Home / Adab / Musibah Awal Tahun: Ramalan Awal Tahun Walau Sekedar Iseng Coba-Coba

Musibah Awal Tahun: Ramalan Awal Tahun Walau Sekedar Iseng Coba-Coba

Di awal tahun baru, mulailah beberapa peramal baik yang kondang terkenal ataupun pemula membuat ramalan apa yang akan terjadi setahun kedepan. Ramalan-ramalan muncul di televisi, media dan surat kabar baik berupa ramalan langsung dari peramal ataupun berupa zodiak dan ramalan bintang. Beberapa orangpun sebenarnya tidak percaya karena memang tidak masuk akal akan tetapi mereka tetap ikut sekedar coba-coba, iseng ataupun sekedar meramaikan. Ramalan ini bisa menjadi musibah baik dunia dan akhirat bagi pelakunya walaupun sekedar iseng.

 

Musibah dunia dan akhirat

Percaya dengan ramalan adalah musibah karena diancam dengan kekafiran. Tentu saja musibah besar di akhirat kerena bisa diancam kekal di neraka. Wal’iyadzu billah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada (Al-Qur’an) yang telah diturunkan pada Muhammad.”[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ

Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya.”[2]

Tidak hanya mendatangi saja, tetapi sekedar percaya saja bisa diancam juga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan (seperti zodiak misalnya, pent), maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.[3]

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata,

وإما أن يكون الإخبار عن المستقبل صادر عن التنجيم الذي هو الاستدلال بالأحوال الفلكية على الحوادث الأرضية كما قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وهذا من عمل أهل الجاهلية وقد جاء الإسلام بإبطاله والنهي عنه ومن ذلك ما ينشر في بعض المجلات من معرفة الحظ والنحس استدلالاً بما يقع في الأبراج من ولادة أو سفر أو نحو ذلك من الأكاذيب والشعوذات.

“Adapun pemberitaan mengenai masa akan datang (ramalan) yang muncul dari ilmu perbintangan (astrologi/ramalan zodiak) yaitu berpatokan dengan keadaan bintang terhadap kejadian di bumi. Maka hal  ini sebagaimana perkataan syaikul Islam Ibnu Taimiyyah: ‘Hal ini merupakan perbuatan orang jahiliyah dan Islam telah datang untuk menghapuskan dan melarangnya. Termasuk hal ini apa yang tersebar di sebagian majalah-majalah yang di kenal dengan “untung dan buntung” (ramalan zodiak) dengan berpatokan pada rasi bintang kelahiran atau safar atau yang semisalnya berupa kebohongan dan hal mistis.”[4]

 

Musibah juga walaupun sekedar iseng coba-coba

Walaupun ia tidak percaya, tetapi sekedar coba-coba, iseng dan sekedar ikut meramaikan, maka ini juga musibah. Karena sekedar mendatangi tukang ramal saja, maka shalat tidak diterima 40 hari.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.”[5]

Imam An-Nawawi rahimahullah  menjelasakan,

وأما عدم قبول صلاته فمعناه أنه لاثواب له فيها وإن كانت مجزئة في سقوط الفرض عنه ولايحتاج معها إلى إعادة

“Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”[6]

 

 

padahal shalat adalah amal yang pertama kali ditimbang, jika baik maka baik seluruh amal dan sebaliknya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أول ما يحاسب عليه العبد الصلاة فان صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.” [7]

Dan shalat adalah tiang agama. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذَرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

“Inti dari seluruh perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” [8]

 

Makhluk tidak tahu masa depan, hanya Allah yang tahu Ilmu ghaib

Jelas para peramal tidak tahu masa akan datang karena hanya Allah yang tahu ilmu ghaib.

Allah Ta’ala berfiman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (An Naml: 65).

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Hanya beberapa makhluk saja yang tahu masa akan datang karena mendapat wahyu dari Allah. Mereka adalah orang yang Allah ridhai dari golongan Rasul. Adapun peramal, jelas tidak diridhai oleh Allah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

فالغيب عند الله عز وجل ومختص به سبحانه وتعالى يعلم ما كان وما يكون وما لم يكن لو كان كيف يكون، يعلم ما يكون في الآخرة وما في الجنة والنار ويعلم الناجين من الهالكين، ويعلم أهل الجنة ويعلم أهل النار ويعلم كل شيء سبحانه وتعالى، والرسل إنما يعلمون ما جاءهم به الوحي، فما أوحى الله به إليهم يعلمونه، كما قال سبحانه وتعالى: عَالِمُالْغَيْبِفَلَايُظْهِرُعَلَىغَيْبِهِأَحَدًا (26) إِلَّامَنِارْتَضَىمِنرَّسُولٍ[

“Ilmu ghaib di sisi Allah hanyalah khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi dan bagaimana kejadiannya. Allah mengetahui apa yang terjadi di akhirat, surga dan neraka. Mengetahui siapa-siapa  yang selamat dan binasa. Mengetahui penduduk surga dan penduduk neraka dan mengetahui segala sesuatu. Sedangkan para Rasul mengetahui dengan perantara wahyu dan apa yang Allah wahyukan kepada mereka sebagaimana firman Allah, “Allah mengetahui hal ghaib, tidaklah ia menampakkan kepada seseorangpun kecuali yang ia ridhai dari golongan para rasul.” (Al-Jin: 26-27).”[9]

 

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid

20 Shafar 1434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 


[1] HR. Ahmad no. 9532, hasan

[2] HR. Al Bazzar dalam musnadnya.

[3] HR. Abu Dawud (3905), Ibnu Majah (3726), Ahmad (1/227, 311) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/435)

[5] HR. Muslim no. 2230

[6]  Syarh Muslim lin-nawawi 14/227, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. II, 1392 H

 

[7] HR. Thabrani dan Ash Shahihah 3/346 oleh Asy Syaikh Al-Albani

[8] HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138

Leave a Reply