Home / Adab / Ulama Menganjurkan Untuk Merantau, Lebih Dewasa Dan Berpengalaman Hidup

Ulama Menganjurkan Untuk Merantau, Lebih Dewasa Dan Berpengalaman Hidup

Memang benar perkataan orang tua dahulu, hendaknya kita merantau supaya kita tahu makna penting keluarga, ketika jauh dari keluarga maka kita tahu betapa mereka sangat menyayangi kita dan kita juga menyayangi mereka terutama orang tua kita. Dengan merantau kita juga  tahu bagaimana adab dan sopan-santun dengan sesama teman dan masyarakat. Dahulunya orang tua kita yang berurusan dengan masyarakat, sekarang kita yang berurusan langsung dengan mereka.

Demikian juga para ulama, mereka menganjurkan agar seseorang merantau, keluar dari kampung dan negerinya. Lebih-lebih untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman hidup.

Iman Syafi’i rahimahullah berkata,

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ                             إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

Merantaulah…

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan…
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang…[1]

 

Seseorang jika ingin mendapatkan ilmu maka ia harus keluar dari rumahnya dan mencari ilmu. Imam Bukhari berkata dalam shahihnya,

باب الخروج في طلب العلم

 

“Bab keluar untuk menuntut ilmu”

 

Seorang tabi’in terkenal Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah berkata,

إن كنت لأسير الليالي والأيام في طلب الحديث الواحد

 

“Sesungguhnya aku berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.”[2]

 

Ibnul Jauziy berkata,

طاف الإمام أحمد بن حنبل الدنيا مرتين حتى جمع المسند

 

“Imam Ahmad bin Hambal keliling dunia dua kali hingga dia bisa mengumpulkan musnad.”[3]

 

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bercerita sendiri,

سَافَرت فى طلب الحَدِيث وَالسّنة إِلَى الثغور والشامات والسواحل وَالْمغْرب والجزائر وَمَكَّة وَالْمَدينَة والعراقين وَأَرْض حوران وَفَارِس وخراسان وَالْجِبَال والأطراف

 

“Aku mengembara mencari hadist dan sunnah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko, Al-Jazair, Makkah, Madinah, Iraq, Wilayah Hawran, Persia, Khurasan, gunung-gunung dan penghujung dunia.”[4]

 

Dari Abdurrahman, aku mendengar Ubai berkata,

أول سنة خرجت في طلب الحديث أقمت سبع سنين أحصيت ما مشيت على قدمي زيادة على ألف فرسخ : لم أزل أحصى حتى لما زاد على ألف فرسخ تركته

 

“Tahun pertama mencari hadits, aku keluar mengembara mencari hadits selama 7 tahun, menurut perkiraanku aku telah berjalan kaki lebih dari seribu farsakh (+ 8 km). Aku terus terus menghitung hingga ketika telah lebih dari seribu farsakh, aku menghentikannya.”[5]

 

Ibnu mandah berkata,

طُفت الشَّرقَ وَالغربَ مرَّتين

 

“saya mengelilingi timur dan barat (untuk menuntut ilmu) sebanyak dua kali”[6]

 

Inilah gambaran dan contoh dari para ulama, berjalan jauh dan merantau untuk menuntut ilmu. Bagaimana dengan kita? Menghadiri majelis ilmu di kampung saja masih enggan? Padahal ingin kemuliaan?

 

@Pogung Dakangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB dan follow twitter

Add Pin BB www.muslimafiyah.com ketiga 7F39E247, Grup telegram Putra (+6289685112245), putri (+6281938562452)

 

[1] Diiwan Imam As-Syafii

[2] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/395 no.569, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah

[3] Shaidul Khatir hal.246, dikutip dari www.alhanabila.com

[4] Al-Maqshadul Arsyad 1/113-114, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, cet.I, 1410 H, Syamilah

[5] Al-Jarh wa At-ta’dil 1/359,  Dar Ihya’ At-turats, Beirut, cet. I, 1427 H, Syamilah

[6] Siyar A’lam An-nubala 12/503 Darul Hadits, koiro, 1427 H, syamilah

9 Comments

  1. yusuf says:

    asslamu’alaikum stad,’afwan ana punya musykilah yang sangat besar ,ana sekolah kelas 3 MA ,ana sudah terlanjur masuk program keagamaan ,disana terdapat pelajarn tasawuf ,ilmu kalam yang mengganjal di hati ana ,sekalipun ilmu hadist atau tafsir pentarbiyahnya jauh dari sunnah ,sekolah ana bernuansa tasawuf ,dan manhaj salaf disana benar benar terasing ,saya merasakan keresahan yang sangat stad ,sedangkan daya saya tidak dapat menghasilkan apa2 dan kebetulan saya mempunyai ade yang sama sejalan dengan saya ,sudah terlanjur masuk program tersebut ,syukron mohon solusinya

  2. Dhea says:

    Tapi ini khusus laki-laki kan ustadz?

  3. Rian seribu pulau.93# says:

    .. kalau masih ada yang paling penting d’ pelajari.dikit demi sedikit,,,?

  4. Hatta says:

    Assalamualaiku pak.ustad, saya hatta…
    Saya anak bungsu dr 4 bersaudara… saya sudah hidup jauh dr orang tua selama 10 tahun, karena kuliah di malang…
    Alhamdulillah, saya sudah lulus kuliah sekarang…
    Saya berniat untuk mencari pekerjaan di malang, karena saya tidak nyaman utk tinggal di samarinda karena alasan tertentu.. namun saya harus meninggalkan ibu saya lagi, dan ayah saya sudah meninggal… saat ini ibu saya tinggal dengan saudara saya.di smd…
    Apakah jika.saya memutuskan bekerja di malang tidak pa2.? Saya takut.menjadi anak durhaka pada ibu saya… mohon petunjuknya… terima kasih…
    Wassalam…

  5. ari pradana says:

    Assalamu’alaikum Ustad. Mhon Sarannya.. saya pernah kuliah di Pekanbaru alhamdulillah skrg udah lulus dsini Saya tinggal bersma tman satu kosan. Waktu hari raya idul fitri saya pulang ke Pontianak tmpat klahiran krna sdah 2 tahun tdk pulang. Saat sya dipontianak saya kebingungan dan mnjadi fakum serta jrang utk bergaul. Saya memutuskan akan kembali merantau ke pekanbaru Dgn pandangan saya mudah bergaul dipekanbaru dan mengingat bnyak ilmu yg bsa saya dpatkan ketimbang dipontianak. namun, Ibu Saya pernah berkata jgn meninggalkan beliau. Kbtulan beliau jga tinggal bersma adik2 saya yg masih kecil2 kbetulan saya anak pertama. Di kmudian hari sya kmbali berdiskusi kpd kdua org tua saya mengenai kmauan saya yg ingin kmbali mrantau, mereka mnyerahkan smua kputusannya kpd saya. Dan saya mlihat alasan yg dibrikan ibu Saya berbeda dgn alasan sblumnya. Mhon sarannya Bagaimna mnurut ustad..?

Leave a Reply