Sunnah: Baru Pulang Dari Haji, Langsung Ke Masjid Dulu Untuk Shalat Dua Rakaat

S

Bagi jamaah Haji yang nantinya akan pulang ke kampung halaman, ada sunnah yang mungkin jarang kita kerjakan. Yaitu ketika pulang safar, tidak langsung balik ke rumah dahulu akan tetapi mampir ke masjid terdekat dengan rumah untuk shalat sunnah dua rakaat. Sunnah ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang baru pulang haji akan tetapi bagi mereka yang pulang dari safar dan kembali ke rumah.

 

Dalil dari hadits

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, ia berkata:

خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ، فَأَبْطَأَ بِي جَمَلِي وَأَعْيَا، ثُمَّ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلِي، وَقَدِمْتُ بِالْغَدَاةِ فَجِئْتُ الْمَسْجِدَ فَوَجَدْتُهُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ. قَالَ: الآنَ حِينَ قَدِمْتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَعْ جَمَلَكَ وَادْخُلْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: فَدَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ

Aku pernah pergi bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada suatu peperangan. Lalu tiba-tiba untaku berjalan melambat dan kondisinya melemah. Dan ketika itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam- telah sampai sebelumku, sedang aku baru sampai pada pagi hari. Kemudian aku pergi ke masjid dan aku mendapati beliau berada di depan pintu masjid. Beliau berkata: ”Apakah engkau baru tiba?” Ya, jawabku.”Tinggalkan untamu, masuklah (ke masjid) dan kerjakan shalat dua rakaat”, lanjut beliau. Lalu aku pun masuk (masjid) dan mengerjakan shalat kemudian pulang.[1]

Dalam riwayat yang lain, beliau berkata:

اِئْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

Pergilah ke masjid kemudian shalatlah dua rakaat.[2]

 

Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

عن كعب بن مالِك – رضي الله عنه: أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، بَدَأ بِالْمَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ. متفقٌ عَلَيْهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kalau pulang dari safar, yang pertama beliau lakukan adalah pergi ke masjid kemudian beliau shalat dua raka’at.[3]

 

Penjelasan para ulama

Al-Bukhari menulis bab dalam shahih Bukhari (judul Bab beliau adalah representasi dari fikh beliau)

الصلاه إذا قدم من سفر

Bab: (anjuran) shalat ketika baru datang dari safar

Shalat ini adalah shalat karena baru pulang safar, bukan shalat tahiyatul masjid (meskipun niatnya bisa digabung sekaligus shalat tahiyaul masjid)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

فى هذه الاحاديث استحباب ركعتين للقادم من سفره فى المسجد، أول قدومه ، وهذه الصلاة مقصوده للقدوم من السفر لا أنها تحية المسجد

“Hadits-hadits ini mengandung anjuran untuk shalat dua rakaat di masjid bagi siapa saja yang baru datang dari safar. Maksud shalat ini adalah karena baru datang dari safar bukan untuk shalat tahiyatul masjid.[4]

 

Ingat juga membaca doa pulang dari safar

Lafadz doanya adalah:

آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

Aayibuna, taa-ibuuna, ‘aabiduuna, lirabbinaa haamidun

(Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah kepada Allah, dan kami memuji Rabb kami)

Sebagaimana hadits

وعن أنس – رضي الله عنه – قَالَ: أقْبَلْنَا مَعَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى إِذَا كُنَّا بِظَهْرِ الْمَدِينَةِ، قَالَ: «آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ» فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُ ذَلِكَ حَتَّى قَدِمْنَا المَدِينَةَ. رواه مسلم.

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Kami datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari safar, sampai tatkala kami tiba di suatu tempat yang sudah terlihat kota Madinah, maka Nabi berkata:

“آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ”

(Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah kepada Allah, dan kami memuji Rabb kami).

Rasulullah mengulang-ulangi ucapan tersebut hingga kami sampai di kota Madinah.”[5]

 

Demikian semoga bermanfaat

 

@Perpus FK UGM,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB ,  follow twitter , Follow Akun Faceebook

Add Pin BB www.muslimafiyah.com ketiga 7F39E247

 

[1] HR. al-Bukhari, no. 2097, Muslim, no. 715

[2] HR. al-Bukhari, no. 2604.

[3] H.R. Bukhari-Muslim

[4] Syarh Muslim An-Nawawi 5/228

[5] H.R. Muslim

Leave a Reply