Home / Adab / Berdoa Minta Kematian ketika Sakit atau Terkena Musibah

Berdoa Minta Kematian ketika Sakit atau Terkena Musibah

­

Tidak boleh meminta kematian karena sakit atau terkena musibah. Sebagian orang terkadang ada yang terkena ujian/musibah berat, misalnya:

-Terkena penyakit kanker stadium akhir atau terkena AIDS
-Punya banyak hutang sehingga hidup sempit

Akhirnya ia sangat berangan-angan mati bahkan berdka kepada Allah agar segera dimatikan.

Ketika sakit berat atau mengalami kesengsaraan, bisa jadi beberapa orang yang kurang kuat imannya mengharapkan bahkan bedoa lebih baik ia mati dibandingkan hidup dengan keadaan seperti ini. Bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban. Hal ini tidak selayaknya dilakukan oleh seorang muslim baik ketika sakit ataupun keadaan yang lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah dia berdoa untuk mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan.”[1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin rahimahullah menjelaskan,

والنهي هنا للتحريم؛ لأن تمني الموت فيه شيء من عدم الرضا بقضاء الله، والمؤمن يجب عليه الصبر

“Larangan di sini adalah haram (bukan makruh, pent), karena berangan-angan agar mati adalah perbuatan tidak ridha dengan takdir Allah. Seorang mukmin wajib bersabar dengan takdir Allah.”[2]

 

Yang benar, jika menyerahkannya kepada Allah. Kita berdoa sebagaimana yang diajarkan berikut ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ

“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa ia mengharapkannya, maka hendaknya dia berdoa,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.[3]

 

Hendaknya seseorang jangan berangan-angan kematian dan berpikir jangan dengan ucapan “seandainya” untuk berangan-angan menentang takdir Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam melakukan apa yang bermanfaat untuk dirimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan malas. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu akan demikian dan demikian.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.’ Adapun kata ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi setan (agar engkau tidak menerima takdir).”[4]

Bagi mereka yang merasa gundah gulana terhadap musibah yang terjadi. Sebaiknya yakin dengan takdir Allah, insyaAllah ada hikmahnya dan ada kebaikannya. Lebih baik ia membaca doa yang diajarkan dalam islam untuk menghilangkan gundah gulana dan tentu dengan berusaha meyakini takdir Allah yang terbaik

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang tertimpa rasa gundah, sedih, lalu ia mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِى بِيَدِكَ مَاضٍ فِىَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِىَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِى وَنُورَ صَدْرِى وَجَلاَءَ حُزْنِى وَذَهَابَ هَمِّى

(Wahai Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu (yang lelaki) dan anak dari hamba-Mu (yang perempuan), takdirku di tangan-Mu, keputusan-Mu telah tetap padaku dan qadha-Mu adalah adil untukku, aku memohon kepada-Mu, dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang telah Engkau beri nama dengannya diri-Mu atau yang telah Engkau ajarkan nama tersebut kepada siapapun dari makhluk-MU atau yang telah Engkau turunkan di dalam kitab (suci)-Mu atau yang telah Engkau simpan di dalam Imu gaib milik-Mu, jadikanlah Al Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dalam dadaku dan penghilang kesedihanku serta pelenyap kegundahanku.”[5]

Maka kegunadahan dan kesediahannya akan menjadi ketenangan dan kebahagiaan.

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

[1] HR. Muslim no. 2682

[2] Syarah Riyaduh shalihin, sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18213.shtml

[3] HR. Al-Bukhari no. 5671 dan Muslim no. 2680

[4]  HR. Muslim

 

[5] HR. Ahmad

6 Comments

  1. rosma says:

    Assalamu’alaykum warahmatullaahi wa baarokaatuh.
    Ustadz bagaimana sebaiknya apabila ada teman yg bertanya benarkah apa yg dia amalkan bhw dia(sbg ketua klmpk pengjn)tlh menghadiri undangan klmpk pengjn yg lain dlm perayaan maulid nabi dg alasan niatnya hanyalah silaturahmi? Sedangkan dia tau bhw perayaan maulid itu termasuk bid’ah? Sedangkan dia merasa sbg simbol bagi teman2nya yg lain(ketua) kl dia tdk hadir yg lain pun tidak hadir? Akan ttp dia sungkan u tdk hadir& padahal selama ini klmp pgjn yg lain ikut membantu jg kegiatan dakwah islam yg dikelola org2 salaf?Dia tdk mau dianggap kaku dlm bergaul& dia tdk suka melihat ada org2 salaf yg hanya mau ikut pengajian salaf..Saya mhn nasehat ustadz.Jazaakallaahu khairan.

  2. rosma says:

    Ustadz,sebenarnya sy sdh memberi nasehat bhw sebaiknya kita beramal hanya u mendapatkan ridho Allaah Subhaanahu wa Ta’ala& jgn u mndpt ridho manusia& sy katakan kl bersama mereka dlm perayaan tsb berarti sama dg mereka walau niatnya tdklah seperti itu.Dan saya katakan bergaul gak papa asal gak usah hadir di acr tsb.Hanya saja jawaban saya tdk memuaskannya…kr dia beranggapan bhw kl dia gak hadir dia sungkan dg mereka&dia ingin tetap menjaga hub baik alasannya& siapa yg akan dakwah dg mereka. Mhn nasehatnya..Baarokallaahu fiik.

  3. […] [1] Berdoa Minta Kematian Ketika Sakit. [2] Tafsir At Taubah Ayat 50-61. [3] Seseorang Akan Mendapat Ujian Sebanding Kualitas Imannya. [4] Tafsir Al Baqarah Ayat 154-162. […]

  4. Agus Suheli says:

    Bagaimana jika kita sudah lelah untuk menjalani hidup ini . Karna sejatinya kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan di dunia ini, padahal Allah menciptakan yang jahat dan yang baik dalam bingkai takdir. Contoh Allah menciptakan Firaun dan nabi Musa. Dan kita di iming iming surga dan di takut takuti oleh neraka.

    • Mintalah kepada Allah agar selalu diberikan kekuatan utk menjalani hidup. Karena hakikatnya di dunia ini tidak ada kesengsaraan 100% begitupun kebahagiaan. Keduanya dipergilirkan di dunia ini.

      Kebahagiaan yg hakiki hanya ada disurga, begitupun kesengsaraan hakiki hanya ada di neraka.

      Berdoalah agar diberikan ketetapan hati ketika ujian menimpa.

  5. Tirta says:

    Lek jalani koyo Soro tenan

Leave a Reply