Home / Adab / Lelah Menjaga Harta dan Menjadi  Budak Harta

Lelah Menjaga Harta dan Menjadi  Budak Harta

Bisa jadi manusia benar-benar tertipu dengan dunia ini [1]. Sebagian manusia bisa menjadi budak dunia dan budak harta, harta yang memerintahkan mereka agar ke sana ke mari, bekerja sangat lelah mengorbankan semuanya demi tamak pada harta.

Kami teringat permisalan yang kecil saja mengenai harus menjaga harta dan bahkan sampai level budak harta. Ceritanya begini, kami yang tinggal di kota Yogya (mungkin kota lain juga), jika membeli helm motor, beli helm yang tidak terlalu bagus (tidak terlalu mahal).
Mengapa? Karena kalau helm bagus, akan mudah hilang jika kita kita taruh begitu saja di motor. Bahkan sebagian orang sengaja menempel poster-poster tertentu pada helm yang baru dibeli agar terlihat sudah lama atau tidak terlalu bagus/bukan helm baru. Agar ketika helm disimpan ketika parkir motor, tidak mudah hilang dan pemiliknya pun dengan tenang memarkir motor dan simpan helm kemudian pergi.
Kami punya sahabat yang helmnya bagus dan mahal. Kami saksikan sendiri ketika pergi bersamanya. Pada waktu akan parkir motor, helm bagusnya selalu dibawa masuk ke dalam ruangan atau dia bawa ke manapun (padahal helm mahal berat). Jangan coba-coba pasang helm bagus dan dikunci di motor, tetap saja bisa hilang yaitu pencuri akan memotong talinya.
Kami pribadi merasa tenang, helm agak murah tapi nyaman, mau hilang juga tidak terlalu masalah (tidak mengundang pencuri juga). Berbeda dengan teman kami tadi, dialah yang menjaga helm tersebut tidak tenang dan menjadi beban.
Mari kita renungkan diri kita dengan harta kita sekarang. Apakah kita tenang? Atau tidak tenang dengan harta karena harus menjaganya dan pusing bagaimana akan digunakan? Khawatir kalau mati, akan ke mana harta ini dan siapa yang akan menjaga?
Inilah yang dijelaskan ulama bahwa harta itu bisa jadi kita yang menjaga, sedangkan ilmu itu menjaga kita.
Ibnul Qayyim berkata,
ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ 
“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.”[2]
Budak dunia dan budak harta inilah yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda
ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”.[3]
Ibnu Katsir membawakan syair.
ﺃﻧﺖَ ﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﺴﻜﺘَﻪ … ﻓﺈﺫﺍ ﺃﻧﻔﻘﺘَﻪ ﻓﺎﻟﻤﺎﻝُ ﻟَﻚْ …
“Engkau akan menjadi budak harta jika engkau menahan harta tersebut. Akan tetapi, jika engkau menginfakkannya, harta tersebut barulah jadi milikmu.”[4]
Allah telah berfirman agar kita tidak lalai karena harta kita.
ﻳﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun [63]: 9)
CATATAN:
1. Kaya bukanlah tercela dalam Islam. Hanya saja semakin kaya, hendaknya semakin dermawan, bukanya semakin meningkatkan gaya hidup
Silahkan baca tulisan kami:

Salah Paham: Zuhud Itu Harus Miskin


2. Kebanyakan manusia sejatinya hanya menumpuk harta saja. Sedikit dari harta tersebut yang ia nikmati, selebihnya hanya disimpan di bank dan dinikmati bahkan bisa jadi diperebutkan oleh ahli warisnya
Silahkan baca tulisan kami:

Harta Kita yang Sebenarnya dan Renungan Bagi Penumpuk Harta karena Tamak

Demikian semoga bermanfaat
@Markaz YPIA, Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] Dunia memang menipu manusia. Allah berfirman,
ۖ ﻭَﻏَﺮَّﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺷَﻬِﺪُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
“Kehidupan dunia telah menipu mereka.” (Al-An’am/6:130)
[2] Miftah Daris Sa’adah 1/29
[3] HR. Bukhari
[4] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 443

Leave a Reply