Home / Adab / Saat di Mana Dakwah Dengan Sikap Lebih Dibutuhkan Daripada Dakwah Dengan Lisan

Saat di Mana Dakwah Dengan Sikap Lebih Dibutuhkan Daripada Dakwah Dengan Lisan

Terkadang ada saatnya dakwah dengan sikap lebih mengena dan lebih baik daripada dakwah dengan lisan. Bahkan dakwah dengan sikap bisa jadi merupakan dakwah yang paling tepat dan mengena. Sebagaimana nasehat dari ulama:

Satu contoh akhlak dan adab yang baik bisa mengalahkan 1000 majelis ilmu tentang akhlak

Sebagaimana contoh seorang anak yang baru mengenal dakwah ahlus sunnah dan berusaha menerapkan sunnah seperti memelihara jenggot dan celana cingkrang. Di keluarganya ia berusaha berdakwah atau minimal menjelaskan mengapa ia memelihara jenggot yang lebat atau celana yang cingkrang yang kurang lazim di masyarakat.

Adalah dakwah yang bijak dan penuh hikmah jika ia menunjukkan perunahan sikap, akhlak, semangat yang lebih baik setelah mengenal dakwah ahlus sunnah. Ia menjadi lebih baik:

-Lebih berbakti kepada orang tua dan segera memenuhi panggilan orang tua

-lebih semangat dan rajin dalam belajar karena ajaran Islam agar berilmu

-Lebih baik adab dan akhlaknya kepada kepada orang tua dan keluarga

-Semakin rajin beribadah, shalat tepat waktu, rajin mengaji dan menghapal Al-Quran serta rajin mendoakan kedua orang tua dan sering mengingatkan mereka kepada akhirat

Sambil menunjukkan perubahan tersebut ia berusaha menasehati dan berdakwah kepada keluarga, orang tua, kakek, paman dan adik. Berdakwah dengan cara yang baik.

Begitu juga dengan seseorang di kantor dan tempat kerjanya. Berusaha menunjukkan adab dan akhlak Islam yang mulia, profesional dan amanah serta memudahkan urusan sesama. Bersamaan dengan perubahan ke arah yang baik, ia berusaha berdakwah dengan lisan kepada teman-temannya. Sehingga menunjukkan bahwa orang Islam dengan pemahaman ahlus sunnah itu mengajak kepada arah yang lebih baik.

Tentu berbeda hasilnya jika ia berdakwah kepada orang tua atau temannya di kantor dengan menukil banyak hadits dan dalil dengan gaya “menceramahi” diselingi dengan debat kecil dan di mana-mana selalu berdakwah dengan lisannya tanpa melihat kondisi dan keadaan. Sedangkan pada dirinya tidak ada perubahan ke arah yang lebih positif, baik itu ahklak, profesional dan semangat akan kebaikan.
Domisasi dakwah dengan Lisan bisa dilakukan oleh mereka yang ucapanya didengar dan memiliki kedudukan. Tentunya juga dengan tidak meninggalkan dakwah dengan sikap dan perbuatan.

Demikianlah ulama di zaman dahulu lebih diterima dan lebih berkah dakwahnya karena dakwah sikap dan perbuatan mereka lebih mengena kepada objek dakwah. Baik dengan adab dan akhlaknya yang mulia serta amanah yang mereka tunjukkan. Sehingga dakwah dengan lisan mereka lebih diterima.

Sering kali yang datang ke majelis ilmu para ulama adalah mereka yang hanya ingin sekedar melihat akhlak, adab dan semangat beragama mereka. Bahkan mereka tidak menulis ilmu sama sekali hanya ingin mencontoh akhlak dan adab para ulama.

Abu bakar bin Al-muthawwi’i rahimahullahu berkata,

اختلفت إلى أبي عبد الله ثنتي عشرة سنة، وهو يقرأ (المسند) على أولاده، فما كتبت عنه حديثا واحدا، إنما كنت أنظر إلى هديه وأخلاقه

“Aku berkali-kali mendatangi Abu Abdillah –yaitu imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu- selama 12 tahun, beliau sedang membacakan kitab Al-musnad kepada anak-anaknya. Saya tidaklah menulis satu hadits pun darinya tetapi HANYA ingin melihat kepada metode dan akhlaknya.” [Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah]

Berkata Ibnul jauzi rahimahullahu tentang gurunya syaikh Al-Anmaathirahimahullahu,

كنت أقرأ عليه وهو يبكي، فاستفدت ببكائه أكثر من استفادتي بروايته، وانتفعت به ما لم أنتفع بغيره

“saya biasa membacakan kitab kepada beliau dan beliau dalam keadaan menangis [karena takut Allah], maka saya mengambil faidah dari tangisannya lebih banyak daripada  mengambil faidah dari riwayatnya (ilmunya)  dan saya mendapatkan manfaat dengannya yang saya tidak dapatkan dari selainnya. [Siyaru A’lamin Nubala’ 39/128, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah]

Demikian semoga bermanfaat

 

@Gemawang, Yogyakarta tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

Leave a Reply