Mengapa Istri Merasa Berat Berkunjung ke Rumah Ibu Mertua?

Di tengah kehidupan rumah tangga, ada satu fenomena yang cukup sering terjadi: sebagian menantu perempuan merasa enggan, atau bahkan berat, untuk berkunjung ke rumah ibu mertua. Ketika suami mengajaknya berkunjung ke rumah orang tuanya, terkadang istri mencari alasan untuk tidak ikut, atau datang namun ingin segera pulang ke rumahnya kembali.
Kira-kira, mengapa fenomena seperti ini kerap terjadi?
Perlu dipahami sejak awal, hal ini tidak selalu berkaitan dengan kedurhakaan, tidak hormat, tidak ingin berbuat baik, atau tidak ingin berbakti. Ada sisi lain yang sangat manusiawi yang sering kali belum dipahami dengan baik. Di antaranya, ia tidak merasa benar-benar “di rumah sendiri”. Rumah mertua tetap terasa sebagai wilayah orang lain, yang membuatnya harus menjaga sikap dengan lebih hati-hati.
Selain itu, sering kali terdapat perbedaan nilai (values) dan cara menyikapi berbagai hal. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika muncul perasaan serba salah. Belum lagi adanya kekhawatiran akan dinilai, dikomentari, atau sekadar disindir. Semua ini dapat menumpuk menjadi beban emosional yang membuat kunjungannya terasa berat.
Ditambah lagi, menantu perempuan dan ibu mertua sama-sama Wanita, keduanya memiliki perasaan, harapan, dan sensitivitas masing-masing. Jika tidak diiringi dengan pemahaman dan komunikasi yang baik, maka gesekan kecil bisa membesar menjadi keretakan hubungan.
Lantas, bagaimana agar kondisi ini tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar, hingga berdampak pada hubungan suami-istri, bahkan hubungan antara anak dan ibunya?
Fenomena ini mungkin tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun, ia bisa dikelola jika semua pihak berusaha untuk memperbaiki keadaan dan mencari solusi bersama.
Pertama, peran suami sebagai jembatan.
Suami harus hadir sebagai jembatan, bukan sekadar penonton. Ia memiliki peran penting untuk memahami perasaan istri, sekaligus tetap berbakti kepada orang tuanya. Dia harus memiliki sikap yang bijak, komunikasi yang lembut, dan kemampuan untuk menempatkan dirinya dengan baik.
Kedua, usaha istri untuk beradaptasi.
Istri perlu berusaha untuk beradaptasi. Seorang istri juga perlu menyadari bahwa berkunjung ke rumah mertua dan bersikap baik kepada mereka termasuk bentuk tidak langsung dari baktinya kepada suami. Ketika suami melihat istrinya berbuat baik kepada ibunya, ia akan merasa bahagia, dan itu merupakan bagian dari bentuk kebaikan seorang istri kepada suaminya.
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, “Yaitu yang menyenangkan ketika dipandang suaminya, menaati suami ketika diperintah, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dalam hal yang ia benci.”
(HR. An-Nasa’i no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)
Ketiga, peran keluarga suami dalam menciptakan kenyamanan.
Pihak keluarga suami, terutama ibu mertua dan saudari perempuan suami, perlu berusaha menciptakan suasana yang nyaman, bukan suasana yang menekan, tetapi suasana yang membuat menantu merasa diterima sebagai bagian dari keluarga.
Kunci dari semua ini adalah saling komunikasi, saling berhusnuzan, dan saling memahami. Karena pada akhirnya, semua berada dalam satu ikatan: keluarga.
Jika ingin mendalami fenomena dan solusi terkait masalah ini, bisa membaca buku kami yang secara khusus kami tulis berjudul, “Fikih & Psikologi, Muamalah Istri – Ibu Mertua Serta Peran Suami Antara Mereka Berdua”
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)



