Home / Adab / Istri Juga Ingin Mendapat Kenikmatan Jima’

Istri Juga Ingin Mendapat Kenikmatan Jima’

Beberapa survey menyebutkan bahwa para istri tidak merasakan kenikmatan ini dan sebagian mereka menyembunyikan bahkan berbohong dari suami mereka, entah karena untuk menghibur suami atau alasan yang lain. Agama Islam yang lengkap dan sempurna telah mengatur hal ini.

Ada tiga faktor utama penyebabnya:

Pertama: suami cuek dan mau menang sendiri

Mungkin hal ini dilalaikan oleh sebagian suami, para suami ini hanya berpikir bagaimana mereka menunaikan hajat dan merasakan kepuasan kemudian selsai dan habis, titik. Memulai dengan kaku dan dingin tanpa pemanasan kemudian ditutup dengan Istri ditinggal tidur atau langsung pergi tanpa ada kata-kata penutup romantis yang sangat dinanti oleh istri.

Kedua: istri malu mengungkapkan dan berkomunikasi

Kemudian faktor lainnya, sebagian istri juga berbalut rasa malu dan segan ingin mengungkapkan keinginannya. Memang sifat dasar wanita yang berbalut malu. Padahal tidak sedikit wanita yang sangat berharap dan mereka juga sama dengan lelaki, jika tidak disentuh maka akan berpengaruh dengan emosi dan psikologis mereka.

Ketiga: wanita lebih butuh terhadap perhatian, kasih sayang dan belaian

Selain itu beberapa wanita tidak seperti laki-laki dimana jima’ adalah kebutuhan primer, karena kebutuhan primer wanita berupa perhatian, kasih sayang dan belaian terkadang melebihi kebutuhan jima’. Sehingga ada beberapa wanita yang sudah merasa cukup dengan perhatian, kata-kata lembut nan romantis serta belaian meskipun tidak mendapatkan kenikmatan dalam berjima’. Akan tetapi tetap saja yang satu ini diharapkan juga oleh wanita sebagaimana agama Islam memperhatikan hal ini.

Patutlah para suami memperhatikan perkataan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata,

لا تواقعها إلا وقد أتاها من الشهوة مثل ما أتاك لكيلا تسبقها بالفراغ

”Janganlah kamu menjima’ istrimu, kecuali dia (istrimu) telah mendapatkan syahwat seperti yang engkau dapatkan, supaya engkau tidak mendahului dia menyelesaikan jima’nya (maksudnya engkau mendapatkan kenikmatan sedangkan istrimu tidak).”[1]

 

Wanita juga punya nafsu syahwat seperti laki-laki

Ini perlu diketahui oleh para suami karena hakikatnya laki-laki dan wanita sama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنما النساء شقائق الرجال

“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” [2]

 

Syaikh Muhammad bin shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

:أنه إذا أتى أهله فقد أحسن إلى أهله، لأن المرأة عندها من الشهوة ما عند الرجل، فهي تشتهي الرجل كما يشتهيها، فإذا أتاها صار محسناً إليها وصار ذلك صدقة.

“jika seorang laki-laki “mendatangi” istrinya hendaklah “berbuat baik” kepadanya. Karena wanita memiliki syahwat sebagaimana laki-laki. Wanita juga mempunyai “keinginan” sebagaimana laki-laki mempunyai “keinginan”. Jika ia mendatangi istri dengan “berbuat baik” padanya maka ini termasuk sedekah.”[3]

Tidak sedikit juga wanita yang memiliki “keinginan” yang lebih besar bahkan tidak disangka-sangka oleh suami mereka.

 

Wanita mempunyai beberapa hak atas suami dan sebaliknya

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ

“…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…” (Al-Baqarah : 228)

 

Suami juga diperintahkan agar memperhatikan dan bermuamalah dengan baik kepada istrinya, termasuk nafkah batin

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ

“…Dan bergaullah dengan mereka (istri) dengan cara yang ma’ruf/ baik.” (Qs. An-Nisa’ : 19)

 

Bisa juga kita lihat kisah sahabat Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu yang sudah merasakan nikmatnya beribadah sampai lupa terhadap istrinya. Maka ia ditegur oleh sahabatnya Salman, agar ia juga memberikan nafkah batin kepada istrinya.

 

عن عون بن أبي جحيفة، عن أبيه، قال: آخى النبي صلى الله عليه وسلم بين سلمان، وأبي الدرداء، فزار سلمان أبا الدرداء، فرأى أم الدرداء متبذلة، فقال لها: ما شأنك؟ قالت: أخوك أبو الدرداء ليس له حاجة في الدنيا،

“Diriwayatkan dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, ia mengkisahkan: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjalinkan tali persaudaraan antara sahabat Salman (Al Farisi) dengan sahabat Abu Darda’, maka pada suatu hari sahabat Salman mengunjungi sahabat Abu Darda’, kemudian ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’ dalam keadaan tidak rapi,maka ia (sahabat Salman) bertanya kepadanya,

Apa yang terjadi pada dirimu?

 Ummu Darda’-pun menjawab,

Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak butuh lagi kepada (wanita yang ada di) dunia.”

 فجاء أبو الدرداء فصنع له طعاما، فقال: كل؟ قال: فإني صائم، قال: ما أنا بآكل حتى تأكل، قال: فأكل، فلما كان الليل ذهب أبو الدرداء يقوم، قال: نم، فنام، ثم ذهب يقوم فقال: نم، فلما كان من آخر الليل قال: سلمان قم الآن، فصليا

Maka tatkala Abu Darda’ datang, iapun langsung membuatkan untuknya (sahabat Salman) makanan, kemudian sahabat Salmanpun berkata,

“Makanlah (wahai Abu Darda)”

Maka Abud Darda’ pun menjawab,

“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Mendengar jawabannya sahabat Salman berkata,

“Aku tidak akan makan, hingga engkau makan”

maka Abu Darda’pun akhirnya makan. Dan tatkala malam telah tiba, Abud Darda’ bangun (hendak shalat malam, melihat yang demikian, sahabat Salman) berkata kepadanya,“Tidurlah, maka iapun tidur kembali, kemudian ia kembali bangun, dan sahabat Salmanpun kembali berkata kepadanya: tidurlah. Dan ketika malam telah hampir berakhir, sahabat Salman berkata: bangunlah sekarang, dan shalat (tahajjud).

فقال له سلمان: إن لربك عليك حقا، ولنفسك عليك حقا، ولأهلك عليك حقا، فأعط كل ذي حق حقه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم، فذكر ذلك له، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «صدق سلمان»

 

Kemudian Salman menyampaikan alasannya dengan berkata,

“Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan istri/keluargamu juga memiliki hak atasmu, maka hendaknya engkau tunaikan setiap hak kepada pemiliknya.”

Kemudian sahabat Abud Darda’ datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ia menyampaikan kejadian tersebut kepadanya, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawabnya dengan bersabda: Salman telah benar.”[4]

 

Anjuran Islam agar memperhatikan nafkah batin istri

“Mendatangi istri” adalah termasuk sedekah dan ibadah, tentu dalam ibadah kita harus melakukan dengan  “cara yang baik”.

Dari Abi Dzar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

( وفي بُضع أحدكم صدقة ) – أي في جماعه لأهله – فقالوا : يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال عليه الصلاة والسلام : ( أرأيتم لو وضعها في الحرام ، أكان عليه وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر ) رواه مسلم

”Dan di dalam kemaluan salah seorang di antara kalian adalah sedekah.” -Maksudnya dalam jima’nya (hubungan intim) terhadap istrinya– Maka mereka (Sahabat) berkata:”Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang di antara kami mendatangi keluarganya (menunaikan syahwatnya/jima’) dan dia mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabda:”Bukankah apabila dia menunaikannya (jima’) di tempat yang haram dia akan mendapatkan dosa?” Maka demikian juga seandainya dia menunaikannya di tempat yang halal (istrinya) maka dia akan mendapatkan pahala.”[5]

 

Begitu juga dengan kisah seorang wanita yang mengadu kepada Amirul mukminin Umar bin Khattab bahwa suaminya malam harinya shalat malam terus dan siangnya puasa terus. Artinya ia tidak mendapat nafkah batin. maka Islam memerintahkan agar memperhatikan hal ini.

عن محمد بن معن الغفاري قال: أتت امرأة عمر بن الخطاب رحمه الله، فقالت: يا أمير المؤمنين إن زوجي يصوم النهار، ويقوم الليل وإني أكره أن أشكوه، وهو يعمل بطاعة الله فقال: نعم الزوج زوجك، فجعلت تكرر عليه القول، وهو يكرر عليها الجواب، فقال له كعب الأسدي: يا أمير المؤمنين هذه المرأة تشكو زوجها في مباعدته إياها عن فراشه، فقال له عمر: كما فهمت كلامها فاقض بينهما

Muhammad bin Ma’an al-Ghifari berkata,

“Seorang perempuan datang kepada ‘Umar lalu berkata, ‘Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya suamiku siang hari puasa dan malam hari shalat. Aku tidak senang mengadu kepadanya karena ia menjalankan ketaatannya kepada Allah.’

Lalu ‘Umar berkata kepadanya, ‘Memang laki-laki itu adalah suamimu (suami yang shalih).”

Lalu berkali-kali perempuan tadi mengulangi perkataannya dan ‘Umar pun berkali-kali pula mengulang jawabannya.

Lalu Ka’ab al-Asadi berkata kepada ‘Umar, “Wahai Amirul Mu’minin, perempuan ini mengadukan keadaan suaminya karena ia membiarkan tidur sendirian.’

Lalu ‘Umar menjawab, ‘Kalau seperti itu yang kau fahami dari ucapannya, maka putuskanlah perkara antara keduanya.”

 

Akhirnya Ka’ab sebagai hakim setelah mendengar peryataan dari suami-istri tersebut, memutuskan perkara dan berkata,

إن لها حقاً عليك يا رجل … نصيبها في أربع لمن عقل

فاعطها ذاك ودع عنك العلل

ثم قال: إن الله عز وجل قد أحل لك من النساء مثنى وثلاث ورباع، فلك ثلاثة أيام ولياليهن تعبد فيهن ربك ولها يوم وليلة

‘Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atas dirimu, wahai kawan. Bagian dia ada pada yang empat (dua paha laki-laki dan dua paha perempuan), bagi orang yang berakal. Berikanlah itu kepadanya, Dan janganlah anda perpanjang alasan.’

Kemudian Ka’ab berkata, ‘Allah menghalalkan kamu menikahi empat perempuan. Tiga malamnya menjadi hakmu untuk menyembah Tuhanmu. Dan satu malam menjadi hak istrimu[6]

 

Beberapa cara yang diajarkan Islam

Perlu diketahui bahwa Islam tidak secara vulgar dan rinci menjelaskan bagaimana “berhubungan”  yang baik dan berkualitas. Dan termasuk kesalahan adalah menyebarluaskan dan merinci dengan serincin-rincinya. Memberitahu posisi A, posisi B, tehnik A, tehnik B, bahkan dengan gambar-gambar yang sangat berbahaya jika dilihat oleh pemuda dan anak-anak. Karena masalah ini adalah fitrah manusia dan insting manusia akan tahu sendiri. Dengan keterbukaan dan komunikasi yang jelas antar suami-istri dan gambaran dasar, maka sudah cukup. Selebihnya fitrah dan insting mereka yang jalan.

Walaupun beberapa buku petunjuk ataupun buku berlabel islami ditulis “buku ini bagi yang sudah atau akan menikah” maka tidak menjamin akan aman. Bahkan semakin dilarang, orang semakin mencari sebagaimana pepatah arab,

كل ممنوع مرغوب

“Setiap yang dilarang umumnya diinginkan/dicari”

 

Beberapa cara tersebut secara umum:

-melakukan pemanasan (foreplay)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Jabir radhiallahu ‘anhu ketika dia menikah dengan janda,

“فهلا بكراً تلاعبها وتلاعبك” (رواه الشيخان)، ولمسلم “تضاحكها وتضاحكك”


”Kenapa tidak gadis (yang engkau nikahi) sehingga engkau bisa mencumbunya dan dia mencumbumu?”
 [HR. Bukhari dan Muslim] dan dalam riwayat Muslim:”Engkau bisa mencandainya dan dia mencandaimu?”

 

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

قال ابن قادمة رحمه الله: ويستحب أن يلاعب امرأته قبل الجماع لتنهض شهوتها، فتنال من لذة الجماع مثل ما ناله

”Dianjurkan (disunahkan) agar seorang suami mencumbu istrinya sebelum melakukan jima’ supaya bangkit syahwat istrinya, dan dia mendapatkan kenikmatan seperti yang dirasakan suaminya.”[7]

 

Boleh dengan gaya apa saja selama masih di farji istri

 Allah Ta’ala berfirman,

نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم

Para istri kalian adalah ladang bagi kalian. Karena itu, datangilah ladang kalian, dengan cara yang kalian sukai.” [Al-Baqarah:223]

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مقبلة ومدبرة إذا كان ذلك في الفرج

“Silahkan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya”[8]

 

-jika ingin ‘Azl (coitus interuptus) hendaknya minta izin ke istri

Karena memutus tiba-tiba bisa mengurangi kenikmatan istri. Syaikh Muhammad Mukhtar As-Syingkiti rahimahullah berkata,

أي: يكره النزع قبل فراغ المرأة؛ لأن الرجل ربما أنزل قبل أن تنزل المرأة، فيكون قد أصاب شهوته ولم تصب المرأة شهوتها

 

“Dibenci mencabut (‘azl) sebelum wanita menyelesaikan “hajatnya”. Karena terkadang laki-laki mencapai kepuasan sebelum istri mencapai kepuasan. Terkadang ia sudah mendapati kenikmatan sedangkan istri belum mendapatkan.”[9]

 

Inti dari permasalahan ini adalah adanya komunikasi yang terbuka dan jelas antar suami dan istri, apa saja yang membuat suami puas, apa saja yang membuat istri puas, baik dari tehnik, gaya, trik dan perbaikan stamina keduanya. Dan perlu diketahui tidak semua rumah tangga bahagia hanya dengan permasalahan ini saja. Tetapi hal ini juga tidak juga diremehkan dan tidak diperhatikan.

 

Jangan sampai istri kecewa dan tidak suka terhadap suaminya

Terdapat beberapa kasus bahwa rumah tangga harus berakhir hanya karena masalah ranjang. Begitu juga ada wanita di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ingin cerai dari suaminya karena suaminya impoten. Hal ini perlu diperhatikan dan dimusyawarahkan dengan baik jika memang akan menjadi masalah.

Seorang suami harus memperhatikan hal ini. Syaikh Muhammad Mukhtar As-Syingkiti rahimahullah berkata,

ونبه العلماء على ذلك لما فيه من المفاسد، والعواقب الوخيمة، فإن المرأة تكره زوجها حينئذٍ، وتحس أنه يريد قضاء حاجته فقط، وأنه لا يلتفت إليها، ولا يريد أن يحسن إليها، ويكرمها في عشرته لها، فلربما حقدت عليه، ودخل الشيطان بينهما فأفسدها عليه، فيشرع بناءً على مقاصد الشرع العامة من حصول السكن والألفة، فعليه أن يعطي المرأة حقها

“Para ulama telah memperingatkan masalah ini karena ada mafsadah dan akibat yang buruk. Yaitu seorang istri membenci suaminya ketika itu. Istri merasa suaminya hanya sekedar ingin menunaikan syahwatnya saja, tidak perhatian dan tidak ingin berbuat baik kepadanya dan tidak menghormatinya dalam bermuamalah. Bisa jadi ia akan memusuhi suaminya. Dan setan masuk kemudian merusaknya. Maka syariat dibangun diatas tujuan umum untuk menciptakan kerukunan dan persatuan hati. Maka hendaklah ia memberikan hak kepada Istrinya.”[10]

 

Ada juga suami yang hanya berbuat baik kepada istirnya ketika ingin “meminta jatah” saja, kata-kata baik, ada rayuan dan belaian. Adapun jika selain itu, maka kata-katanya kasar, membentak dan anti belaian. Sehingga istri akan merasa benci terhadap suaminya.

Hal ini juga telah diingatkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لاَ يَجْلِدْ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِي آخِرِ الْيَوْمِ

“Janganlah salah seorang dari kalian mencambuk (memukul)  istrinya sebagaimana mencambuk (memukul) seorang budak lantas ia menjimaknya di akhir (malam) hari[11]

Semoga kita para lelaki bisa menjadi  suami yang perhatian terhadap istri dan berbuat baik terhadap mereka karena “wanita ingin lebih dimengerti”.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap Istrinya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan istriku.”[12]

wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid

23 Muharram 1434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB dan follow twitter

 


[1] Al-Mugni lbni Qudamah 8/136, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, syamilah

[2] HR. Ahmad no.26195, hasan lighairihi, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth

[3] Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah libni Utsaimin hadits ke-15

[4] HR. Bukhari no. 1968)

[5] HR. Muslim

[6] Baghiatut Thalab 2/454, Ibnul Adim, sumber: http://islamport.com/w/tkh/Web/363/954.htm

[7] Al-Mugni lbni Qudamah 8/136, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, syamilah

[8] HR. Bukhari (no. 4528) dan Muslim (no. 1435)

[9] Syarh Zadul Mustaqni’ bab ‘Usyratun Nisa’ sumber: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=129334

[10] idem

[11]  HR Al-Bukhari V/1997 no 4908 dan Muslim IV/2191 no 2855

[12] H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Al-Albani menilai hadits tersebut sahih

 

45 Comments

  1. george says:

    Assalamualaikum warrohmatullah, afwan ustadz yg sy tanyakan,Bolehkah secara syar’i memasukkan farji suaminya ke mulut istri?mohon pencerahannya

  2. Whiwhiex says:

    Bermanfaat Sekali,…! Andai Saja, Sebelum Pernikahan Diadakan Pelatihan-Pelatihan, Khususny Hak Istri & Suami Dlm Berumah Tangga & Bagaimana cara Pandang Islam Dalam Membina Keluarga Yg Harus Beradaptasi Sifat Istri & Suami & Bagaimana Cara Mendidik Anak Yg Baik. Mungkin Akan Mempermudah Dalam Menjalani Kehidupan Rumah Tangga. & Hal Tersebut Juga Dapat Mengurangi Perceraian.

  3. Abdullah Sani Nst says:

    Tks atas kirimannya yg sangat bermanfaat utk ummat.

  4. Temahot says:

    Ustadz, ada kasus seorang istri terkadang mau diajak ke atas ranjang dengan imbalan berupa uang setelah melakukan hubungan intim dengan suaminya. Apakah tindakan istri itu salah ?

  5. Ono Syamyono says:

    Terima kasih ustadz atas pencerahannya. mohon izin copy paste untuk disebarkan kepada yang lain. Insya Allah bukan untuk komersil.

  6. hamba Alloh says:

    Assalamu ‘alaikum.. Ustad bolehkah is3 mnta cerai suami karena suaminya jarang memperhatikan dan … Padahal mereka bertemu 2 bulan sekali karena suami kerja dluar kota. Is3 merasa sakit dan tdk dbutuhkan apakah boleh sesuai syariat is3 gugat cerai. Mksh.. Wassalamu alaikum…

    • Wa’alaikumussalam,
      Boleh jila suami memang sudah.tidk peduli sma skali walopun sudah dinasehati
      bida mngajukan fask ke hakim ato khulu’
      tpi klo khulu’ , anda harus mngembalikan mahar suami anda

  7. Yus says:

    Sangat bermanfaat, Jadi lebih paham dalam membina rumah tangga.
    Satu pertanyaan ustad.. bagaimana cara mensikapi sifat cemburu istri yang kadang kadang melewati batas..

  8. suci rezeki says:

    asalamualaikum ustad saya mau minta solusi suami saya ngga pernah minta berhubungan sejak saya melahirakan sampai saat ini anak saya umur 9bln..saya jadi suka suudzon krn suami saya sudah lama tdk memberi nafkah batin apa yg harus saya perbuat..

  9. anita rahmawati says:

    Saya ingin cerai sejak lama krn suami sdh impoten selama 15 tahun & tdk ada upaya utk menyembuhkan (enjoy2 aja seolah tdk terjadi apa2). Yg jd masalah adalah sy tdk memiliki pekerjaan krn dulu suami melarang sy bekerja. Usia pernikahan sy 22 thn, anak 2. Mohon jawabannya ustadz krn sy hrs segera membuat keputusan pindah rumah ke lain kota. Pertanyaan sy apakah stlh cerai anak2 msh mendapat hak nafkah dr bapaknya? dan apakah hak asuh anak2 akan jatuh pd bapaknya bila sy adalah pihak yg menggugat cerai? (sy dulu pernah minta cerai tp suami menolak dan mengancam tdk akan memberi nafkah pd anak istri). Terimakasih ustadz

    • Memang boleh.meminta cerai dgn alasan impoten,
      tetapi sebaiknya pikir2 matang2, anda sudah menjalani.hidup lama dgn suami,.mngkin bnyak pengorban dan perjuangan bersama
      Coba musyawarahkan dgn keluarga dan pikirkan/pertimbangkan lagi keinginan untuk meminta cerai

      Hukumnya jika sudah bercerai anak2 tetap di nafkahi oleh suami dan hukumnya wajib
      adapun mantan istri tidak wajib dinafkahi

  10. DillA says:

    Salam ustadz,. Afwan jawaban untuk pertanyaan saya mana pada tanggl 30 march kmaren?? Atas nama dilla,. Terakasih

  11. Hamba اَللّهُ says:

    Assalamualaikum Ustad saya rmh tngga udah hmpir 3thn lbih tp akhir2 ini sejak tahun 2015 smpe skrng suami saya sama sekali tidak memenuhi nafkah batin kpada saya,sya jdi punya pkiran negatif terhadap suami sya,apa yang harus saya lakuan Pak Ustad mhon pencerahan nya bgaimana..trmksh

  12. nia says:

    Ustad saya mau nanya
    Saya berumah tangga 3 tahun
    Pernikahan 1 thn suami saya mau tunda punya momongan..tp saya tetap mau punya momongan tp ujung2nya saya ikutin suami untuk tunda walaupun tolak batin dengan hati saya…dan skrng saya udh ga di jaga tp smp skrng saya blom memliki momongan..suami saya smp skrng tdk mau ikhtiar ke dokter..dengan berbagai macam alaasan..aapa saya berhak meminta cerai ?

  13. Adina says:

    Assalamu’alaikum..
    pak ustadz, saya ingin bertanya kepada bapak
    Saya dan kekasih saya sudah berpacaran sekitar 3 tahun pak dan saat ini kamii sudah bertunangan dan insyaALLAH kami akan menikah tahun depan pak..
    Jdii selama kamii tinggal bersama kami kesulitan mengontrol nafsu kami pak, sehingga kami hanya melakukan saling pegang alat kelamin untuk saling memuas kn pak.. apakah cara ini di benar kn dalam islam pak?? mhon pencerahan ny pak..

  14. ummu m says:

    Assalamu’ alaikum wr.wb. bagaimana jika suami terus terusan menjaga wudlunya dan berwirid hampir sepanjang waktu? Sehingga istri menyentuh saja tidak boleh. Sy menggugat cerai suami bukan karena hal ini. Tetapi karena suami tiba2 ada kelainan jiwanya stelah hampir 4 tahun menikah dan saya tidak dinafkahi lahir maupin batin. Stelah menikahpun tidak pernah menafkahi anaknya. Sy tidak mempermasalahkannya. Tapi bagaimana menurut islam?

  15. Hamba Allah says:

    Assalaamu’alaikum.

    ‘Afwan dokter Raehanul hafidzahullahu ana mau tanya…
    Sekitar dua tahun lalu ana pernah mengalami masalah dalam jima’, qadarullahu dua tahun lalu sekitar dua bulan setiap jima’ ana -afwan- sulit ereksi, frekuensinya selama sekitar dua bulan itu setiap jima dengan isteri 60% gagal karena sulit ereksi, 30% bisa jima namun dengan ereksi yg kurang maksimal dan setiap penetrasi ke kemaluan isteri rasanya kemaluan ana langsung mau orgasme. dan 10%nya berhasil normal, walhamdulillah.

    Namun ana coba ikhtiar dengan berolah raga lari pagi 3-4 kali sepekan selama 30 menit, minum vit c setiap hari dan Alhamdulillah ana sembuh.

    Namun ketika ramadhan, meski ana tetap lari pagi 3-4 kali sepekan dan minum vit C penyakit ana kembali lagi (sulit ereksi), namun ba’da ramadhan sembuh kembali.
    Nah, beberapa pekan ini (setelah berlalu dua tahun) penyakit sulit ereksi itu kembali datang, termasuk saat ramadhan tahun ini.

    Pertanyaan ana :

    1. Sebenarnya apa penyakit yg ana alami dok?
    2. apa yg harus ana lakukan untuk mengobati penyakit ana?
    3. Bila memeriksakan ke dokter, dokter apakah yg harus ana datangi? dan -‘afwan- kira kira biayanya berapa ya dok?

    trmksi, Jazaakallahu khoir

  16. Hamba Allah says:

    Assalaamu’alaikum.

    ‘Afwan dokter Raehanul hafidzahullahu ana mau tanya…
    Sekitar dua tahun lalu ana pernah mengalami masalah dalam jima’, qadarullahu dua tahun lalu sekitar dua bulan setiap jima’ ana -afwan- sulit ereksi, frekuensinya selama sekitar dua bulan itu setiap jima dengan isteri 60% gagal karena sulit ereksi, 30% bisa jima namun dengan ereksi yg kurang maksimal dan setiap penetrasi ke kemaluan isteri rasanya kemaluan ana langsung mau orgasme. dan 10%nya berhasil normal, walhamdulillah.

    Namun ana coba ikhtiar dengan berolah raga lari pagi 3-4 kali sepekan selama 30 menit, minum vit c setiap hari dan Alhamdulillah ana sembuh.

    Namun ketika ramadhan, meski ana tetap lari pagi 3-4 kali sepekan dan minum vit C penyakit ana kembali lagi (sulit ereksi), namun ba’da ramadhan sembuh kembali.
    Nah, beberapa pekan ini (setelah berlalu dua tahun) penyakit sulit ereksi itu kembali datang, termasuk ramadhan saat ini.

    Pertanyaan ana :

    1. Sebenarnya apa penyakit yg ana alami dok?
    2. apa yg harus ana lakukan untuk mengobati penyakit ana?
    3. Bila memeriksakan ke dokter, dokter apakah yg harus ana datangi? dan -‘afwan- kira kira biayanya berapa ya dok?

    trmksi, jazaakallahu khoir.

  17. Hamba Allah says:

    Asasalamu alaikum
    Dokter minta pencerahannya
    Saya sudah kawin kurang lebih 9thn
    Alhamdulillah sekarang sudah di karuniai 3 anak
    Tapi hawa jima saya masih terasa keras yg ingin melakukan jima tiap hari.
    Dan masalahnya istri saya tidak bisa memenuhi kebutuhan saya
    Saya tidak pernah merasakan kepuasan dan malah istri sya sekarang sudah 6 bulan keharmonisan kami renggang bukan hanya kurang dalam melakukan hubungan intim sampai2 kesehariannya kami jarang bercanda tawa
    Saya mau tanya hukum di dalam islam kalo menceraikan istri karna tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis siami
    Dan seandainya pakai obat siapa yg harus berobat??
    Apakah saya biar keinginan saya berkurang??
    Atokah istri saya biar keinginannya bertambah
    Trimakasih sebelumnya mohon jawabannya

  18. Hamba Allah says:

    Terimakasih ustad sudah berbagi, sangat bermanfaat informasinya terlebih untuk pasangan yang baru menikah.

  19. Efi Putriyani says:

    Asslmua’alikum ustad..
    saya sudah 11 tahun menikah dengan suami dan memiliki 2 orng putri, karena rumah kami cuma punya 1 kamar tidur jadi suami tidur diluar dan saya sama anak2 tidur dikamar. bila ingin “jima’ kami melakukan diluar, itu sudah berlangsung selama 8tahun.
    pertanyaanya kenapa sekarang suami saya begitu dingin?? sampai saya mau dekat sama dia pun dia gak suka, dia selalu menolak dengan alasan anak2 sudah besar, besok aja, dll.. tapi diam2 saya sering melihat dia onani.. bantu saya donk ustad, apa yang harus saya lakukan agar suami tidak lagi berzina dengan tangannya..

  20. yasmine says:

    Assalamu’alaykum ,, ustadz bolehkah istri berada diposisi atas ketika berjima’..? Bgmn menurut syari’at dan medis,,,?

  21. Izin share.barakallahufiq

  22. Sangat bermanfaat sekali informasinya,saya juga memiliki informasi seputar Psikologi,berikut linknya http://www.leppsi.gunadarma.ac.id

Leave a Reply