Faidah Ringkas

Doa Ketika Sedang Sedih & Ditimpa Kegalauan

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Kehidupan ini tak selamanya senang dan bahagia. Suka dan duka akan datang silih berganti. Seorang mukmin ketika mendapatkan kenikmatan yang membuatnya senang, maka dia akan bersyukur. Sebaliknya ketika mendapatkan kesempitan, mungkin dia akan bersedih, tetapi setelah itu dia akan bersabar. Itulah ujian seorang mukmin. Allah berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Tidak ada yang tercela dari rasa sedih karena sedih adalah naluri manusia, semisal karena musibah yang baru saja menimpa atau karena terluput darinya kebaikan atau terjatuh dalam kemaksiatan. Yang tercela adalah apabila sedih tersebut semakin berlarut-larut hingga mengantarkannya pada pelanggaran syariat, memukul-mukul dirinya, merobek-robek bajunya, menampar pipinya, bahkan sampai pada sikap berputus asa terhadap rahmat Allah dan membenci takdir-Nya.

Sikap-sikap semacam itu adalah buah dari kesedihan yang dimanfaatkan oleh syaithan. Jika manusia tidak bisa menyikapi kesedihan dengan baik dengan membiarkannya terus berlarut-larut, maka kesedihan itu akan menjadi sasaran empuk syaithan untuk menggelincirkannya.

Salah satu obat manjur untuk menghilangkan kesedihan adalah dengan berdoa dan mengadu kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan sebuah doa yang sangat lengkap untuk menghilangkan kesedihan (tentang sesuatu yang sudah atau sedang terjadi) dan kegalauan (tentang sesuatu yang belum terjadi), yaitu:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ،أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, anak hamba (laki-laki)-Mu, anak hamba (perempuan)-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, telah lewat bagiku hukum-Mu, keadilan takdir-Mu bagiku. Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegalauanku.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 1: 391 dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 198)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sering berdoa,

اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الهمِّ والحزنِ والعَجزِ والكَسلِ والبُخلِ والْجُبْنِ وضَلَعِ الدَّينِ وغلبةِ الرِّجالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari al-hamm (galau dengan sesuatu yang belum terjadi), al-hazn (sedih dengan sesuatu yang sudah terjadi), ketidakberdayaan, kemalasan, pelit, ketakutan, hutang yang tak bisa terbayarkan, dan ditindas oleh orang.” (HR. Bukhari no. 2893)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti kesedihan-kesedihan kita dengan kegembiraan.

Artikel www.muslimafiyah.com
(Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button