Home / Adab / Anak-Anak Pahlawan Dan Pemberani Di Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Anak-Anak Pahlawan Dan Pemberani Di Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pendidikan adalah hal yang perlu dperhatikan terutama kepada anak-anak dan pemuda. Hal ini sangat diperhatikan oleh agama Islam. Kita bisa lihat bagaimana anak-anak pemuda-pemuda Islam yang masih sangat mulia di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdidik dengan pendidikan yang luar biasa. Berikut kisah-kisah mereka yang semoga bisa menjadi teladan bagi kita agar bisa mendidik anak dengan cara Islam.

Kisah ini adalah kisah para pemuda yang sangat belia berumur sekitar 14-15 tahun Hijriyah (13-14 Masehi) yang sangat pemberani, menjadi pahlawan bagi Islam dan bukti sebagai kuatnya akidah dan iman mereka. Yaitu kisah anak-anak yang sangat ingin ikut perang dan berjihad walaupun dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu menceritakan,

بينا أنا واقف في الصف يوم بدر، فنظرت عن يميني وعن شمالي، فإذا أنا بغلامين من الأنصار – حديثة أسنانهما، تمنيت أن أكون بين أضلع منهما – فغمزني أحدهما فقال: يا عم هل تعرف أبا جهل؟ قلت: نعم، ما حاجتك إليه يا ابن أخي؟ قال: أخبرت أنه يسب رسول الله صلى الله عليه وسلم، والذي نفسي بيده، لئن رأيته لا يفارق سوادي سواده حتى يموت الأعجل منا، فتعجبت لذلك، فغمزني الآخر، فقال لي مثلها، فلم أنشب أن نظرت إلى أبي جهل يجول في الناس، قلت: ألا إن هذا صاحبكما الذي سألتماني، فابتدراه بسيفيهما، فضرباه حتى قتلاه

“Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiri kumuncul dua orang pemuda yang masih sangat belia sekali. Aku berhara pseandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka [untuk melindungi mereka, pent].Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata, ‘Paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal .’Kukatakan kepadanya, ‘Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya? ’Pemuda itu kembali berkata, ‘Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya. Aku pun tercengang kaget dibuatnya .Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengahkerumunan orang.Aku berkata, ‘Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.’Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.”[1]

 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqashradhiallahu ‘anhuberkata,

رأيت أخي عمير بن أبي وقاص قبل أن يعرضنا رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلّم يوم بدر يتوارى، فقلت: ما لك يا أخي؟ قال: إني أخاف أن يراني رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلّم فيستصغرني فيردّني، وأنا أحبّ الخروج، لعل اللَّه أن يرزقني الشهادة- قال: فعرض على رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلّم فاستصغره فردّه، فبكى فأجازه، فكان سعد يقول: فكنت أعقد حمائل سيفه من صغره فقتل وهو ابن ست عشرة سنة.

“Aku  melihat saudaraku Umair bin Abi Waqqash -sebelum kami diperlihatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti perang Badr- ia sembunyi-sembunyi. Maka aku berkata, “ada apa denganmu wahai saudaraku?”. Ia berkata, “aku khawatir Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihatku lalu menganggapku masih terlalu kecil sehingga beliau menyuruhku kembali, aku ingin sekali ikut berperang, semoga Allah mengkaruniakan kesyahidan kepadaku.”

Kemudian ia diperlihatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau mengangap masih kecil dan menolaknya. Maka Umair bin Abi Waqqash menangis sehingga beliau mengizinkannya

Sa’ad berkata, “Aku membantu menyarungkan pedangnya karena ia masih kecil, kemudian ia terbunuh ketika berusia enam belas tahun.”[2]

 

Dari Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «اسْتَصْغَرَ نَاسًا يَوْمَ أُحُدٍ مِنْهُمْ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ يَعْنِي نَفْسَهُ وَالْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ وَزَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ وَسَعْدٌ وَأَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَذَكَرَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ

 

“Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganggap masih terlalu kecil untuk turut dalam perang uhud, di antara mereka yaitu Zaid bin Haritsah,  Barra’ bin Azib, Zid bin Arqam, Sa’ad, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Umar dan –disebut juga- Jabir bin Abdillah.”[3]

 

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

عرضنيرسولاللهصلىاللهعليهوسلميومأحدفيالقتال. وأناابنأربععشرةسنة. فلميجزني. وعرضنييومالخندق،وأناابنخمسعشرةسنة. فأجازني.

”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menunjukku untuk ikut serta dalam perang Uhud, yang ketika itu usiaku empat belas tahun. Namun beliau tidak memperbolehkan aku. Dan kemudian beliau menunjukku kembali dalam perang Khandaq, yang ketika itu usiaku telah mencapai lima belas tahun.  Beliau pun memperbolehkanku”.[4]

 

Demikianlah kisah-kisah mereka, para anak-anak yang masih belia. Semoga bisa menjadi penyemangat bagi kita. Oleh karena itu tidak heran ulama lebih menyukai kisah-kisah nyata daripada sekedar teori unutk membangkitkan semangat mereka.

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

«الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلي من كثير من الفقه؛ لأنها آداب القوم وأخلاقهم»

 “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” [5]

Demikian semoga bermanfaat

 

@Pogung Dalangan, Yogyakarta tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB dan follow twitter

Add Pin BB www.muslimafiyah.com kedua 7C9E0EC3, Grup telegram Putra (+6289685112245), putri (+6281938562452)

 

[1]HR. Bukhari no. 3141

[2]Al-Ishabah 4/603, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet.I, 1415 H, Syamilah

[3]Al-Mustadrak no. 2349, shahihul isnad disepakati oleh Adz-Dzahabi

[4]HR. Al-Bukhari no. 2664, Muslim no. 1868

[5] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/509 no.819, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah

Leave a Reply