Home / Bahasa Arab / Asal Kata “Lafdzu Jalalah Allah” (Beberapa Faidah Bahasa Arab)

Asal Kata “Lafdzu Jalalah Allah” (Beberapa Faidah Bahasa Arab)

1i7magesس

Bahasa Arab memilki banyak keutaman dan keunikan (telah kami susun dalam 4 tulisan, klik : satu, dua, tiga dan empat). Dan Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa untuk menjelaskan agama yang mulia ini.

Berikut kelanjutan beberapa faidah bahasa Arab (artikel sebelumnya, klik di sini)

 

Asal Kata “Lafdzu Jalalah Allah”

ومعنى الله : الإله، وإله بمعنى مألوه أي: معبود، لكن حذفت الهمزة تخفيفاً لكثرة الاستعمال، وكما في (الناس)، وأصلها: الأناس، وكما في: هذا خير من هذا، وأصله: أخير من هذا لكن لكثرة الاستعمال حذفت الهمزة، فالله عز وجل أحد.

Makna  (asal) Lafdzu Jalalah Allah “Al-Ilah” dan “Ilah” bermakna “Ma’luh” yaitu disembah dan diIbadahi. Akan tetapi dihapus huruf “Hamzah” (dari “Al-Ilah) sebagai bentuk memperingan (ucapan) karena seringnya digunakan.

Sebagaimana kata “An-Naas”  (manusia) Asalnya adalah “Al-Unaas” (hamzah dihapus)

Sebagaimana kata “Hadza KHAIRUN min Hadza” maka aslinya adalah “ Hadza AKHYARU min Hadza”

Akan tetapi karena seringnya digunakan maka hamzah dihapus. Maka Allah ‘Azza wa Jalla Maha Tunggal.[1]

 

Asal kata ilmu “An-Nahwu”

Bahasa Arab terkenal dengan dua cabang ilmu yaitu nahwu dan sharaf (meskipun ada cabang yang lain). Sejarah penggunaan kata “nahwu” sebagai berikut:

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah yang pertama kali mencetus ilmu Bahasa Arab, beliau menyusun pembagian kalimat, bab inna wa akhowatuha, idhofah, imalah, ta’ajjub, istifham dan lain-lain, kemudian memerintahkan kepada Abul Aswad Ad-Dualiy untuk mengembangkan sambil berkata,

انح هذا النجو

“Unhu hadzan nahwa!” (ikutilah yang semisal ini),

 

maka istilah ilmu Nahwu diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib.”[2]

 

Hamzah An-Nafi’ (maknanya bisa berlawanan, padahal huruf asal sama)

والإقساط ليس هو القسط، بل هو من فعل رباعي، فالهمزة فيه همزة النفي، هذه الهمزة هي همزة النفي، إذا دخلت على الفعل، نفت معناه، فالفعل (قسط)، بمعنى: جار، فإذا أدخلت عليه همزة (أقسط)، صار بمعنى: عدل، أي: أزال القسط، وهو الجور، فيسمون مثل هذه الهمزة همزة السلب، مثل خطئ وأخطأ، خطئ، بمعنى ارتكب الخطأ عن عمد، وأخطأ: ارتكبه عن غير عمد

Kata “Al-Iqsaath” tidak sama dengan “Qisth”, bahkan dia merupakan “fi’il ruba’i” (ada 4 huruf). Maka huruf hamzah pada “Al-Iqsaat” adalah Hamzah An-Nafi’. Jika hamzah ini masuk kepada “Fi’il” (kata kerja) maka akan menafikan maknanya (maknya berlawanan).

Misalnya “Qisatha” maknanya:  menindas/salah, maka jika dimasukkan hamzah jadi “Aqsatha” maka jadilah maknanya: Adil yaitu hilangnya penindasan/tidak adil.

Maka dinamakan juga hamzah ini dengan hamzah As-Salb. Misalnya kata “Khati’a” dengan Aktha’a”. Kata “Khati’a bermakna melakukan kesalahan dengan sengaja. Sedangkan “Akhta’a” artinya melakukan kesalahan tanpa sengaja.[3]

 

Demikian semoga bermanfaat

@R. Diklit RS Sardjito- Yogya, 4 Rabi’us Tsani 1434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 

 

 


[1] Syarh Al-Aqidah Al-Wasitiyah syaikh AL-‘Utsaimin, program maktabah salafiyah

[2] lihat Qowa’idul asasiyah lillughotil arobiyah hal 6, Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah

[3] Syarh Al-Aqidah Al-Wasitiyah syaikh AL-‘Utsaimin, program maktabah salafiyah

Leave a Reply