Home / Bimbingan Islam / Tidak Berniat Puasa Malam Hari Dan Tidak Makan Sahur, Puasa Sah?

Tidak Berniat Puasa Malam Hari Dan Tidak Makan Sahur, Puasa Sah?

puasa-ilustrasi-_120709214444-338

Mungkin jika tidak makan sahur saja maka jelas puasanya sah karena dia berniat puasa malam harinya dan juga hukum maka sahur adalah sunnah/mustahab, akan tetapi bagaimana jika ia tidak berniat puasa malam harinya dan tidak makan sahur seperti orang yang ketiduran semalam penuh? Jawabannya puasanya juga sah, Berikut pembahasannya.

Dalil wajibnya berniat pada malam hari berdasarkan hadits berikut,

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”[1]

 

Akan tetapi perlu diketahui bahwa ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai niat puasa pada bulan Ramadhan apakah harus berniat setiap malam atau niat puasa sebulan penuh di awal bulan Ramadhan.

Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata,

اختلَفَ العُلماءُ: هل يَكْفِي لصَوْمِ شَهْرِ رَمضانَ نِيَّةٌ واحدةٌ في أَوَّلِه، أو لا بُدَّ لكلِّ صَوْمِ يومٍ مِن نِيَّةٍ خاصَّةٍ مُسْتَقِلَّةٍ؟ فذَهَبَ المالِكِيَّةُ إلى: أنه يُجْزِئُ صَوْمُ شَهْرِ رمضانَ بنِيَّةٍ واحدةٍ تكونُ في أوَّلِ الشهْرِ، وكذا في صيامٍ مُتتابِعٍ مِثْلِ كَفَّارَةِ جِماعٍ في رمضانَ، وكَفَّارَةِ قَتْلٍ وظِهارٍ، ما لم يَقْطَعْهُ بسفَرٍ، أو مَرَضٍ، أو يكونُ على حالةٍ يَجوزُ له الفِطْرُ، كحَيْضٍ ونِفَاسٍ ونحوَ ذلك، فيَلزمُه  ستئنافُ النِّيَّةِ، وهو روايةٌ عن الإمامِ أحمدَ، اختارَها مِن أصحابِه جماعةٌ: منهم أبو الوَفاءَ بنُ عَقيلٍ.
واسْتَدَلُّوا على ذلك: بما في الصحيحينِ: ((إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ)، وهذا قد نوى جميعَ الشهْرِ، ورمضانُ بِمَنْزِلَةِ عِبادةٍ واحدةٍ.
وذَهَبَ الْجُمهورُ إلى: أنَّ كُلَّ يومٍ عِبادةٌ مُسْتَقِلَّةٌ بذَاتِها يَحتاجُ إلى نِيَّةٍ خاصَّةٍ بها.
وتَظْهَرُ النتيجةُ فيما لو نامَ مُكَلَّفٌ في رمضانَ، أو صيامِ كَفَّارَةٍ، وذلك قبلَ الغروبِ إلى ما بعدَ الصُّبْحِ، فعلى القولِ الأوَّلِ يَصِحُّ صَوْمُه، وعلى الثاني لا يَصِحُّ؛ لأنه لم يُبَيِّتْ نِيَّةَ الصوْمِ الواجبِ مِن الليلِ، والقولُ الأَوَّلُ أَرْجَحُ.

“Ulama berselisih pendapat apakah mencukupi untuk puasa bulan Ramadhan satu niat saja pada awal bulan atau harus berniat setiap hari dengan niat yang berbeda.

[pendapat pertama] Ulama Malikiyah berpendapat bahwa cukup satu niat saja pada awal bulan Ramadhan sebagaimana puasa (2 bulan) berturut-turut pada kafarah jima’ di bulan Ramadhan, kafarah pembunuhan dan dzihar, selama ia tidak bersafar, sakit atau keadaan yang membolehkan tidak berpuasa seperti haid dan nifas maka wajib memulai niat baru. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Imam Ahmad dan mayoritas pengikutnya seperti Abul Wafa’ bin ‘Aqiil.

Pendapat ini menyatakan niat digabung dalam satu bulan karena bulan ramadhan merupakan suatu kesatuan ibadah. Mereka berdalil dengan hadits yang terdapat di Bukhari-Muslim “sesungguhnya Amal itu tergantung niatnya.”

[pendapat kedua] Jumhur ulama berpendapat bahwa setiap harinya (di bulan Ramadhan) adalah ibadah yang berdiri sendiri dan membutuhkan niat khusus di setiap harinya. Dampaknya jika sesorang yang mukallaf tidur pada bulan Ramadhan atau pada puasa kafarah (hukumnya wajib juga, pent), tidurnya sebelum  tenggelamnya matahari dan bangun setelah subuh, maka menurut pendapat pertama sah puasanya sedangkan menurut pendapat kedua puasanya tidak sah karena ia tidak berniat di malam hari, dan pendapat yang rajih adalah pendapat pertama.”[2]

 

Syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya,

هل كل يوم يُصام في رمضان يحتاج إلى نية أم تكفي نية صيام الشهر كله؟

Apakah dalam bulan Ramadhan kita perlu berniat setiap hari ataukah cukup berniat sekali untuk satu bulan penuh?

 

Syaikh menjawab,

الجواب: يكفي في رمضان نية واحدة من أوله، لأن الصائم وإن لم ينو كل يوم بيومه في ليلته فقد كان ذلك في نيته من أول الشهر، ولكن لو قطع الصوم في أثناء الشهر لسفر، أو مرض، أو نحوه وجب عليه استئناف النية؛ لأنه قطعها بترك الصيام للسفر والمرض ونحوهما.

“Cukup dalam seluruh bulan Ramadhan kita berniat sekali di awal bulan, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadhan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya.[3]

 

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

4 Ramadhan 1433 H, Bertepatan  23 Juli 2012

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 

 


[1] HR. Abu Dawud 2454, Ibnu Majah 1933, Al-Baihaqi 4/202, dishahihkan oleh Al-Albani dalam shahih Abu Dawud no.2118

[2] Taudhil Ahkam II/659, darul Atsar, Koiro, cet. I, 1425 H

[3] Fatawa Arkanil Islam 5/11, Syamilah

Leave a Reply