Home / Adab / Cerdas dan Sangat Pintar tapi Tidak Percaya Adanya Maha Pencipta?

Cerdas dan Sangat Pintar tapi Tidak Percaya Adanya Maha Pencipta?

Bisa jadi ada seorang jenius dan pintar tapi tidak percaya ada Allah Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta, padahal tanda-tanda keberadaan Allah ada itu sangat banyak.

Orang cerdas dan atheis itu tidak percaya adanya Allah karena terlalu mendewakan logika, padahal jika kita memakai logika, Allah Maha Pencipta itu ada. (mohon diingat, agama kita tidak berdalil dengan logika, tetapi berdalil dengan Al-Quran dan hadits. Logika hanya mendukung saja, karena logika manusia terbatas dan tentunya logika manusia yang berjiwa hanif)

Kami contohnya logikanya:

1. Mengharuskan ada “yang lebih besar yang menciptakan”

Misalnya ketika mendefinisikan apa maksudnya kata “rumah”, maka penjelasannya:

“Rumah itu adalah tempat tinggal”

Lalu siapa yang menciptakan dan memberikan kata definisi kata:
“Itu” , “adalah”, dan “tempat tinggal”

Ketika definisikan tentu akan ada definisi lagi, dan tentu akan ada definisi lagi dan seterusnya. Ujungnya harus ada yang Maha Menciptakan

Kemudian akan muncul pertanyaan:
“Siapa yang menciptakan Allah/Maha Pencipta?”

Pertanyaan ini jelas salah secara logika:
Karena ini “pertanyaannya yang salah”

Sebagaimana bentuk “pertanyaan yang salah” lainnya:
“Kapan ayah melahirkan?”

Yang namanya ayah tidak melahirkan, ini pertanyaannya sudah salah

Nah, demikian juga yang namanya Maha pencipta itu yang menciptakan dan tidak diciptakan

Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengikuti pertanyaan salah ini dan memerintahkan kita segera berlindung kepada Allah dan berhenti membahas

Rasulullah shallallahu alaihiw a sallam bersabda,

ﻳﺄﺗﻲ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥُ ﺃﺣﺪَﻛﻢ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ؟ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺭﺑَّﻚ ؟ ﻓﺈﺫﺍ ﺑﻠﻎ ﺫﻟﻚ ﻓﻠﻴﺴﺘﻌﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻟﻴﻨﺘﻪ

“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu? Hingga akhirnya dia akan bertanya siapa yang menciptakan tuhanmu? Jika hal itu terjadi, hendaknya dia berlindung kepada Allah dan sudahilah (jangan turuti menjawab pertanyaannya).” (HR. Muslim)


2. Yang namanya logika manusia terbatas dengan apa yang dia ketahui saat ini. Tidak semua logika manusia bisa memahami segalanya terkait ketuhanan dan wahyu.

Misalnya di zaman dahulu, orang mengatakan:
-Mustahil ada besi terbang
-Mustahil semalam saja bisa pergi dari dari Indonesia ke Mekkah hanya semalam saja
-Mustahil ada orang bisa berbicara “video call” dari jarak jauh hanya dengan kotak kecil gepeng (HP)w

Orang dahulu mengatakan ini tidak masuk logika saya dan mereka tidak percaya.

Nah begitu juga sekarang dan hari ini di dunia kita hidup sekarang.

Yang terpenting dan yang utama dan kita pakai untuk berhujjah adalah dalil Al-Quran dan Sunnah yang sangat banyak tentang keberadaan Allah Maha Pencipta. Yaitu dengan ayat-ayat yang berada di dunia-langit dan alam semesta yang berupa pengaturan planet, bintang, matahari dan bulan serta pengaturan sel-sel tubuh yang luar biasa.

Allah  berfirman,

ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻑِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻟَﺂﻳَﺎﺕٍ ﻟِﺄُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻟْﺒَﺎﺏِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺑَﺎﻃِﻠًﺎ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

Contoh lagi tantangan dari Maha Pencipta bagi manusia yang paling pintar di muka bumi dan silahkan mereka saling mendukung, yaitu tantangan untuk membuat semisal Al-Quran.

Allah berfirman,

ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍ

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. [ al-Isra’/17:88]

Bahkan tantangan membuat satu surat pendek saja.

Allah berfirman,

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﻯٰ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﺗَﺼْﺪِﻳﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﺗَﻔْﺼِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ ﴿٣٧﴾ ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ

Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” [ Yunus/10: 37- 3]

Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuat semisal Al-Quran berupa keindahan bahasa serta ajaran hikmah di dalamnya.

Dan masih banyak dalil-dalil lainnya

@ Markaz YPIA, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com


Leave a Reply