Home / Bimbingan Islam / Hamil Usia Muda Dan Hamil Usia Tua Bukan Faktor Utama Gangguan Kesehatan

Hamil Usia Muda Dan Hamil Usia Tua Bukan Faktor Utama Gangguan Kesehatan

1ind88ex

Menyebar berita di masyarakat bahwa hamil usia muda dan hamil usia tua bisa menyebabkan gangguan kesehatan bagi sang ibu maupun bayi. Dalam ilmu kedokteran hamil usia muda (kurang lebih di bawah 18 tahun) dan hamil usia tua (kurang lebih 35 tahun ke atas) adalah faktor resiko gangguan kesehatan. Sehingga banyak yang khawatir dan menunda kehamilan dengan alasan usia masih muda, ataupun mencukupkan diri melahirkan anak karena usia sudah masuk usia 35 tahun ke atas.

Yang benar -insyaAllah Ta’ala- adalah hamil di usia muda maupun tua bukan faktor resiko utama gangguan kesehatan, akan tetapi ada faktor utama lainnya yang harus diperhatikan. Sehingga para muslimah tidak perlu khawatir untuk hamil muda ataupun hamil di usia tua. Hal ini -insyaAllah- dalam rangka menerapkan ajaran Islam yaitu memperbanyak keturunan dan mendidik mereka dengan pendidikan yang baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراً

Dan Kami jadikan kelompok yang lebih besar. [Al-Isra’: 6]

عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ”[1]

 

Sebelumnya kami sampaikan tanya jawab dengan Syaikh  Prof. Abdullah bin Jibrin rahimahulah,

Pertanyaan:

س: ما هو رأيكم فيمن يقول: إن من أسباب الإصابة بالإعاقة الزواج المبكر والولادة المتأخرة للمرأة؟

Apakah benar perkataan, “penyebab lahirnya anak yang terkena penyakit kelainan mental karena menikah muda dan hamil usia tua”?

ج: هذا غير صحيح، فإن في كثير من الدول والفرق يحصل الزواج المبكر، ففي فرقة الرافضة لا يجاوز الشاب عندهم السابعة عشر غالبا حتى يتزوج، وفي دولة اليمن يزوجونه بعد البلوغ وغالبا قبل العشرين، ولا يوجد هناك في الأولاد معوق إلا نادرا كما يوجد في أولاد غيرهم، وأما المرأة فقد كانت في الزمن الأول تلد وهى عجوز، أي: في الخمسين أو بعدها، ولم يعرف في أولادها المعوق إلا نادرا، وبالجملة فهو قضاء الله وقدره، ولا ننكر أن يكون هناك أسباب معلومة أو غير معلومة يمكن العلاج لها، وقد لا تمكن معرفتها ليعرف العباد عظم نعمة الله تعالى في تمام الخلق وإحسانه

Jawaban:

Hal ini tidak benar. Banyak negara dan kelompok di mana terjadi pernikahan usia muda. Pada kelompok Syi’ah Rafidah, tidaklah usia pemuda-pemudi mereka melewati 17 tahun, mereka sudah menikah pada umumnya. Di negara Yaman, mereka menikah setelah usia baligh dan umumnya sebelum 20 tahun.

Adapun wanita pada zaman dahulu, mereka melahirkan pada usia yang sudah tua, yaitu pada usia 50 tahun atau lebih. Tidaklah diketahui bahwa anak mereka mengalami kelainan mental kecuali sedikit.

Kesimpulannya, ini adalah takdir dan ketetapan Allah. Kita tidak mengingkari bahwa memang ada sebab yang diketahui dan sebab yang tidak diketahui yang mungkin bisa diobati. Terkadang kita tidak mengetahuinya agar Hamba (Manusia) mengetahui kebesaran nikmat Allah Ta’ala dalam kesempurnaan ciptaan dan kebaikan-Nya.[2]

 

Faktor utama tersebut adalah stres

Sebagaimana yang disampaikan dalam jawaban pertanyaan di atas bahwa orang dahulu biasa menikah muda dan hamil tua, akan tetapi mereka tidak mengalami gangguan kesehatan baik sang ibu maupun anaknya. Kita tidak perlu menengok jauh di masa silam, tetapi tengoklah kakek-nenek dan buyut kita, mereka menikah muda dan hamil di usia muda. Kemudian memiliki banyak anak dan hamil di usia tua, akan tetapi cukup jarang kita mendengar mereka mengalami ganguan kesehatan atau terpaksa harus operasi caesar.

Faktor resiko utama tersebut adalah stres, ketika zaman suah mulai berubah, wanita sudah mulai bekerja (ingat, Islam tidak melarang secara mutlak wanita bekerja), wanita bekerja sebagai pegawai kantor atau bisnis (wanita karir)  yang membutuhkan konsentrasi dan penuh dengan  persaingan serta tuntutan. Sehingga mereka terpapar dengan stres, ditambah lagi ketika hamil, wanita mendapat waktu cuti yang sedikit.

Sehingga di zaman ini cukup sering kita mendengar wanita melahirkan dengan operasi caesar yang tentu saja karena ada alasan medis (ada juga operasi caesar bukan karena alasan medis). Dahulu mungkin kita jarang sekali mendengar lahir dengan operasi caesar, karena dahulu (misalnya zaman kakek-nenek dan buyut kita) wanita ketika hamil mereka fokus menjaga kehamilan mereka, mereka di rumah dan tidak bekerja berat dan penuh stessor sebagaimana di zaman ini.

 

Solusinya:

Ketika wanita hamil dan bekerja, maka mereka diberikan cuti yang cukup lama dan mereka diberi beban pekerjaan yang ringan. Dan lebih baik lagi jika suami sudah cukup memberikan nafkah, maka istri tidak perlu bekerja mencari uang lagi, fokus di rumah dan mendidik anak-anak mereka dengan sebaik-baik didikan agama. Karena mendidik anak agar sukses akhirat butuh fokus dan konsentrasi. Jika sekedar sukses di dunia, maka orang kafirpun bisa mendidik anak agar sukse di dunia saja.

Demikianlah, karena fitrah bagi wanita adalah lebih banyak tinggal di rumah. Allah sendiri yang memerintahkan dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.”[Al-Ahzab:33]

 

Alhamdulillah, Semoga bermanfaat.

@pogung Lor-Jogja, 13 Rabi’us Tsani 1434 H

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 

 


[1] HR Ibnu Hibban 9/338,Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784

Leave a Reply