Home / Adab / Cara Membaca Doa Malam Lailatul Qadar 

Cara Membaca Doa Malam Lailatul Qadar 

Telah kita ketahui bersama doa yang dibaca ketika malam lailatul qadar adalah

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).”
[HR. Tirmidzi]

Bagaimana cara membaca doa ini? Berikut caranya:

1. Doa ini dibaca secara sendiri-sendiri sebagaimana hukum asal berdoa adalah sendiri-sendiri dan dengan suara lirih

2. Doa ini dibaca ketika malam hari yaitu pada malam di mana ada dugaan kuat malam itu adalah malam lailatul qadar

Sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah untuk membaca doa ini ketika menjumpai malam lailatul qadar.

3. Tidak ada jumlah tertentu berapa kali kita membaca doa ini, kita baca doa ini di sela-sela ibadah yang kita lakukan di malam lailatul qadar

Karena ibadah pada malam lailatul qadar itu bervariasi. Syaikh Bin Baz mengatakan,

يكون بالصَّلاة ، والذِّكر ، والدُّعاء ، وقراءة القُرآن ، وغير ذلك من وجوه الخير

“Menghidupkan Lailatul Qadr dapat dilakukan dengan melakukan shalat, dzikir, do’a, membaca al-Quran dan berbagai bentuk kebaikan yang lain.” [Fatawa Ibnu Baz 15/426]

4. Bisa juga doa ini dibaca pada setiap malam-malam sunnah yaitu malam disunnahkan i’tikaf 10 hari terakhir.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,

يجوز أن يقوله في سائر أيام السنة ويحرص على أن يقوله في ليلة القدر.

“Boleh mengucapkan doa ini pada semua malam-malam sunnah dan hendaknya bersemangat untuk memgucapkan doa ini pada malam lailatul qadar. [http://www.alfawzan.af.org.sa/node/16290]


Hendaknya kita bersemangat membaca doa ini karena mengandung makna yang agung. Ibnu Rajab berkata,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Perintah meminta maaf/ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya bersungguh-sungguh beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang bijaksana adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, akan tetapi dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (shalih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

“Bukanlah orang yang bijaksana jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” [Lathaiful Ma’arif, hal. 362-363]

Demikian semoga bermanfaat

@ Masjid MPR, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com


Leave a Reply