Home / Adab / Hukum Dokter Laki-Laki Menjadi Dokter Spesialis Kandungan

Hukum Dokter Laki-Laki Menjadi Dokter Spesialis Kandungan

Dokter spesialis kandungan (Sp.OG) pasti akan sering melihat dan memegang aurat besar wanita. Bagaimana jika seorang dokter laki-laki menjadi dokter spesialis kandungan.

Pertanyaan:

فضيلة الشيخ، هل يجوز لرجل أن يتخصص في دراسة أمراض النساء والولادة ويصبح طبيبا في هذا المجال أم لا يجوز؟ وجهونا أثابكم الله

Wahai syaikh, apakah boleh bagi seorang laki-laki menjadi dokter spesialis kandungan?

جـ – الأصل أن طب النساء كطب الرجال في أغلب الأمراض كالرأس والأسنان والبطن والأعضاء الظاهرة والخفية، فمن تعلم طب الباطنية ونحوه عرف العلاج للرجال والنساء، لكن هناك أمراض تختص بالنساء كأمراض الرحم والحيض والحمل والثديين ونحوها، والواجب فيها أن يتعلمها النساء حتى يعالج بعضهن بعضا، ولا يعوزهن ذلك إلى التطبب عند الرجال مما يستلزم التكشف ونظر الرجل الأجنبي إلى عورات النساء وزينتهن، ومع ذلك فالواقع أن هناك الكثير من الرجال تخصصوا في أمراض النساء والولادة مخافة أن تطرأ حالة لا يوجد فيها من النساء من يتولى ذلك أو من يحسنه، وهكذا يجوز لبعض النساء أن يتخصصن في أمراض الرجال الخاصة بهم مخافة وجود حالات ضرورية طارئة لا يوجد من يتولاها من الرجال، ولكن الأصل اختصاص كل جنس بما يخصه، والله أعلم

Jawaban:

Hukum asalnya, ilmu kedokteran/penyakit tentang wanita sebagaimana laki-laki pada mayoritas penyakit. Seperti (penyakit) kepala, gigi, perut dan anggota badan yang nampak atau tidak. Maka siapa saja yang mempelajari ilmu kedokteran Penyakit Dalam atau sejenisnya, maka ia akan mengetahui pengobatan (yang sama) bagi laki-laki dan wanita.

Akan tetapi ada penyakit yang khusus pada wanita saja seperti penyakit di rahim, penyakit gangguan haidh, penyakit payudara dan sejenisnya. Wajib hukumnya para wanita mempelajarinya agar mereka mengobati sesama wanita. Sehingga mereka tidak perlu berobat kepada laki-laki yang berkonsekuensi seorang laki-laki ajnabi (bukan mahram) melihat dan menyingkap aurat dan perhiasan para wanita.

Akan tetapi kenyataannya, banyak laki-laki yang menjadi dokter spesialis kandungan karena dikhawatirkan tidak didapati adanya dokter wanita spesialis kandungan (di tempat tersebut). Demikian pula, boleh bagi sebagian wanita mempelajari penyakit khusus pada laki-laki karena dikhawatirkan ketika ada keadaan darurat yang pada saat itu tidak didapati dokter laki-laki. Akan tetapi hukum asalnya mengkhususkan setiap jenis sesuai dengan jenisnya (dokter laki-laki mengobati laki-laki dan sebaliknya, pent)

 

Sumber: Fawata Asy syar’iyyah fi masa’ilit thibbiyah, syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah, bisa diakses di, http://www.ibn-jebreen.com/books/6-50-2422-2257-18480.html

 

dr. Raehanul Bahraen, Pogung Lor-Jogja, 15 Rabi’us Tsani1434 H

artikel www.muslimafiyah.com

 

 

 

7 Comments

  1. syahrul Arifin says:

    Kalau dlm keadaan terpaksa apa hukumnya..! Smentara kita mau menolong..?!

  2. makasih ya udah di kasih tau 🙂

  3. Mungkin kalo yang namanya darurat boleh aja ya, tapi jujur aja sebetul nya aga risih, mungkin berbeda jika dokternya perempuan.

  4. Dine says:

    jika sudah terlanjur dokter laki2 jadi dokter spesialis obgyn, lalu baru mengetahui kalau ternyata tidak boleh bagaimana? apakah harus ikhlas untuk membuang gelarnya? ilmu yg didapat jadi tidak terpakai?
    jazaakallah khoiron..

    • jika memang sangat dibutuhkan dan satu2nya di daerah itu, ini termasuk darurat dan semoga bermanfaat bagi masyarakat, banyak-banyak berdoa kepada Allah dan semoga bisa bertakwa semampu kita

  5. Abu Kamil says:

    Berikut adalah Daftar Alamat Dokter Spesialis Kandungan Perempuan Muslimah se Indonesia sebagai rujukan .

    Semoga bermanfaat http://yukjadiibu.blogspot.co.id/2016/08/alamat-dokter-kandungan-perempuan.html

Leave a Reply