AqidahKisah

Apakah Nenek Moyang Manusia Modern adalah Manusia Purba?

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Sejak duduk di bangku sekolah, kebanyakan dari kita diperkenalkan dengan pembahasan tentang manusia purba sebagai nenek moyang manusia modern. Berdasarkan berbagai penelitian arkeologi, ditemukan fosil-fosil makhluk yang diperkirakan hidup jutaan tahun yang lalu dan memiliki bentuk yang mirip dengan manusia masa kini. Dari sinilah muncul teori bahwa manusia purba terus berevolusi hingga menjadi manusia modern seperti sekarang.

Premis ini kemudian memunculkan pertanyaan: bagaimana posisi keyakinan Islam yang meyakini bahwa nenek moyang seluruh manusia adalah Nabi Adam ‘alaihissalam? Apakah mungkin Nabi Adam sendiri termasuk manusia purba?

Tulisan ringkas ini tidak bertujuan membahas secara mendalam tentang penelitian ilmiah mengenai manusia purba. Namun, kami hanya ingin memberikan perspektif lain agar seorang muslim tetap tenang dengan akidahnya dan tidak merasa bingung menghadapi berbagai teori yang berkembang.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa penelitian tentang keberadaan manusia purba memang ada, dan fosil-fosil yang ditemukan menunjukkan bentuk yang menyerupai manusia modern. Perbedaannya pun tidak terlalu jauh, seperti tubuh yang lebih bungkuk, rahang yang lebih besar, atau ukuran otak yang berbeda. Bahkan sebagian bentuk fosil tampak seperti peralihan antara kera dan manusia. Dari sinilah sebagian kalangan, khususnya penganut teori evolusi beranggapan bahwa nenek moyang manusia modern berasal dari manusia purba dengan bentuk dan wajah mirip kera yang terus berevolusi.

Di sisi lain, ajaran Islam telah menegaskan bahwa nenek moyang manusia adalah Nabi Adam ‘alaihissalam. Ini merupakan bagian dari akidah yang diyakini oleh kaum muslimin. Nabi Adam tidak lahir dari manusia sebelumnya, tetapi diciptakan langsung oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.’” (QS. Al-Hijr: 28–29)

Seluruh ulama dan kaum muslimin sepakat bahwa ayat ini berbicara tentang proses penciptaan Nabi Adam sebagai manusia pertama. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian meniupkan ruh kepadanya sehingga jadilah ia manusia. Setelah itu, Allah menciptakan Hawwa dari tulang rusuk Adam. Dari keduanya, berkembanglah seluruh umat manusia. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa (Adam), lalu Allah menciptakan darinya pasangannya (Hawwa), dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 1)

Lalu bagaimana mengompromikan antara hasil penelitian tentang manusia purba dengan keyakinan Islam tentang Nabi Adam? Kita juga tidak bisa serta merta menolak hasil penelitian tentang manusia purba, sebab penelitian tersebut telah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah yang diterima dan diakui secara sains.

Sebagian kalangan berpendapat bahwa manusia purba dan Nabi Adam adalah dua jenis makhluk yang berbeda. Manusia purba mungkin memang pernah ada, tetapi mereka bukan nenek moyang manusia modern. Nabi Adam bukan berasal dari mereka, dan mereka juga bukan keturunan Nabi Adam. Mereka hidup jauh sebelum Nabi Adam diutus ke muka bumi.

Dalam perspektif ini, makhluk yang disebut “manusia purba” oleh para ilmuwan tidak termasuk manusia dalam pengertian syariat, meskipun secara bentuk menyerupai manusia. Dalam klasifikasi sains modern pun, sebagian fosil tersebut tidak dimasukkan ke dalam spesies Homo sapiens, melainkan disebut sebagai Homo erectus, Neanderthalensis, dan selainnya.

Sudut pandang seperti ini setidaknya dapat membantu sebagian muslim untuk memahami bahwa keberadaan manusia purba tidak otomatis membatalkan akidah Islam tentang Nabi Adam sebagai bapak seluruh manusia. Kita beriman bahwasanya nenek moyang kita adalah Nabi Adam yang diciptakan langsung dengan tangan Allah. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Allah berfirman, ‘Wahai Iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku?’” (QS. Shad: 75)

Dengan keistimewaan tersebut (yaitu diciptakan langsung dengan tangan-Nya), Nabi Adam menjadi manusia yang paling sempurna penciptaannya. Paling tampan, paling tinggi, dan paling indah, mengalahkan semua manusia yang datang setelahnya. Tentu ini bertolak belakang dengan keyakinan utama penganut teori evolusi Darwin yang meyakini bahwa manusia berasal dari hewan yang tidak indah lalu berevolusi secara bertahap hingga menjadi manusia yang indan nan elok.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang keyakinan bahwa manusia berasal dari kera. Beliau menjawab:

هذا القول ليس بصحيح أن أصل الإنسان قرد، واعتقاده كفر؛ لأنه تكذيب للقرآن، فإن الله تعالى بين أن خلق الإنسان أصله من طين بخلق آدم عليه الصلاة والسلام، وهو أبو البشر، ثم جعل الله تعالى نسله من سلالة من ماء مهين، والقرود المعروفة هي من جملة فصائل المخلوقات الأخرى، فهي مخلوقات نشأت هكذا لطبيعتها، أنشأها الله تبارك وتعالى على هذه الصفة كالحمير والكلاب والبغال والخيل والإبل والبقر والغنم والظباء والدجاج وغيرها

“Ucapan bahwa asal manusia adalah kera bukanlah ucapan yang benar. Meyakini hal tersebut adalah kekufuran, karena itu berarti mendustakan Al-Qur’an. Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa asal penciptaan manusia adalah dari tanah, yaitu dengan penciptaan Adam ‘alaihis shalatu was salam sebagai bapak manusia. Kemudian Allah menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani). Adapun kera-kera yang dikenal sekarang, maka mereka termasuk salah satu jenis makhluk ciptaan lainnya. Mereka memang diciptakan seperti itu sesuai tabiatnya. Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan mereka dalam bentuk tersebut, sebagaimana keledai, anjing, bagal, kuda, unta, sapi, kambing, rusa, ayam, dan hewan-hewan lainnya.” (Fatawa Nurun ‘alad Darb, rekaman no. 55)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

Konsultasi Kesehatan Mental

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button