Home / Adab / Menelan Ludah Apakah Puasa Batal? Bagaimana Dengan Menelan Dahak?

Menelan Ludah Apakah Puasa Batal? Bagaimana Dengan Menelan Dahak?

telan air ludah dan dahak puasa batal

Menelan ludah ketika berpuasa

Jawabannya menelan ludah TIDAK Membatalkan puasa.

Hal ini katakan oleh imam An-Nawawi sebagai ijma’ (kesepakatan ulama), beliau berkata,

ابتلاع الريق لا يفطر بالإجماع

“Menelan air ludah tidak membatalkan puasa secara ijma’”[1]

Tidak bisa diipungkiri bahwa menahan diri agar tidak menelan air ludah adalah hal yang sulit karena terkadang manusia otomatis menelan ludah mereka. Dan agama Islam tidaklah diturunkan untuk memberatkan manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj :78)

Allah Ta’ala juga berfirman,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (AL-Baqarah: 185)

 

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وما لا يمكن التحرز منه كابتلاع الريق لا يفطر، لأن اتقاء ذلك يشق

“Apa yang tidak mungkin menjaga diri darinya misalnya menelan ludah maka tidak membatalkan puasa, karena menjaga hal ini bisa memberatkan”[2]

 

Demikian juga fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ابتلاع الصائم ريقه لا يفسد صومه ولو كثر ذلك وتتابع في المسجد وغيره، ولكن إذا كان بلغما غليظا كالنخاعة فلا تبلعه، بل أبصقه في منديل ونحوه إذا كنت في المسجد.

Menelan ludah tidak membatalkan puasa, meskipun banyak atau sering dilakukan ketika di masjid dan tempat-tempat lainnya. Akan tetapi, jika berupa dahak yang kental maka sebaiknya tidak ditelan, tetapi keluarkan (diludahkan) di saputangan atau sejenisnya (tissue) jika di masjid.[3]

 

Menelan Dahak ketika berpuasa

Adapun menelan dahak, maka diperselisihkan dan yang terkuat adalah TIDAK membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utasimin rahimahullah berkata,

البلغم أو النخامة إذا لم تصل إلى الفم فإنها لا تفطر، قولاً واحداً في المذهب، فإن وصلت إلى الفم ثم ابتلعها ففيه قولان لأهل العلم:

منهم من قال: إنها تفطر، إلحاقاً لها بالأكل والشرب

ومنهم من قال: لا تفطر، إلحاقاً لها بالريق، فإن الريق لا يبطل به الصوم، حتى لو جمع ريقه وبلعه، فإن صومه لا يفسد.

وإذا اختلف العلماء فالمرجع الكتاب والسنة، وإذا شككنا في هذا الأمر هل يفسد العبادة أو لا يفسدها؟ فالأصل عدم الإفساد وبناء على ذلك يكون بلع النخامة لا يفطر.

والمهم أن يدع الإنسان النخامة ولا يحاول أن يجذبها إلى فمه من أسفل حلقه، ولكن إذا خرجت إلى الفم فليخرجها، سواء كان صائماً أم غير صائم، أما التفطير فيحتاج إلى دليل يكون حجة للإنسان أمام الله عز وجل في إفساد الصوم.

Menelan dadak, jika belum sampai ke mulut maka tidak membatalkan puasa. Ulama madzhab hambali sepakat dalam hal ini. Namun jika sudah sampai ke mulut, kemudian dia telan, dalam hal ini ada dua pendapat ulama.

Pertama: Itu membatalkan puasa, karena disamakan dengan makan dan minum.

Kedua: Tidak membatalkan puasa, karena disamakan dengan ludah. Karena ludah tidak membatalkan puasa. Bahkan andaikan ada orang yang mengumpulkan ludahnya kemudian dia telan maka puasanya tidak batal.

Sikap yang tepat, ketika terjadi perselisihan ulama, kembalikan kepada al-Quran dan sunnah. Jika kita ragu dalam suatu hal, apakah termasuk pembatal ibadah ataukah tidak, hukum asalnya adalah tidak membatalkan ibadah. Berdasarkan hal ini, menelan dahak tidak membatalkan puasa.

Yang terpenting, hendaknya seseorang tidak menelan dahak dan tidak berusaha mengeluarkannya dari mulutnya ketika berada di tenggorokan. Namun jika sudah sampai mulut, hendaknya dia membuangnya. Baik ketika sedang puasa atau tidak lagi puasa. Adapun, keterangan ini bisa membatalkan puasa, maka keterangan ini butuh dalil. Sehingga bisa menjadi pegangan seseorang di hadapan Allah bahwa ini termasuk pembatal puasa.[4]

 

demikian semoga bermanfaat

 

@Pogung Lor -Jogja, 25 Sya’ban 1434 H

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

 

 


[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/317, syamilah

[2] Al-Mughni 3/16

[3] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 9584, syamilah

[4] Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, Volume 17, no. 723

31 Comments

  1. BajuExport says:

    Alhamdullilah nambah pengalaman

  2. Dimas Angga says:

    terima kasih kakak akhirnya aku bisa tau 🙂

  3. susan says:

    alhamdulillah akhirny bisa tenang ber ibadah,,
    saya kira bisa membatalkan puasa

  4. Amalia says:

    Terimakasih banyak infonya 🙂
    Kadang-kadang produksi ludah di mulut suka mengganggu saat puasa, sehingga jika sedang berada di masjid/sekolah kadang-kadang saya menelannya, dan saya ragu…takut…Alhamdulillah jadi tenang.
    Terimakasih banyak, artikel-artikel disini sangat bermanfaat 🙂

  5. Terima kasih atas pèmberitahuan nya jadi nambah ilmu di bulan puasa.

  6. Terima kasih kakak semoga jawaban ini bisa menjadi motivasi buat diriku dalam puasaku..

  7. Andriyakub says:

    Admin, kalau misalnya batuk, terus dahaknya keluar secara tidak sengaja. Terus terpaksa ditelan* soalnya lagi dalam pelajaran sekolah..
    Apa itu membatalkan puasa?

  8. arifin says:

    min tapi kok di penjelasan bahwah menelan dahak pada saat keluar ke mulut tidak batal karena di samakan sama ludah ?? mohon penjelasannya min

  9. ALI says:

    dpt dah jwbanya.. syukran

  10. min kalau ludah di mulut lalu ditelan apakah membatalkan puasa ?

  11. day says:

    alhamdulillah, ini penjelasan yang saya tunggu dan cari-cari selama ini…terimakasih gan, semoga ibadah puasa kita diterima Alaah SWT

  12. farisa says:

    admin klo mau buang dahak tapi susah untuk ke luarkan dahak nya tersebut masih di dalam tenggorokan apa kah itu batal?

  13. dimas says:

    mau tanya..,,menelan ludah setelah berwudu gmna ya hukumnya??

  14. egi defiska says:

    assalamualaikum bang, btw makaudnya sampai mulut gimana? soalnya ludahkan emang di mulut
    terimakasih

  15. Alhamdulillah saya jadi tenang pada saat puasa saya sering menelan ludah

  16. Anin says:

    Bagaimana kalau menelan ludah secara sengaja agar rasa haus hilang?? Apakah itu membatalkan puasa?? Yang aku maksud gak banyak ludah nya cuma sedikit

  17. Dayat says:

    Pak usatdz semenjak sya tahu ada bilang menelan dahak membatalkan puasa, saya menjadi was was menelan liur sama dahak. Jdi pas saya tau bila dahak yang ada di kerongkan ditelan tidak batal. Maka gimana ustadz ketika saya keluarkan dahak tersebut selalu ingin saya keluarkan karna gk habis habis atau masih sesukut seidikti di mulut sepertinya masih prasangka. Dan gimana pendapat anda bila ada makanan di mulut terus kita lakukan gerak pristaltik langsung si tenggorokan apakah makanan bisa masuk ? Trima kasih

  18. Veby says:

    kak , kalau saya menelan air ludah apakah batal atau tidak ,

  19. Napit says:

    Terima kasih untuk semua informasinya ya.semoga bermamfaat bagi semua.amin

  20. […] (Webs = Visite.Webs || []).Terbaru({}); Menelan ludah ketika berpuasa Jawabannya menelan ludah TIDAK Membatalkan puasa. Hal ini katakan oleh imam An-Nawawi sebagai ijma’ (kesepakatan ulama), beliau berkata, ابتلاع الريق لا يفطر بالإجماع “Menelan air ludah tidak membatalkan puasa secara ijma’”[1] Tidak bisa diipungkiri bahwa menahan diri agar tidak menelan air ludah adalah hal yang sulit karena terkadang manusia otomatis menelan ludah mereka. Dan agama Islam tidaklah diturunkan untuk memberatkan manusia. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj :78) Allah Ta’ala juga berfirman, يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (AL-Baqarah: 185) Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وما لا يمكن التحرز منه كابتلاع الريق لا يفطر، لأن اتقاء ذلك يشق “Apa yang tidak mungkin menjaga diri darinya misalnya menelan ludah maka tidak membatalkan puasa, karena menjaga hal ini bisa memberatkan”[2] Demikian juga fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, ابتلاع الصائم ريقه لا يفسد صومه ولو كثر ذلك وتتابع في المسجد وغيره، ولكن إذا كان بلغما غليظا كالنخاعة فلا تبلعه، بل أبصقه في منديل ونحوه إذا كنت في المسجد. Menelan ludah tidak membatalkan puasa, meskipun banyak atau sering dilakukan ketika di masjid dan tempat-tempat lainnya. Akan tetapi, jika berupa dahak yang kental maka sebaiknya tidak ditelan, tetapi keluarkan (diludahkan) di saputangan atau sejenisnya (tissue) jika di masjid.[3] Menelan Dahak ketika berpuasa Adapun menelan dahak, maka diperselisihkan dan yang terkuat adalah TIDAK membatalkan puasa. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utasimin rahimahullah berkata, البلغم أو النخامة إذا لم تصل إلى الفم فإنها لا تفطر، قولاً واحداً في المذهب، فإن وصلت إلى الفم ثم ابتلعها ففيه قولان لأهل العلم: منهم من قال: إنها تفطر، إلحاقاً لها بالأكل والشرب ومنهم من قال: لا تفطر، إلحاقاً لها بالريق، فإن الريق لا يبطل به الصوم، حتى لو جمع ريقه وبلعه، فإن صومه لا يفسد. وإذا اختلف العلماء فالمرجع الكتاب والسنة، وإذا شككنا في هذا الأمر هل يفسد العبادة أو لا يفسدها؟ فالأصل عدم الإفساد وبناء على ذلك يكون بلع النخامة لا يفطر. والمهم أن يدع الإنسان النخامة ولا يحاول أن يجذبها إلى فمه من أسفل حلقه، ولكن إذا خرجت إلى الفم فليخرجها، سواء كان صائماً أم غير صائم، أما التفطير فيحتاج إلى دليل يكون حجة للإنسان أمام الله عز وجل في إفساد الصوم. Menelan dadak, jika belum sampai ke mulut maka tidak membatalkan puasa. Ulama madzhab hambali sepakat dalam hal ini. Namun jika sudah sampai ke mulut, kemudian dia telan, dalam hal ini ada dua pendapat ulama. Pertama: Itu membatalkan puasa, karena disamakan dengan makan dan minum. Kedua: Tidak membatalkan puasa, karena disamakan dengan ludah. Karena ludah tidak membatalkan puasa. Bahkan andaikan ada orang yang mengumpulkan ludahnya kemudian dia telan maka puasanya tidak batal. Sikap yang tepat, ketika terjadi perselisihan ulama, kembalikan kepada al-Quran dan sunnah. Jika kita ragu dalam suatu hal, apakah termasuk pembatal ibadah ataukah tidak, hukum asalnya adalah tidak membatalkan ibadah. Berdasarkan hal ini, menelan dahak tidak membatalkan puasa. Yang terpenting, hendaknya seseorang tidak menelan dahak dan tidak berusaha mengeluarkannya dari mulutnya ketika berada di tenggorokan. Namun jika sudah sampai mulut, hendaknya dia membuangnya. Baik ketika sedang puasa atau tidak lagi puasa. Adapun, keterangan ini bisa membatalkan puasa, maka keterangan ini butuh dalil. Sehingga bisa menjadi pegangan seseorang di hadapan Allah bahwa ini termasuk pembatal puasa.[4] —————- [1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/317, syamilah [3] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 9584, syamilah [4] Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, Volume 17, no. 723 Dikutip Dari : Muslimafiyah.com […]

  21. […] 9584, syamilah [4] Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, Volume 17, no. 723 Dikutip Dari : Muslimafiyah.com Prev Article Next […]

Leave a Reply