AqidahKisah

Pandangan Syariat dan Sains Tentang Tinggi Nabi Adam ‘alaihissalam 30 Meter

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Belum lama ini kami pernah menulis artikel ringkas tentang nenek moyang manusia, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam. Beliau adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, dan seluruh manusia setelahnya merupakan keturunannya. Selengkapnya bisa baca di https://muslimafiyah.com/apakah-nenek-moyang-manusia-modern-adalah-manusia-purba.html

Dalam artikel tersebut dijelaskan pula bahwa Nabi Adam diciptakan langsung oleh Allah dengan kedua tangan-Nya. Karena itulah, Nabi Adam menjadi manusia yang paling sempurna penciptaannya. Di antara bentuk kesempurnaannya adalah beliau memiliki tinggi badan enam puluh hasta, atau kurang lebih setara dengan 30 meter. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الْآنَ

“Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta … Setiap orang yang masuk surga akan berada di atas bentuk Adam, dan manusia terus mengalami pengurangan ukuran hingga sekarang.” (HR. Bukhari no. 6227 dan Muslim no. 2841)

Tinggi manusia yang pada awalnya mencapai sekitar 30 meter itu kemudian terus berkurang dari generasi ke generasi selama ribuan tahun, hingga akhirnya menjadi seperti manusia zaman sekarang yang rata-rata tingginya berkisar antara satu hingga dua meter.

Namun, muncul berbagai narasi yang dianggap mewakili pandangan sains modern, yang menyatakan bahwa manusia dengan tinggi belasan hingga puluhan meter dianggap tidak mungkin hidup di bumi. Sederhananya, secara matematika, jika tinggi manusia dengan anatomi seperti sekarang dilipatgandakan (misal menjadi 15 kali lipat tinggi normal), maka massa tubuhnya akan meningkat secara eksponensial (kubik), sementara luas permukaannya hanya meningkat secara kuadratik. Sehingga akan terjadi ketidakproporsionalan, karena luas permukaannya (seperti penampang tulangnya) tidak akan sanggup menopang volume tubuhnya sendiri.

Belum lagi, manusia dengan ukuran sedemikian besar dinilai akan menghadapi berbagai persoalan biologis lain, seperti sistem pernapasan dan sirkulasi darah. Jantung akan membutuhkan tekanan yang sangat besar agar darah mampu mencapai otak melawan gravitasi. Belum lagi berbagai efek biologis lain yang menurut pendekatan sains modern tampak sulit dijelaskan.

Ditambah lagi, hingga saat ini belum ditemukan bukti arkeologis berupa fosil manusia dengan ukuran yang jauh lebih besar dibanding manusia modern, padahal fosil makhluk purba berukuran besar lainnya telah banyak ditemukan.

Lantas, bagaimana seorang muslim menyikapi hadits-hadits tentang tinggi Nabi Adam ini ketika tampak bertentangan dengan sudut pandang sains modern?

Tidak diragukan bahwa apa yang ditegaskan oleh nash hadits wajib kita imani. Terlebih lagi, riwayat tentang tinggi Nabi Adam tidak hanya datang melalui satu jalur, tetapi diriwayatkan dalam beberapa hadits shahih. Namun, sebagai usaha mencari jalan keluar dari kesan “pertentangan” ini, maka kita akan jawab dari beberapa pendekatan.

Pertama: Bisa jadi pemahaman sains saat ini belum final

Boleh jadi, pandangan sains tersebut masih belum tepat atau belum mencapai kesimpulan final. Sebab, tidak ada bukti ilmiah yang benar-benar pasti untuk menolak hadits tersebut. Banyak kesimpulan sains bersifat berdasarkan pengamatan yang terus berkembang. Apa yang hari ini dianggap sulit dipahami, bisa jadi di masa mendatang menemukan penjelasan baru seiring perkembangan ilmu pengetahuan.

Kedua: Bisa jadi jejak manusia bertubuh besar telah musnah

Sebagian berpendapat bahwa manusia-manusia bertubuh besar mungkin telah punah sejak peristiwa banjir besar pada zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam. Banjir tersebut bisa saja menghancurkan atau menghanyutkan sisa-sisa jasad dan kerangka mereka, sehingga tidak tersisa bukti yang dapat ditemukan hingga hari ini.

Ketiga: Tinggi 60 hasta terjadi saat Nabi Adam berada di surga

Sebagian ulama memiliki pendekatan lain, yaitu bahwa Nabi Adam diciptakan dengan tinggi 60 hasta ketika berada di surga. Namun, ketika diturunkan ke bumi, Allah mengurangi tinggi beliau agar sesuai dengan kondisi kehidupan dunia.

Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi Al-Yamani rahimahullah berkata:

قد يكون خلق ستين ذراعا، فلما أهبط إلى الأرض نقص من طوله دفعة واحدة ليناسب حال الأرض؛ إلا أنه بقي أطول مما عليه الناس الآن بقليل، ثم لم يزل ذلك القليل يتناقص في الجملة. والله أعلم

“Bisa jadi Adam diciptakan dengan tinggi enam puluh hasta, kemudian ketika diturunkan ke bumi tingginya dikurangi sekaligus agar sesuai dengan keadaan bumi. Namun, ia tetap lebih tinggi sedikit daripada manusia sekarang, lalu ukuran itu terus berkurang secara umum. Wallahu a’lam.” (Anwarul Kasyifah, hal. 187)

Berdasarkan pendapat ini, tidak harus dipahami bahwa Nabi Adam hidup di bumi dengan tinggi 30 meter. Bisa saja beliau diciptakan dalam bentuk yang sesuai dengan keadaan surga dan para penghuninya. Kemudian ketika diturunkan ke bumi, Allah menjadikannya sesuai dengan kondisi kehidupan dunia. Tetapi tidak banyak ulama yang secara tegas menyatakan bahwa tinggi enam puluh hasta itu hanya berlaku di surga dan bukan ketika Adam berada di bumi.

Masih ada penjelasan-penjelasan lain selain tiga pendekatan ini, namun tidak lepas dari unsur takalluf (pemaksaan penafsiran). Intinya, kesan pertentangan antara hadits tentang tinggi Nabi Adam dan sudut pandang sains modern masih mungkin dijawab dari beberapa sisi. Baik kita memahami bahwa Nabi Adam memang pernah hidup di bumi dengan tinggi tersebut, atau kita memilih pendapat bahwa ukuran itu berlaku ketika beliau berada di surga, keduanya tetap merupakan kemungkinan yang masih terbuka dalam pembahasan ilmiah. Wallahu a’lam.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

Konsultasi Kesehatan Mental

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button