Home / Aqidah / Coretan Ringan Tentang Kaidah-Kaidah Memahami Asma’ dan Sifat Allah

Coretan Ringan Tentang Kaidah-Kaidah Memahami Asma’ dan Sifat Allah

coretan

Kami buat insyaAllah ringkas dan tidak berbelit agar memudahkan. Seperti “contekan” kecil.

 

Kaidah dalam asma’  Allah [nama-nama Allah]

Kaidah 1

Nama Allah semuanya “husna” mencapai puncak kebaikan/sempurna

Contoh: Ar-Rahman berarti rahmat Allah yang luas

Jika tidak husna, bukan nama Allah

Contoh: Ad-dahru [waktu]

dalam hadist {“jangan mencela ad-dahru, karena akulah “ad-dahru”}[1]

jawabannya: bukan nama Allah karena lanjutan hadist bahwa Allah mengatur waktu: {“ditanganku berbagai urusan, aku membolak-balikkan siang dan malam”}

Kaidah 2

Nama Allah tidak terbatas, hanya Allah yang tahu jumlahnya

Dalilnya hadits, {“ya, Allah aku memohon kepadamu dengan perantara semua namamu, yang engkau namakan diri-Mu, yang engkau turunkan dalam kitab-Mu, yang engkau ajarkan kepada salah satu hamba-Mu [Muhammad], yang engkau simpan dalam ‘ilmu ghoib-Mu}[2]

 

Adapun hadist, {sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama…}[3], maka tidak membatasinya

Logikanya: “saya punya uang 1000 rupiah”, maka uang saya tidak terbatas 1000 rupiah saja, masih ada di tabungan juga.

 

Kaidah 3

Nama Allah taufiqiyah [berdasarkan wahyu Al-Quran dan As-sunnah], tidak boleh dibuat-buat

Misalnya, tidak boleh: Allah ada maka namanya “wujud”,  Allah yang paling awal maka namanya “Qidam”, Allah kekal maka namanya “Baqa”,

 

Kaidah 4

Setiap nama Allah pasti mengandung sifat, sedangkan sifat Allah belum tentu menjadi nama Allah

Contoh: Al-ghafir, maka sifat Allah pasti Maha Mengampuni

Sifat Allah yang turun kelangit dunia sepertiga malam, maka bukan nama Allah “An-Naazil”/yang turun.

 

Kaidah dalam sifat Allah

Perlu diketahui sebelumnya bahwa kata [صفة] “sifat” dalam bahasa Arab lebih luas dari “sifat” dalam bahasa indonesia, sifat dalam bahasa Arab artinya segala sesuatu yang melingkupinya.

Misal: sifat sholat nabi

Maka, Allah tertawa, punya tangan, marah, datang, turun sepertiga malam disebut sifat.

 

Kaidah 1

Semua sifat Allah mulia dan sempurna serta tidak ada kekurangan

Bagaimana dengan Allah “menipu” dalam ayat {“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka”}[4]?

Menipu adalah sifat kurang sempurna, apakah Allah disifati dengan “penipu”?

Jawab: tidak “iya” dan tidak juga “bukan”, tetapi “Allah menipu orang-orang yang berhak ditipu”

 

Kaidah 2

Sifat Allah terbagi manjadi 2:

1. Sifat Tsubutiyah: sifat yang Allah tetapkan, misalnya hidup, ilmu dan qudrah
2. Sifat salbiyah: sifat yang Allah nafi’kan dari dirinya, misalnya dzalim dalam ayat {“dan Rabb-mu tidak mendzalimi sesuatupun”}[5]

Kaidah 3

Sifat tsubutiyah Allah terbagi 2:

1. Dzatiyah: Allah selalu bersifat seperti ini, misalnya mendengar dan melihat
2. Fi’liyah: sifat yang bergantung dengan kehendak Allah, misalnya istiwa’/bersemayam di atas ‘arsy

Bisa juga satu sifat dia juga Dzatiyah dan dia juga Fi’liyah ditinjau dari dua sisi, contoh al-Kalam/berbicara

Dzatiyah karena Allah selalu bersifat bebicara

Fi’liyah karena dilihat dari kapan kehendak Allah ingin berbicara

 

Kaidah 4

Sifat Allah dipahami secara hakikatnya bukan makna kiasan atau takwil

Contoh: istiwa’/bersemayam di atas ‘arsy bukan maknanya kiasan Allah itu istaula’/menguasai ‘arsy

Allah punya tangan, maka bukan ditakwil Allah punya kekuasaan.

 

Pahami secara hakikat, tidak perlu menanyakan bagaimana kaki Allah? Karena Allah tidak memberi tahu. Cukup percaya saja Allah punya kaki sebagaimana anda pahami kata “kaki” selama ini. Anda pasti sudah paham, kakinya ayam, kaki langit, kaki meja dan lain-lain.

 

Kaidah 5

Dalam sifat tidak boleh:

Tamtsil: menyerupakan dengan makhluknya, misal: tangan Allah seperti tangan raksasa

Takyif: mengumpamakan dengan sesatu yang tidak ada bandingannya, misal berkhayal tangan Allah seperti ini seperti itu.

Tafwid: menyerahkan pada Allah, tidak menetapkan dan tidak pula menafikkan. Contoh: ketika ditanya, “Apakah Allah punya tangan?” jawabannya: “Wallahu a’lam, saya tidak tahu, kita serahkan saja kepada Allah”.

Tahrif: menyelewengkan maknanya

Ta’til: meniadakan nama maupun sifat Allah

 

Kaidah yang kami bawakan Ini belum mencakup semua kaidah. Semoga pembahasan ringkas ini bermanfaat bagi kaum muslimin.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. 

Maraji’:

1.       Al-Quwa’idul mutsla fi sifatillahi wa asma’il husna, syaikh Ibnu Al-‘utsaimin, Darul Wathon, Riyadh.  

2.       Syarh lum’atul i’tiqod, syaikh Ibnu Al-‘utsaimin, cetakan pertama, Maktabah Al-‘ilmi, Kairo.

 

Disempurnakan Lombok, pulau seribu masjid

17 Syawwal 1432 H, Bertepatan  16 September 2011

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis.

 

catatan kaki:

[1]  HR. bukhari no.6182

[2] HR. Ahmad 1/391, dishohihkan oleh Al-Albani

[3] HR. Bukhari no. 2736

[4] An-Nisa’: 142

[5] Al-Kahfi: 49

Artikel http://muslimafiyah.com

One Comment

  1. cahyoaswaja says:

    Allah itu ada tanpa tempat…
    dan tidak ada satupun mahluk yang menyerupainya…

Leave a Reply