Home / Adab / Sangat Ingin Melihat Langsung Akhlak Dan Amal Ulama

Sangat Ingin Melihat Langsung Akhlak Dan Amal Ulama

akhalak ulama

Mohon maaf, Tulisan berikut sekedar sharing. Dari dulu saya bertekad bahwa seumur hidup harus pernah belajar langsung dengan ulama yang terpercaya, terutama di dua kota yang sudah mendapat jaminan bahwa ilmu yang benar akan ada terus sampai hari kiamat yaitu mekkah dan Madinah. Yang saya inginkan bukan sekedar menimba ilmu dari para ulama, akan tetapi sangat ingin melihat akhlak dan penerapan ilmu langsung dari para ulama. Ini yang lebih penting. Dengan sarana belajar di zaman ini yang cukup memadai, kemudian ustadz di negara kita juga banyak yang ilmunya mumpuni. InsyaAllah akses ilmu mudah kita dapatkan bagi mereka yang berjiwa hanif dan serius belajar agama. Bahkan ada beberapa ustadz yang mungkin tidak pernah belajar dengan ulama akan tetapi ilmu mereka hampir menyamai atau bahkan melebihi mereka yang belajar langsung dengan para ulama.

Bukan berarti tidak ada ustadz di negeri kita yang akhlak dan ilmunya bisa di contoh, insyaAllah ada beberapa yang kami temui memiliki akhlak dan tawaddhu yang luar biasa. akan tetapi untuk masalah akhlak dan amal, kita ingin melihat yang lebih baik lagi. Agar kami bisa mencontoh langsung dan berusaha memperbaiki akhlak dan amal kami.

Beberapa kesempatan lalu, alhamdulillah saya sempat bertemu dan melihat langsung akhlak dan penerapan ulama walaupun sebentar (saya sangat senang dan berharap, yang sering menemai dan belajar dari ulama cukup menceritakan akhlak dan amal mereka yang luar biasa dan mungkin mustahil terjadi). Saya diajak oleh sahabat sekaligus guru bahasa Arab saya menuju tempat fatwa para ulama bagi jamaah di Mina. Karena beliau adalah sopir pribadi dan asisten salah satu syaikh yang buta total. Ketika itu jam istirahat malam.

Yang pertama:

saya diperkenalkan oleh beberapa syaikh oleh sahabat saya. Beberapa syaikh sedang jalan melintas dan sibuk dengan urusannya, dipanggil oleh beliau dan saya diperkenalkan. Ternyata saya yang mungkin tidak punya kedudukan dan bukan siapa-siapa disambut oleh syaikh, diajak ngobrol dan bertanya dimana belajar bahasa Arab dan lain-lain, tentunya dengan seyuman dan wajah ceria padahal sepertinya syaikh sedang sibuk. Saya langsung berpikir, kalau orang biasa mungkin akan menyapa seadanya dan mungkin sekedar melempar senyuman (kadang senyum dipaksakan). Dan mungkin itu yang saya lakukan jika saya berada diposisi syaikh apalagi sedang sibuk.

Bisa jadi syaikh menerapkan dan mengamalkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا

“Sebaik-baik amal Shalih adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”[1]

Hadits ini agak sulit kita terapkan, karena sifat dasar manusia adalah memikir diri dan membuat senang diri sendiri dulu, Baru orang lain. Jarang terpikir dalam mainset kita, bagaimana supaya orang gembira dan senang dengan cara yang sesuai syariat tentunya.

Dan juga hadits ini,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria/bermanis muka”.[2]

 

Dengan melihat akhlak langsung seperti ini, saya bertekad, semoga Allah membantu agar selalu berwajah ceria di depan manusia, tidak meremehkan orang lain dan berusaha membuat orang lain gembira

Karena ada juga yang sudah belajar agama lama tetapi akhlaknya semakin rusak, wajah sangar dan bengis, perkataan kotor dan suka mencela serta suka meremehkan orang lain. Bahkan sampai pada tingkatan ustadz dan mereka menjadi contoh para muridnya.

Silahkan baca :

“sudah lama ngaji tetapi akhlak semakin rusak”

 

Kedua:

Sahabat saya dipanggil oleh syaikh ketua rombongan untuk memasang/instal modem laptop. Sayapun diajak ke ruangan istirahat syaikh yang cukup bagus dan ekslusif serta kecil, sekitar 3×3 meter. Setelah modem dipasang, sahabat saya bilang, kita lanjutkan ngobrol-ongobrol di sini. Tentu saya langsung merasa tidak enak, syaikh ternyata sedang mengerjakan laporan akhir untuk kegiatan fatwa selama tugas. Sedangkan dengan ruangan kecil tentu ngobrol-ngobrol kita akan menganggu. Akan tetapi sahabat saya bilang, “biasa aja, syaikh malah tidak senang kalau kita menganggap beliau seperti orang berkedudukan, kami di sini diperlakukan hampir seperti anak sendiri.”

Kalau orang biasa, misalnya seorang bos, tentu mungkin tidak seperti ini, atau seorang guru dengan murid. Atau atasan dengan bawahan. Ternyata ini contoh tawaddu yang luar biasa menurut saya.

Yang ada diantara kita yang sudah paham agamapun mungkin agak susah menerapkan seperti ini. Bahkan daya dapati oknum ustadz (sekadar oknum, jumlahnya sedikit), sangat ingin dihormati dan diperlakukan istimewa oleh muridnya, beberapa dari kita agak takut untuk bertemu atau berbicara karena bisa jadi oknum ustadz memasang label “jaim” berlebihan. Dan saya mendapat beberapa cerita dari beberapa orang yang mengalami langsung dan berkomentar

“ustadz kok kayak gitu akhlaknya”

Setelah melihat langsung, sayapun bertekad dan semoga Allah menolong, agar senantiasa tawaddhu, tidak gila hormat dan menjaga jarak.

Itulah hakikat tawaddhu yaitu tidak merasa lebih tinggi derajatnya dari orang lain.
‘Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.”[3]

karena bisa jadi orang lain walapun ilmu dan amalnya secara dzahir kurang tetapi sangat ikhlas dan diterima oleh Allah. Berbeda dengan kita yang bisa jadi diracuni dengan riya dan sum’ah.

masih ada beberapa contoh yang lain lagi. Saya yang hanya sebentar sekali bisa melihat langsung sangat takjub, apalagi yang sudah melihat bertahun-tahun atau kenal baik denga para ulama. Saya berharap banyak dari mereka yang menceritakan kisah-kisah akhlak dan amal langsung dari para ulama yang masih hidup saat ini dan bisa dijumpai.

Karena bisa jadi setan membisikkan, akhlak dan teladan itukan hanya ada di zaman Nabi dan ulama dahulu, sekarang zaman sudah berubah kalau tidak lebih mementingkan diri sendiri, mana bisa eksis. Dan beberapa bisikan jelek lainnya.
inilah alasan mengapa saya dan mungkin semua penuntut ilmu sangat ini menuntut ilmu langsung dari ulama yaitu agar bisa mencontoh langsung akhlak para ulama. Sebagaimana pepatah kita “satu teladan lebih baik dari 1000 nasehat”
ini juga yang dilakukan oleh ulama dan generasi seterusnya.hanya dengan melihat akhlak gurunya saja mereka langsung merasa tenang dan kuat menghadapi ujian dunia dan agama.
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami  mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.[4]

 

Akhlak dan adab juga yang seharusnya pertama kali ditiru sebelum ilmu guru kita, ini adala adab dalam menuntut ilmu. Dan akhlak yang mulia cukup perlu perjuangan untuk mencapainya.

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullahu,

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم

 

“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.[5]

 

Demikianlah sehingga akhlak yang mulia adalah amalan  yang paling banyak memasukkan ke dalam surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”[6]

 

Semoga Allah memperbaiki akhlak dan amal kita karena terlalu banyak kisah dan teladan dakwah menjadi lancar dan orang mau menerima Islam serta manhaj para sahabat dengan akhlak yang mulia. Sebaliknya akhlak yang rusak walaupun dakwah yang kita dakwahkan adalah al-haq, maka banyak yang menolaknya.

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:

أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ

 

“Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.”[7]

 

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.

 

@Pogung Lor, Yogyakarta
Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

 


[1] HR.Ibnu Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir no. 1096

[2] HR. Muslim no. 2626

[3] Hilyatul Awliya’ 2/226, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Asy-Syamilah

 

[4] Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah

[5] Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah

[6] HR At-Thirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

 

[7] HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419

 

5 Comments

  1. Abu Fathir says:

    Barakallahu Fiik share nya semoga kita dapat mencontoh para pewaris Akhlak nabi Kita Shallahu wa alaihi wassalam

  2. kiki says:

    Jazakumulloh Khoiron

  3. Hosli says:

    السلام عليكم
    Mas Raehan, apakah ada dalil (argumentasi) yang menyatakan jaminan ilmu yang benar akan senantiasa ada di Harramain sampai hari kiamat? Saya juga ingin sekali bertemu dan belajar langsung dengan para ulama di sana.
    جزاك الله

Leave a Reply