Semua Takdir Allah Baik Meskipun Manusia Menganggapnya Buruk

[Rubrik: Faidah Ringkas]
Dalam kehidupan ini, kita akan melalui berbagai macam keadaan. Terkadang kita merasakan kebahagiaan, tetapi pada waktu yang lain kita merasakan kesedihan. Kadang hidup terasa lapang, kadang pula sempit. Ada saatnya kita sehat, namun ada pula saatnya ditimpa penyakit atau musibah. Semua itu silih berganti menghiasi perjalanan hidup manusia.
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa seluruh peristiwa tersebut terjadi dengan takdir Allah. Karena itu, keimanan kepada takdir tidak hanya mencakup hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga hal-hal yang terasa menyakitkan. Di antara rukun iman adalah beriman kepada takdir, baik maupun buruk.
Dari sini muncul sebuah pertanyaan. Apakah mungkin Allah menakdirkan sesuatu yang menurut kita buruk? Jawabannya, ya. Akan tetapi, kita perlu membedakan antara sesuatu yang ditakdirkan dengan takdir Allah itu sendiri. Sesuatu yang Allah takdirkan bisa saja tampak sebagai keburukan dari sudut pandang manusia. Adapun takdir Allah itu sendiri, maka semuanya adalah kebaikan, karena Allah tidak menetapkan sesuatu kecuali dengan hikmah yang sempurna. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ
“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
أن الخيرية والشرية ليست باعتبار قضاء الله -سبحانه وتعالى-; فقضاء الله تعالى كله خير، حتى ما يقضيه الله من شر هو في الواقع خير، وإنما الشر في المقضي، أما قضاء الله نفسه; فهو خير
“Kebaikan dan keburukan tidak dinilai dari sudut pandang qadha (ketetapan) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab seluruh qadha Allah adalah baik. Bahkan sesuatu yang Allah tetapkan berupa keburukan, pada hakikatnya tetap mengandung kebaikan. Yang menjadi keburukan adalah objek yang ditetapkan (al-maqdhi), sedangkan qadha Allah itu sendiri adalah kebaikan.” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab at-Tauhid, 2/416)
Makna ini semakin tampak dalam firman Allah Ta’ala,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Segala kerusakan yang terjadi di muka bumi, baik berupa bencana maupun berbagai musibah lainnya, semuanya terjadi dengan kehendak Allah, meskipun Allah sendiri tidak menyukainya. Tetapi Allah mentakdirkannya karena mengandung hikmah yang besar, di antaranya agar manusia merasakan sebagian akibat dari ulah perbuatannya sehingga mereka sadar, bertaubat, dan kembali kepada-Nya.
Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan seorang dokter yang harus mengamputasi kaki pasiennya. Sekilas, tindakan itu tampak buruk karena pasien kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Namun, keputusan tersebut justru diambil demi menyelamatkan nyawanya. Jika kaki yang rusak itu tidak diamputasi, infeksi dapat menyebar ke organ tubuh lainnya dan bisa mengancam kehidupannya. Dilihat dari sisi kaki yang harus dipotong, tentu itu merupakan suatu keburukan. Namun jika dilihat dari tujuan akhirnya, tindakan tersebut justru merupakan kebaikan.
Oleh karena itu, ketika Allah mentakdirkan sesuatu yang tidak kita sukai, hendaklah kita tetap berbaik sangka kepada-Nya. Sebab di balik setiap takdir terdapat hikmah yang terkadang belum mampu kita lihat pada saat itu.
Pemahaman inilah yang akan melahirkan ketenangan dalam menjalani kehidupan. Seorang mukmin akan lebih mudah menerima takdir Allah dengan kesabaran dan kelapangan dada, karena ia yakin bahwa Rabbnya tidak pernah menetapkan sesuatu dengan sia-sia. Allah berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)



