nyata dan masuk akal. Kita pun tertarik menyimaknya hingga selesai, sambil diam-diam memupuk harapan untuk meraih kesuksesan yang sama.
Entah mengapa, manusia memang sangat menyukai sesuatu yang instan. Terlebih pada zaman sekarang, ketika hampir semua kebutuhan dapat diperoleh dengan cepat. Makanan tinggal diseduh, belanja cukup dengan beberapa kali klik, belajar tinggal mengunduh materi, dan berbagai kemudahan lainnya. Tanpa disadari, kita pun terbiasa menginginkan segala sesuatu serba cepat dan mulai alergi dengan sesuatu yang lambat.
Padahal, sering kali kita keliru memahami kisah sukses yang ditampilkan.
Benar, bagi orang tersebut mendapatkan penghasilan dalam jumlah besar mungkin hanya membutuhkan waktu singkat. Namun, itu adalah hasil dari perjalanan panjang yang telah ia lalui selama bertahun-tahun. Sebelum berada pada titik itu, bisa jadi ia telah berkali-kali gagal, mengalami kebangkrutan, ditinggalkan orang kepercayaan, ditipu oleh rekan bisnis, bahkan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami seluk-beluk usahanya. Semua pengalaman itulah yang akhirnya membentuk insting dan kematangannya dalam berbisnis.
Sementara itu, orang yang baru mengenal kisahnya melalui satu video berdurasi satu jam atau potongan video satu menit tentu tidak mungkin dapat meniru hasil akhirnya begitu saja. Yang terlihat hanyalah puncak gunung es, sedangkan bagian terbesar yang berada di bawah permukaan tidak pernah terlihat. Ada satu hal yang tidak bisa dilewati oleh siapa pun: proses.
Sesungguhnya Allah sendiri telah mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang bernilai tidak diciptakan secara instan.
Lihatlah bagaimana manusia diciptakan. Pada awalnya kita hanyalah setetes mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging. Setelah berlalu seratus dua puluh hari, barulah ruh ditiupkan, kemudian kita tumbuh sedikit demi sedikit hingga akhirnya lahir ke dunia.
Padahal Allah Maha Kuasa untuk menciptakan manusia dalam sekejap. Namun Allah memilih menciptakannya melalui tahapan-tahapan. Ini mengajarkan bahwa proses merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya. Selama empat puluh hari berupa setetes mani, kemudian selama itu pula menjadi segumpal darah, kemudian selama itu pula menjadi segumpal daging. Setelah itu diutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan menuliskan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia celaka atau bahagia.” (HR. Bukhari no. 6594 dan Muslim no. 2643)
Karena itu, nikmatilah setiap proses. Jangan terburu-buru ingin memetik hasil sebelum waktunya. Sesuatu yang benar-benar bernilai hampir selalu membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sikap tenang dan tidak tergesa-gesa berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, IV/206 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, X/104; dinilai hasan oleh Al-Albani)
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)



