Beragama Harus Ilmiah

B

[Rubrik: Sekedar Sharing]

Agama Islam adalah agama yang ilmiah. Seseorang yang berbicara membahas agama maka dia harus menyertakan dalilnya. Tidak pantas baginya menolak dan marah jika ditanya “Apa dalil atas perkataan Anda?” Karena membawakan dalil adalah bentuk sikap ilmiah dalam beragama. Sebab Islam bukanlah agama perasaan, bukan agama yang datang dari wangsit, bukan agama yang bersumber dari mimpi atau dari katanya si A dan si B semata tanpa dalil.

Biasakan diri kita ketika ingin mempelajari suatu pembahasan agama, kita mempertanyakan dalilnya agar pemahaman kita dibangun di atas dalil yang benar. Demikianlah sikap kritis di dalam beragama dan itulah bentuk beragama yang berlandaskan Al-Quran dan Sunnah sesuai jalan para salaf. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

عليكم بسنتي وسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِييْنَ مِنْ بَعْدِي ، تَمَسَّكُوا بها، وعَضُّوا عليها بالنَّوَاجِذِ ،وإيَّاكُم ومُحْدَثَاتِ الأمورِ؛ فإِنَّ كلَّ بدعةٍ ضلالةٌ

“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. At Tirmidzi no. 2676, hasan shahih)

Lebih dari itu, jika kita menjumpai pendalilan dengan ayat Al-Quran maka sikap yang terbaik adalah kita berusaha mencari tahu bagaimana penafsiran para ulama terhadap ayat tersebut. Atau ketika menjumpai hadits, kita telusuri bagaimana penjelasan para sahabat dan tabiin terhadap teks hadits tersebut. Sejak dulu pun para ulama membangun pendapat mereka dengan dalil Al-Quran dan Sunnah, bukan akal dan perasaan belaka.

Artikel www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Leave a Reply