Home / Adab / Doa Untuk Petugas Medis Yang Sering Melihat Penyakit Parah Dan Tidak Menimpanya (Menular)

Doa Untuk Petugas Medis Yang Sering Melihat Penyakit Parah Dan Tidak Menimpanya (Menular)

Petugas medis, dokter, perawat dan yang lainnya tentu sering melihat berbagia macam penyakit yang parah dan ganas, penyakit yang menyedihkan mata melihat bahkan penyakit yang bisa membuat orang tidak enak makan dan tidur. Maka ada baiknya petugas medis membaca/menghapal doa ini.

الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به و فضلني على كثير ممن خلق تفضيلا

“Alhamdulillahilladzi ‘Aafaanii mimaa ibtalaaka bihi wa faddhalani ‘alaa katsirin mimman khalaqa tafdhila”

Artinya: segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu dan memberikan keutamaan kepadaku atas mahluk (lainnya) yang ia ciptakan.[1]

 

Doa agar tidak tertimpa musibah yang sama

Doa di atas adalah doa bagi seseorang ketika ia melihat orang lain tertimpa musibah secara umum baik dunia dan agama. Misalnya melihat kecelakaan di jalan, melihat rumah orang dirampok dan lain-lain, agar ia tidak tertimpa musibah yang semisal. Bagi petugas medis, bisa membaca doa ini ketika melihat penyakit menular agar ia tidak tertular dan terkena penyakit yang sama.

Sebagaimana dalam riwayat yang lain:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلَاءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا إِلَّا عُوفِيَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ”

Dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang melihat orang lain yang tertimpa musibah hendaknya ia berdoa:

الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به و فضلني على كثير ممن خلق تفضيلا

“Alhamdulillahilladzi ‘Aafaanii mimaa ibtalaaka bihi wa faddhalani ‘alaa katsirin mimman khalaqa tafdhila”

Maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apapun ia selama hidup.[2]

 

Dalam riwayat yang lain,

ما من رجل رأى مبتلى فقال : الحمد لله الذي عافانا مما ابتلاك به وفضلني على كثير ممن خلق تفضيلا إلا لم يصبه ذلك البلاء كائنا ما كان

“Barangsiapa yang melihat orang lain yang tertimpa musibah hendaknya ia berdoa

“Alhamdulillahilladzi ‘Aafaanii mimaa ibtalaaka bihi wa faddhalani ‘alaa katsirin mimman khalaqa tafdhila”

Maka ia tidak akan ditimpa musibah tersebut, musibah apapun.

 

Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad berkata,

قوله : ” وفضلني على كثير ممن خلق ” يجوز أن يكون المراد به الجماعة المبتلون ، وتفضيل الله تعالى إياه عليهم ، بحيث إنه سلمه من هذا البلاء ، الذي ابتلاهم به .

“Maksud dari lafadz “memberikan keutamaan kepadaku atas mahluk (lainnya) yang ia ciptakan.” Yaitu (dilebihkan dari) sekelompok orang yang diuji dengan musibah, maka Allah melebihkannya dimana Allah menyelamatkannya dari musibah tersebut, yaitu musibah yang Allah timpakan kepada mereka.”[3]

 

Doa yang umum untuk musibah dunia dan agama

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

قوله من رأى صاحب بلاء أي مبتلى في أمر بدني كبرص وقصر فاحش أو طول مفرط أو عمى أو عرج أو اعوجاج يد ونحوها أو ديني بنحو فسق وظلم وبدعة وكفر وغيرها

“Maksud dari “melihat orang yang tertimpa musibah” yaitu orang yang diuji dengan musibah dalam perkara badan misalnya sakit lepra, sakit belang-belang yang parah,buta, pincang, tangan bengkok dan sejenisnya. Begitu juga jika diuji dengan musibah dalam perkara agama seperti fasik, kedzaliman, bid’ah, kekafiran dan lainnya.”[4]

 

Sebaiknya doa diucapkan dengan lirih

Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad berkata,

وينبغي أن يقول هذا الذكر سراً ، بحيث يُسمع نفسه ، ولا يُسمعه المبتلى ، لئلا يتألم قلبه بذلك ، إلا أن تكون بليته معصية ، فلا بأس أن يُسمعه ذلك ، من باب الزجر له إن لم يخف من ذلك مفسدة .

“Selayaknya doa ini dibaca denga lirih, hanya ia yang mendengar dan tidak didengar oleh orang yang tertimpa musibah agar ia tidak sakit hati. Kecuali jika musibah tersebut adalah kemaksiatan, maka tidak mengapa didengar oleh orang tersebut. Agar ia jera dan ia tidak dalam keadaan merasa takut dengan perbuatan maksiat tersebut.”[5]

 

@ Pogung Lor-Jogja, 29 Jumadas Tsani 1434 H

penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 


[1] HR, At-Tirmidzi v/494, lihat juga shahih At-Tirmidzi III/153, Hisnul Muslim

[2] Dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam shahih Ibnu Majah no. 3892

[3] Syarah Hisnul Muslim oleh syaikh Majdi bin Abdul Wahhab

[4] Tuhfatul Ahwadzi 9/275, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, syamilah

[5] Syarah Hisnul Muslim oleh syaikh Majdi bin Abdul Wahhab

4 Comments

  1. Abdullah says:

    Bismillah.
    Artikel yang bermanfaat.
    Terkait kalimat berikut :
    من باب الزجر له إن لم يخف من ذلك مفسدة

    apakah tidak bermakna : Sebagai bentuk teguran baginya jika dia tidak takut terhadap maksiat tersebut (?)

  2. Ryo says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Afwan mau bertanya, kalau mendengar musibah bukan melihatnya secara langsung apakah doanya sama? Syukron, jazakumullah khairan khatsira..

Leave a Reply