Home / Bimbingan Islam / Benarkah “Mengobati Orang Sakit Dengan Sedekah”?

Benarkah “Mengobati Orang Sakit Dengan Sedekah”?

Ungkapan ini sedang berkembang dan populer, apalagi ada ustadz dengan jargon utamanya adalah memperbanyak sedekah atau memindahkan penyakit dengan bersedekah kambing. Apakah hal ini benar? Berikut pembahasannya

Sumber ungkapan ini adalah hadits yang diperselisihkan oleh ulama mengenai keshahihannya yaitu,

حصنوا أموالكم بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة، وأعدوا للبلاء الدعاء

“jagalah harta kalian dengan zakat, OBATILAH ORANG YANG SAKIT DI ANTARA KALIAN DENGAN SEDEKAH dan tolaklah bala’ dengan doa”[1]

Syaikh Al-Albani  rahimahullah berkata,

( ضعيف جدا ) انظر حديث رقم : 2724 في ضعيف الجامع

lemah sekali, lihat hadist no. 2724 dalam dhaif Al-jaami’”[2]

Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,

هذا الحديث رواه أبو نعيم في الحلية في ترجمة الأسود النخعي ثم رواه في ترجمة إبراهيم النخعي عن موسى بن عمير عن الحكم عن إبراهيم عن الأسود عن عبد الله بن مسعود قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حصنوا أموالكم بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة، وأعدوا للبلاء الدعاء ثم قال: غريب من حديث إبراهيم والحكم تفرد به موسى ومن هذه الطرق والمتابعات يعلم أنه حديث له أص

“Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah pada biografi Al-Aswad An-Nakha’i kemudian ia meriwayatkan pada biografi Ibrahim An-nakha’i dari Musa dari ‘Umair dari Al-Hakam dari Ibrahim dari Al-Aswad dari Ibnu Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” jagalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah dan tolaklah bala’ dengan doa”, kemudian ia berkata, gharib dari hadits Ibrahim  dan Al-Hakam dimana Musa bersendirian meriwayatkan. Dari berbagai jalan dan mutabi’-nya, diketahui bahwa hadits ini memiliki asal.”[3]

 

Makna ungkapan tersebut benar

Seandainya kita ambil bahwa hadits tersebut dhaif, akan tetapi makna hadits tersebut benar. Yaitu bisa jadi sakitnya adalah hukuman disebabkan dosanya, dan dosa bisa dihapus dengan sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَ مَالِهِ وَ نَفْسِهِ وَ وَلَدِهِ وَ جَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Lajnah Ad-Da’imah (semacam MUI di saudi) mengeluarkan fatwa mengenai hadits tersebut,

الحديث المذكور غير صحيح ، ولكن لا حرج في الصدقة عن المريض تقربا إلى الله عز وجل ، ورجاء أن يشفيه الله بذلك ؛ لعموم الأدلة الدالة على فضل الصدقة ، وأنها تطفئ الخطيئة وتدفع ميتة السوء

“Hadits tersebut tidak shahih, akan tetapi tidak mengapa bersedekah untuk (kesembuhan) orang yang sakit sebagai bentuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dalam rangka mengharap agar Allah menyembuhkannya dengan sedekah tersebut, karena keumuman dalil yang menunjukkan tentang keutamaan sedekah bahwasanya sedekah menghapuskan dosa dan mencegah kematian yang jelek.”[4]

Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,

، ومعناه أن الصدقة علاج نافع مفيد يشفي الأمراض ويخفف الأسقام، ويؤيده قول النبي – صلى الله عليه وسلم – (( الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار )) فلعل بعض الأمراض تحدث عقوبة على ذنب أصابه المريض ، فمتى تصدق عنه أهله زالت الخطيئة، فزال سبب المرض ، أو أن الصدقة تكتب له حسنات، فينشط قلبه بها ويخف مع ذلك ألم المرض، والله أعلم.

“Maknanya bahwa sedekah adalah pengobatan yang bermanfaat dan berguna untuk menyembuhkan orang yang sakit serta meringankan rasa sakit (keluhan), hal ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa salllam, “Sedekah bisa menhapuskan dosa sebagaimana air mematikan api”. Bisa jadi sebagian penyakit yang menimpanya adalah hukuman atas dosa yang dilakukan oleh yang sakit. Maka ketika keluarganya mensedekahkan untuknya, hilanglah dosanya, maka hilanglah sebab penyakitnya, atau dengan sedekah ditulis baginya kebaikan-kebaikan, maka hatinya akan bersemangat dan menjadi ringan rasa sakitnya. Wallahu a’lam”.[5]

Abdur Ra’uf Al-Munawi rahimahullah berkata,

قال المناوي: “أمر بمداواة المرضى بالصدقة، …وقد جرَّب ذلك الموفقون، فوجدوا الأدوية الروحانية تفعل ما لا تفعله الأدوية الحسيَّة

“Orang yang sakit diperintahkan sering-sering bersedekah… hal ini sudah terbukti bagi yang telah berhasil, mereka mendapatinya sebagai obat  (penyembuh) ruhaniyah yang ampuh dimana tidak didapatkan pada obat biasa.”[6]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“إن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر أو من ظالم، بل من كافر، فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به؛ لأنهم جرَّبوه”

Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau dzalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereja telah membuktikannya.”[7]

Semoga bermanfaat, Alhamdulillah.

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.Muslimafiyah.com

 


[1] HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath 2/274 no. 1963

[2] Dhaif Al-jaami’ ash-Shaghhir wa ziyadatahu no. 6470, Maktabah Al-Islami, Beirut, cet. III, 1408 H,  Syamilah

[3] Fatawa Asy-Syar’iyyah fi masa’ilit Thibbiyah, sumber: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=3&book=50&page=2138

[4] Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah no. 18369. Diketuai oleh syaikh Bin Baz rahimahullahu, sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=3&PageID=9711

[5] Fatawa Asy-Syar’iyyah fi masa’ilit Thibbiyah, sumber: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=3&book=50&page=2138

[6] Faidhul Qadhir 3/515, Maktabah At-Tijariyah, Mesir, cet. I, 1365 H, Syamilah

[7] Al-Waabilus Shayyib hal. 49, Darul Kitab Al-‘Iraqi, Beirut, 1405 H, Syamilah

4 Comments

  1. Ahmad Assfiya Asy-Syafi'i says:

    Albani ntu siapa??? wafat aja tahun 90an berani banget ngubah² status Hadits…. emank dia ketemu langsung dengan perawi Mahsyur nya???? belajar dari kitab aja udch pengen jd Muhadits…. Pengen jd Muhaddits itu belajar langsung sama guru yang nyambung ilmunya sampai ke Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam………..

  2. Raehan says:

    syaikh Al-Albani rahimahullah adalah seorang ulama pakar hadits yang diakui baik oleh lawan maupun kawan, beliau meneliti dan menelaah sehingga bisa menilai status hadits, tentu berdasarkan ilmu warisan dari ulama
    belajar tidak mesti pakai sanad dari guru yang langsung belajar sampai ke rasulullahSholallahu ‘alaihi wa sallam, kalau begitu sangat sedikit yg bisa jadi ustadz

    silahkan baca sirah beliau:
    http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/

    dan

    http://www.konsultasisyariah.com/al-albani-dan-shahihain/

    • zaki says:

      Assalamualaikum wr.wb,

      Pernyataan kang ahmad itu terlalu tendensius, cuma bagaimanapun tetap harus ada yang patut dipertanyakan dalam kehadiran syaikh albani sebagai perawi hadist di zaman ini dimana masa sebelum beliau tidak ada ulama yang melakukan hal ini. Dikarenakan sangat sensitif dan perlunya profil perawi tersebut terhadap ilmu yang amat sangat luas dan hafalan yang luar biasa, sebagaimana imam ahmad (hafal 1jt hadist beserta sanadnya),imam tirmidzi, hafal langsung setelah hadist disampaikan kepada beliau dan contoh contoh lain yang menunjukkan kapasitas luar biasa ulama terdahulu sebagai perawi hadist. Namun sebaliknya, kita ketahui bersama cukup banyak perbedaan keputusan dari syaikh albani terhadap kedudukan suatu hadist atau dari menghukumi seorang (Literaturnya bertebaran luar biasa banyak di google).
      Perlu di kaji kembali secara mendalam kapabilitas beliau dan bagaimana manusia zaman ini menilai dengan sikap yang tengah terhadap hal tersebut.
      Saya pribadi jauh lebih memilih ulama terdahulu dalam memberikan hukum kepada suatu hadist dibanding ulama mutaakhirin.
      Mungkin lebih tepat sebagai referensi tambahan dalam keputusan hukum suatu hadist, bukan menjadi pegangan utama. Dimana yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
      Jawaban dr.reyhan tentang bila ulama harus bersanad maka sedikit yang jadi ustadz adalah tidak tepat, karena luar biasa banyak ulama yang bersanad di masa kita ini, dan itu ditekankan sekali dalam ilmu islam ini. Tentunya bila menjadi da’i adalah kewajiban setiap muslim. Belajar dari buku juga tentu bagus, namun sanad jelas memiliki kepentingan yang besar dalam menjaga kemurnian pemahaman agama yang mulia ini.
      Akhirul kalam, bukannya saya mau menghilangkan jasa ulama yang berjasa banyak dalam islam, jelas jasa beliau banyak, namun ada hal hal yang perlu digaris bawahi terkait label muhaddist tersebut, kiranya kita lebih objektif dalam menilai setiap perkara.

      Jazakallahu khairon jaza’
      Wassalamualaikum Wr.Wb

Leave a Reply