Home / Kesehatan Islam / Keimanan Jangka Panjang Vs Jangka Pendek

Keimanan Jangka Panjang Vs Jangka Pendek

Motivasi yang lahir tentunya karena seseorang beriman penuh dengan iman yang kuat [baca: percaya sekali] terhadap apa yang ia lakukan ini akan memberikan suatu manfaat baginya. Dan keimanan itu ada “keimanan jangka pendek” dan “keimanan jangka panjang”.
Contoh “keimanan jangka pendek”:
-jika terjadi gempa, maka orang yang tadinya lagi malas-malasan tidur di rumah, maka ia langsung termotivasi bergerak keluar rumah. Karena ia yakin dan percaya [baca: beriman] kalau tidak keluar rumah nanti bahaya. “keimanan jangka pendek” karena dampaknya dalam waktu dekat segera ia dapatkan jika tidak keluar rumah.
Kemudian contoh “keimanan jangka panjang”:
-seorang karyawan yang rajin, mau diperintah bosnya karena yakin nanti akhir bulan akan mendapat gaji
-seseorang yang belajar bertahun-tahun supaya mendapat gelar empat tahun lagi. Jadi ia lawan rasa malas belajar karena ia yakin empat tahun lagi ia akan mendapat gelar.
-seseorang yang ingin badannya langsing, maka ia berusaha menahan nafsu makannya, berolahraga melawan rasa malas selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun karena ia yakini ini bisa diperoleh.
 
Keimanan yang jangkanya paling panjang
akan tetapi kita perlu ingat ada “Keimanan yang jangkanya paling panjang” yaitu beriman dengan hari kiamat yang memang sangat jauh waktunya sampai-sampai ada yang berkata bahwa kiamat itu tidak akan datang.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّاء مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً
“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang.” [Fusshilat: 50]
 
Kita yakin bahwa hidup kita di dunia ini sangat sementara. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman,
إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”. [Al-Mukminun: 23]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مالي و لي الدنيا إنما مثلي ومثل الدنيا كمثل راكب قال في ظل شجرة ثم راح وتركها
“Apa urusanku dengan dunia ? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia adalah seperti pengembara yang tidur siang hari di bawah naungan pohon. Ia istirahat, lalu meninggalkannya” [HR. Ahmad 1/391 dan At-Tirmidzi no. 2377; shahih].
 
Kita yakin benar bahwa kelak kita akan mempertanggungjwabkan semua perbuatan kita dihadapan Allah satu-persatu, yakin benar bahwa apa yang kita amalkan didunia ini berupa amal shalih akan mendapat ganjaran di hari akhir nanti. Akan tetapi mengapa kita masih malas beramal? sering bermaksiat? padahal kita tahu bahwa itu semua akan diberi ganjaran kelak. Itu menunjukkan bahwa iman yang lemah atau bahkan tidak ada iman sama sekali.

@Perpus FK UGM,  Yogyakarta Tercinta
Penyusun:   Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com
 
silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter
 

Leave a Reply