Rumah Tangga

Perbuatan Selingkuh Melahirkan Kedustaan yang Tidak Ada Habisnya

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Di zaman ini, fenomena perselingkuhan bukan lagi kisah langka yang hanya terdengar sesekali. Ia terjadi di berbagai lapisan masyarakat, baik yang sudah lama menikah maupun yang baru membangun rumah tangga. Media sosial, kemudahan komunikasi, dan longgarnya batas pergaulan membuat pintu-pintu godaan semakin terbuka.

Parahnya, dosa perselingkuhan hampir tidak pernah berdiri sendiri. Ia hampir selalu disertai dengan kedustaan sebagai upaya untuk menutupinya. Bahkan satu kebohongan akan melahirkan kebohongan berikutnya, seolah-olah dusta itu memiliki anak, cucu, dan cicit yang terus berkembang.

Awalnya mungkin hanya satu pertanyaan sederhana dari seorang istri, “Bang lagi di mana?” Lalu suaminya menjawab, “Lagi lembur aja.” Padahal sebenarnya bukan lembur. Ketika diminta melakukan video call, ia tergesa-gesa mencari tempat aman. Berlari ke mobil agar tidak terlihat sedang bersama wanita lain. Ketika ditanya lagi, jawabannya berubah. Ditanya begini, jawabnya begitu. Semua demi menutup kebohongan pertama.

Padahal satu kebohongan tidak pernah cukup. Ia membutuhkan kebohongan lain untuk menutupinya. Dan kebohongan yang kedua akan melahirkan kebohongan ketiga. Inilah siklus yang terus berulang. Namun sekuat apa pun seseorang menyusunnya, dusta tidak pernah benar-benar tertutup. Ia hanya menunggu waktu untuk terbongkar.

Kebohongan yang diulang-ulang akan berubah menjadi kebiasaan. Pada akhirnya, dia akan berdusta dalam banyak hal, bukan hanya dalam perkara perselingkuhan. Dan ketika dusta telah menjadi karakter, Allah akan melabelinya sebagai seorang kadzdzab (tukang dusta). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).” (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

Insting yang Allah Tanamkan Pada Istri

Sering kali diabaikan bahwa istri memiliki insting yang kuat ketika suaminya mulai berubah. Perubahan kecil dalam sikap, nada bicara, perhatian, atau kebiasaan, semuanya akan terasa berbeda. Seolah-olah dinding yang bisu ikut berbicara, jam yang berdetak seakan membisikkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Bahkan pada tahap awal sekalipun, seorang istri bisa merasakan adanya perubahan.

Mengapa demikian? Karena hubungan suami-istri bukan sekadar hubungan formal, tetapi hubungan hati. Dan hati memiliki kepekaan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika. Apalagi jika kebohongan sudah berulang-ulang. Cepat atau lambat, pola itu akan terbaca. Sebab dusta tidak pernah konsisten. Ia selalu menyisakan celah.

Mungkin seseorang merasa aman karena belum tertangkap. Namun yang perlu diingat, sekalipun manusia tidak tahu, Allah Maha Mengetahui. Kedustaan yang terus dipelihara bukan hanya merusak hubungan, tetapi juga merusak hati pelakunya sendiri. Padahal yang awalnya hanya satu kebohongan, kini telah beranak-pinak. Maka sebelum dusta semakin banyak, lebih baik mengakui dan memperbaiki daripada terus menumpuk kebohongan yang suatu hari pasti runtuh.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

Konsultasi Kesehatan Mental

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button