Ketika Penegak Hukum Malah Melanggar Hukum

[Rubrik: Faidah Ringkas]
Mungkin bukan lagi berita yang mengejutkan ketika kita mendengar adanya oknum penegak hukum yang justru melanggar hukum. Sebaliknya orang yang dirampok malah dipenjara, orang yang tidak bersalah justru dihukum, korban dikriminalisasi sementara pelaku dilindungi. Sungguh sebuah ironi.
Seharusnya penegak hukum menjadi garda terdepan dalam menegakkan keadilan, bukan justru menjadi pelopor kezaliman. Ketika masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjaga hak-hak mereka, jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau golongan dengan memanfaatkan kekuasaan untuk menindas. Jika hal itu terjadi, maka tak ubahnya seperti hukum rimba, hukum tidak lagi ditegakkan berdasarkan bukti dan kebenaran, melainkan berdasarkan dominasi dan intimidasi.
Para penguasa beserta orang-orang yang membantu mereka dalam menzalimi manusia telah mendapatkan ancaman yang sangat keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi lalu mereka mencambuk manusia dengannya. Dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim, no. 2128)
Ketika menjelaskan golongan pertama dalam hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنه سيكون صنفان من الناس لم يرهم النبي صلى الله عليه وسلم ؛ الصنف الأول يتضمن العدوان على الناس بغير حق مستخدماً سلطته في العدوان عليهم ، وهم قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ، يعني بغير حق. قال أهل العلم : وهؤلاء هم الشُرَط، شُرَط الظلمة الذين يضربون الناس بغير حق فهم من أهل النار ؛ لأن من أعان ظالماً لحقه من إثمه ما يستحق.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa akan muncul dua golongan manusia yang belum pernah beliau lihat. Golongan pertama adalah orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia tanpa hak dengan memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki untuk menindas. Mereka membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi, lalu memukuli manusia tanpa alasan yang dibenarkan.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah para aparat yang menjadi kaki tangan penguasa zalim, yang memukuli manusia tanpa hak. Mereka termasuk penghuni neraka, karena siapa saja yang membantu orang zalim, maka ia akan memperoleh bagian dosa sesuai kadar keterlibatannya…” (Silsilah Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, kaset no. 321)
Namun sebagai seorang muslim, kita tidak boleh berhenti pada sikap menyalahkan penguasa semata. Syariat juga mengajarkan kita untuk melakukan muhasabah terhadap diri sendiri.
Boleh jadi sebagian kezaliman yang menimpa suatu masyarakat merupakan akibat dari kezaliman yang tersebar di tengah masyarakat itu sendiri. Ketika kezaliman menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, jangan heran jika orang-orang yang lahir dari masyarakat tersebut kemudian melakukan kezaliman ketika memperoleh kekuasaan.
Misalnya, seorang suami menzalimi istrinya. Seorang teman mengkhianati temannya. Seorang pedagang berbuat curang. Seorang pegawai tidak amanah. Seorang kasir mengambil hak yang bukan miliknya. Seorang tukang parkir memeras pengendara. Jika pengkhianatan terhadap amanah telah menjadi kebiasaan di berbagai lapisan masyarakat, maka bukan sesuatu yang mengherankan apabila sebagian pemimpin yang muncul dari masyarakat tersebut juga memiliki sifat yang sama.
Karena itu, memiliki pemimpin yang amanah dan berkompeten merupakan salah satu nikmat terbesar bagi sebuah negeri. Sebaliknya, ketika urusan diserahkan kepada orang yang tidak amanah atau tidak memiliki kapasitas, maka itu termasuk tanda-tanda kiamat yang tak akan bisa ditunda-tunda lagi datangnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR Bukhari, no. 59)
Oleh karena itu, selain mendoakan agar Allah memperbaiki para pemimpin negeri ini, jangan lupa memperbaiki diri kita sendiri. Semoga Allah memperbaiki keadaan negeri kita, memberikan kepada kita pemimpin-pemimpin yang amanah dan adil, serta menjauhkan kita dari kezaliman, baik sebagai rakyat maupun sebagai pemimpin.
اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا
“Ya Allah, jadikanlah orang terbaik kami sebagai pemimpin kami. Jangan Engkau berikan kekuasaan itu pada orang yang jahat dari kami.”
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)



