Home / Adab / Mujahid Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan Ketika Perang

Mujahid Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan Ketika Perang

mujahid berbuka puasa

Suasana perang ketika berkecamuk bisa jadi membutuhkan energi yang sangat besar. Oleh karena itu para mujahid boleh tidak puasa ketika bulan Ramadhan. Bahkan berbuka terkadang dianjurkan jika lebih menguatkan badan para mujahid. Sebagaiman kisah dalam riwayat Muslim

عن قزعة قال : أتيت أبا سعيد الخدري رضي الله عنه وهو مكسور عليه. فلما تفرق الناس عنه، قلت: إني لا أسألك عما يسألك هؤلاء عنه. سألته عن الصوم في السفر ؟ فقال: سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى مكة ونحن صيام. قال: فنزلنا منزلا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إنكم قد دنوتم من عدوكم والفطر أقوى لكم”. فكانت رخصة. فمنا من صام ومنا من أفطر. ثم نزلنا منزلا آخر. فقال: “إنكم مصبحوا عدوكم. والفطر أقوى لكم، فأفطروا” وكانت عزمة. فأفطرنا. ثم قال: رأيتنا نصوم، مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد ذلك، في السفر.

Dari Faza’ah ia berkata, “Aku pernah datang kepada Abu Said Al-Khudri ketika ia sedang menerima tamu yang banyak. Setelah para tamu sudah bubar, aku katakan kepada Abu Said, ‘Aku tidak menanyakan kepadamu apa yang ditanyakan oleh mereka tadi. Aku menanyakan perihal puasa ketika safar’.

Maka Abu Said berkata, “Kami pernah melakukan safar menuju Makkah bersama Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam ketika kami sedang berpuasa. Lalu kami berhenti di suatu tempat. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Sesungguhnya kalian telah dekat dengan musuh kalian dan berbuka akan lebih menguatkan tubuh kalian’

 Hal itu merupakan rukhshah (keringanan). Sebagian dari kami ada yang berpuasa, dan sebagian yang lain ada yang berbuka. Kemudian kami berhenti lagi di tempat lain. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda,

‘Sungguh, kalian besok pagi akan menghadapi musuh, dan berbuka akan lebih menguatkan tubuh kalian. Oleh karena itu, berbukalah kalian !’.

Lalu kami pun berbuka. Setelah peristiwa itu, aku ketahui bahwa kami berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika safar” (HR. Muslim no. 1120)

 

Berikut Fatwa mengani hal ini, Pertanyaan:

هل الذين يحاربون العدو لهم الإفطار في رمضان ويقضون بعده ؟

 

Apakah mereka yang memerangi musuh (mujahid) boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan kemudian mengqhada setelahnya?

“إذا كان الذين يحاربون الكفار مسافرين سفراً تقصر فيه الصلاة ، جاز لهم أن يفطروا ، وعليهم القضاء بعد رمضان . وإن كانوا غير مسافرين بأن هجم عليهم الكفار في بلادهم فمن استطاع منهم الصوم مع الجهاد وجب عليه الصوم ، ومن لم يستطع الجمع بين الصيام والقيام بما وجب عليه عيناً من الجهاد ، جاز له أن يفطر وعليه القضاء ، صوم الأيام التي أفطرها بعد انتهاء رمضان” انتهى .

Jawaban:

Jika mereka yang berperang melawan orang kafir adalah musafir dengan safar yang boleh mengqhasar shalat, maka boleh bagi mereka tidak bepuasa dan wajib bagi mereka mengqhada setelah Ramadhan.

Jika mereka bukan musafir, misalnya diserang oleh orang kafir di negara mereka. Bagi yang mampu berpuasa sekaligus berjihad tetap wajib berpuasa. Bagi yang tidak mampu melakukan puasa dan kewajiban jihad sekaligus. Boleh bagi mereka tidak berpuasa dan wajib mengqhada puasa yang mereka tinggalkan setelah bulan Ramadhan.

(Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 2/141-142, sumber: http://islamqa.info/ar/ref/106469)

 

@Pogung Lor-Yogya, 15 Ramadhan 1434 H

penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

Leave a Reply