Bimbingan IslamKesehatan Islam

Perselingkuhan (Sebab, Pencegahan & Solusi Dalam Tinjauan Psikologi & Syariat)

RESUME KAJIAN ILMIAH (SUNNAH)

Ahad, 07 Mei 2023 Masehi (16 Syawal 1444 Hijriah)

Pemateri : al-Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK حَفِظَهُ اللهُ تعالى

(Alumni FK UGM dan Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta, Mahasiswa S2 Fakultas Dakwah Al-Madinah International University)

Summary by : ASR @atika_ummukahfiyahya

Supported by : Masjid Nurul Iman. Blok M Square Lantai 7, Jakarta Selatan

Muqaddimah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.   ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 

Kita harus bersyukur kepada Allah ﷻ atas nikmat-Nya yang besar yakni nikmat Iman, Islam, ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan sehat wal ‘afiat sehingga masih diberi kesempatan menghadiri majelis ilmu syar’i..

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah ﷺ, kepada para Shahabat radhiyallaahu ‘anhuma jamii’an, orang-orang yang datang setelah mereka, dan semua orang yang mengikuti jalan mereka yang lurus sehingga kelak bisa mendapatkan syafaat atas kehendak Allah ﷻ..

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), selingkuh adalah menyembunyikan sesuatu untuk sebuah kepentingan dan tidak terus terang, atau suka nyeleweng dan khianat.

Secara psikologi, selingkuh ada 2 jenis yaitu :

  1. Selingkuh secara fisik, yakni kontak langsung antara anggota badan.
  2. Selingkuh secara emosional, yang merupakan langkah awal dari selingkuh secara keseluruhan.

Selingkuh secara emosional terbagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu :

a. Mengungkapkan kata mesra kepada yang bukan pasangan halalnya

b. Mengirim pesan yang menjurus pada hal berbau porno, seks, tidak senonoh, atau dalam format foto/video, emoticon, dll

c. Komunikasi yang intensif.

Hal ini yang paling banyak menjadi penyebab awal mula perselingkuhan. Bisa diawali dengan curhat, dll. Yang awalnya berbagi cerita, akhirnya berbagi cinta!

Contoh : teman kerja awalnya curhat masalah pekerjaan dengan yang bukan pasangan halalnya, dan semisalnya. Intinya, hendaknya tidak bermudah-mudahan kontak dengan lawan jenis, batasi hanya untuk urusan darurat saja, komunikasinya juga langsung to the point saja!

Contoh lain : seseorang curhat kepada Ustadz. Yang seperti ini hendaknya curhat melalui istrinya Ustadz saja bukan langsung ke Ustadz, agar lebih aman.

Mengapa seseorang bisa selingkuh? Karena orang berpikir selingkuh itu nikmat, kata orang “Rumput tetangga lebih hijau!”

Perlu diingat pula, selingkuh itu bukan diawali hanya oleh pihak laki-laki, tetapi bisa juga dilakukan oleh perempuan!

Berikut sebab-sebab perselingkuhan secara psikologis :

1. Tidak terpuaskan secara seksual

Penyebab ini menjadi penyebab terbanyak. Secara psikologis, kepuasan itu bukan hanya sekedar kepuasan akhir, tetapi juga dari pengantarnya, seperti dengan kata-kata romantis, suasananya, dll. Begitu juga penutupannya, seperti setelah melakukan hubungan suami-istri, mestinya ada sesi ngobrol hangat, dll.

Secara psikologis, seks sendiri adalah kebutuhan primer bagi seseorang, bahkan melebihi dari kebutuhan makan dan minumnya. Secara syariat juga sama, bahkan dalam syariat hal tersebut merupakan kebutuhan super primer, yang tidak boleh disepelekan.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullau ﷺ bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436)

Dalam Riwayat Muslim disebutkan dengan lafazh,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim no. 1436)

Nabi ﷺ bersabda,

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ

“Jika seorang lelaki mengajak istrinya untuk memenuhi hasratnya, maka hendaknya dia mendatanginya, walau dia sedang berada di dapur (memasak).” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رَحِمَهُ اللهُ تعالى)

Nabi ﷺ juga mengatakan,

وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Kalau saja suami memintanya untuk dilayani, sementara ia sedang berada di atas pelana kendaraan, maka ia tidak boleh menolaknya.” (HR Ibnu Majah)

Mengapa bisa demikian? Karena rasa lapar itu bisa ditahan/ditunda, sedangkan syahwat tidak bisa!

Salah seorang ulama pernah ditanya, bagaimana jika istri yang meminta terlebih dahulu? Belia mengatakan bahwa suami pun tidak boleh menolaknya, karena seseorang jika syahwatnya sudah memuncak, dia pasti tidak bisa konsentrasi dan sulit untuk berpikir, kepala pusing, mudah marah, dll. Oleh karena itu, dikenal istilah nafkah lahir dan nafkah bathin!

2. Tidak terpuaskan secara emosional

Yakni dengan merasa kurangnya perhatian, pujian, kasih sayang, penghormatan, pengakuan, penghargaan, empati, dll.

Kuncinya adalah komunikasi!

3. Seseorang merasakan cinta dari orang lain

Yakni, adanya pihak ketiga, bisa itu mantan, pelakor, pebinor, dll.

4. Seseorang melakukan balas dendam terhadap pasangannya

Contoh : pasangannya sudah pernah selingkuh, sehingga ikut berpikir “dia saja bisa selingkuh, kenapa saya tidak!”

Contoh lain : di luar negeri ada yang namanya open relationship (saling membebaskan pasangannya untuk menjalin hubungan dengan orang lain).

5. Perasaan sudah tidak cinta terhadap pasangan

Biasanya rasa cinta sudah tidak ada, tetapi tidak ingin bercerai karena rasa tidak enak, kasihan anak, malu dengan orangtua, keluarga, tetangga, dan omongan orang lain, dll, sehingga mereka lebih memilih untuk berselingkuh.

6. Perasaan ingin sebuah variasi dan adanya kelainan

Bahasa kedokterannya : hyper dan kecanduan.

7. Adanya konflik yang terus-menerus

Dalam rumah tangganya sering terjadi pertengkaran, perdebatan, kekerasan, dll sampai akhirnya berada pada titik jenuh..

Berikut sebab-sebab perselingkuhan secara syariat :

1. Minimnya pemahaman agama

Yakni kurang merasa diawasi oleh Allah ﷻ. Demikian pula kurangnya pemahaman bahwa Islam melarang zina, curang, khianat, tidak paham aturan menjaga diri dan membatasi diri dengan lawan jenis, dll. Intinya dia tidak mengenali Allah ﷻ dan Rasul-Nya!

Selingkuh itu awalnya sembunyi-sembunyi, tidak ada yang terang-terangan, maka hanya rasa takut kepada Allah-lah yang bisa mencegahnya. Ketahuilah bahwa godaan syahwat itu sangat besar, maka harus dilawan dengan rasa takut kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu dalam Islam, pernikahan adalah hal yang sangat agung dan mulia.

Allah ﷻ berfirman :

وَ كَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَا قًا غَلِيْظًا

“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS An-Nisa’ 4 : 21)

Pertanggungjawabannya dunia dan akhirat!

2. Ikhtilath yang kebablasan

Pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam itu sudah diatur, diawasi dan ada batasannya.

3. Tidak menundukkan pandangan

Dalam Islam, menundukkan pandangan itu wajib.

Allah ﷻ berfirman :

قُلْ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُـضُّوْا مِنْ اَبْصَا رِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا يَصْنَـعُوْنَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga (menundukkan) pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An-Nur 24 : 30)

وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَا رِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَآئِهِنَّ اَوْ اٰبَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِ رْبَةِ مِنَ الرِّجَا لِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَ رْجُلِهِنَّ لِيُـعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ ۗ وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga (menundukkan) pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS An-Nur 24 : 31)

Rasulullah ﷺ bersabda,

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَنْ مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ لله أَوْرَثَ الله قَلْبَهُ حَلاَوَةً إِلىَ يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barangsiapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak V:313; Al-Qudha’i dalam Musnad Asy-Syihab no. 292; dan Ibnul Jauzi رَحِمَهُ اللهُ تعالى dalam Dzammul Hawa hlm. 13; dari Hudzaifah رضي الله عنه)

Lintah datang dari sawah turun ke kali, sedangkan cinta dari mata turun ke hati!

4. Adanya sifat dayyuts (tidak adanya kecemburuan terhadap kekeliruan yang dilakukan anggota keluarganya)

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ، وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

Dari Salim bin Abdullah (bin Umar), dari bapaknya, dia (Abdullah) رضي الله عنه berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tiga orang yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts. Tiga orang yang tidak akan masuk surga : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khamr (minuman keras), dan orang yang menyebut-nyebut apa yang dia berikan.” (HR An-Nasa’i no. 2562)

Contoh : istri keluar rumah tidak memakai hijab, istri memposting dirinya ke media sosial, istri berteman akrab dengan laki-laki yang bukan mahram, suami merasa biasa saja, dll.

5. Bertebarannya wanita-wanita yang tabarruj (senang berhias dan menonjolkan diri)

Allah ﷻ berfirman :

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَـرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُ وْلٰى وَاَ قِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَ طِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا 

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al-Ahzab 33 : 33)

Banyak wanita yang berhias, membuka aurat, memikat/menarik/menggoda laki-laki, ataupun sudah berhijab tetapi hijabnya memakai pernak-pernik yang menarik perhatian, bukan menutupi kecantikannya.

Dalam Islam sudah diatur dengan seimbang, baik, sempurna, dan mempunyai hikmah atau nilai kebaikannya, yakni aturan laki-laki di luar dan perempuan di dalam rumah. Aturan ini bukan bermaksud untuk mengekang perempuan, tetapi justru untuk menjaganya. Oleh karena itu, perlu diperhatikan, bahwa kunci perselingkuhan umumnya di perempuan, jika perempuan menutup pintu dan kuncinya, maka laki-laki tidak akan bisa masuk.

Perempuan jika membuka pintu dan kunci, itu namanya perselingkuhan, tetapi jika dia menutup pintu dan kunci itu namanya pemerkosaan.

Berikut solusinya dalam agama :

1. Sadarkan diri akan pemahaman ilmu agama

Karena hanya rasa takut kepada Allah-lah yang benar-benar bisa mencegahnya! Karena dia mengetahui bahwa semua akan ada pertanggungjawabannya kelak.

Dalam perselingkuhan itu terdapat beberapa hal yang mempengaruhi, yakni khianat, curang, dusta, zina, mubazir, dll.

a. Allah ﷻ berfirman :

ذٰلِكَ لِيَـعْلَمَ اَنِّيْ لَمْ اَخُنْهُ بِا لْغَيْبِ وَاَ نَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ كَيْدَ الْخَـآئِنِيْنَ

“(Yusuf berkata), “Yang demikian itu agar dia (Al-‘Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah), dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS Yusuf 12 : 52)

b. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa melakukan kecurangan maka bukan bagian dari golongan kami.” (HR Muslim, kitab al-Iman no. 101)

c. Selingkuh itu akan melahirkan banyak kedustaan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).’” (HR Ahmad)

d. Allah ﷻ berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’ 17 : 32)

Nabi ﷺ bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR Bukhari & Muslim)

Beliau ﷺ juga bersabda,

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim. al-Hakim kemudian menyatakan bahwa hadits ini shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim. Pendapat ini disepakati pula oleh adz-Dzahabi رَحِمَهُ اللهُ تعالى)

Rasulullah ﷺ bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)

e. Selingkuh juga biasanya terjadi pemborosan karena selingkuh itu pasti membutuhkan modal/dana.

Allah ﷻ berfirman :

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَا نُوْۤا اِخْوَا نَ الشَّيٰطِيْنِ ۗ وَكَا نَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Rabb-nya.” (QS Al-Isra’ 17 : 27)

Artinya dia mengeluarkan hartanya bukan kepada yang berhak!

Dari Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنه, ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah berdosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan (menelantarkan) orang yang ia tanggung.” (HR Abu Dawud no. 1692)

2. Tidak boleh bermudah-mudahan interaksi dengan yang bukan mahram

Hal ini juga harus ditekankan. Boleh interaksi dengan yang bukan mahram hanya dalam kondisi darurat saja. Jagalah kehormatan diri dan pasangan. Jangan suka curhat kepada orang lain apalagi lawan jenis, karena lama-lama bisa nyaman!

Awalnya bertukar pikiran, akhirnya bertukar cairan!

Perlu diingat juga, bahkan sering terjadi dimana pasangan halalnya itu lebih cantik/tampan dan lebih baik dari selingkuhannya, tetapi tetap memilihi selingkuh.

Berusahalah saling melakukan yang terbaik terhadap pasangan halal kita.

Nabi ﷺ bersabda,

“Sebagaimana kamu memperlakukan maka begitu juga kamu akan diperlakukan.”

Semoga kita bisa terhindar dari segala bentuk perselingkuhan..

 وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

(Wallaahu a’lam bishshawaab)

Semoga tulisan ini bermanfaat, diluruskan niatnya dalam menulis, menjadi pengingat bagi pemateri, penulis, dan pembaca, serta menjadi pahala jariyah bagi semuanya..

Aamiin..

Allaahu Yahdiikum, Baarakallaahu Fiikum✨

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *