Home / Aqidah / Gerhana Tidak Ada Kaitannya Dengan Kejadian Mistis di Bumi

Gerhana Tidak Ada Kaitannya Dengan Kejadian Mistis di Bumi

#IndonesiaBertauhid

-Tentu kita pernah mendengar mitos, khurafat dan keyakinan-keyakinan mistis terkait gerhana, misalnya:

√ Bulan/matahari sedang di makan raksasa sehingga ketakutan harus pukul-pukul kentongan atau yang nyaring sehingga bulan dimuntahkan lagi

√ Terkait dengan kematian atau kelahiran tokoh besar atau yang punya kekuatan mistis (sampai ada sinetronnya dulu)

√ Sampai keyakinan kesyirikan yang melanggar tauhid kepada Allah semisal harus memberikan sesajen yang banyak agar bulan dan matahari kembali

-Agama Islam adalah agama yang bisa dicerna sesuai dengan fitrah manusia dan logis, sesuatu dilakukan dengan  sebab-akibat

√ Daripada capek-capek pukul kentongan lebih baik shalat dan berdoa agar hidup berkah dan dimudahkan

√ Daripada memberikan sesajen (makanan malah busuk, rusak tidak jelas) lebih baik melaksanakan sunnah bersedekah [1] bermanfaat sesama manusia dan memunculkan rasa saling kasih sayang

√ Daripada ketakutan tidak jelas, lebih baik takut (taqwa kepada Allah) dengan istigfar dan melakukan banyak kebaikan [1]

-Islam menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara gerhana dengan kejadian mistis di bumi, gerhana hanyalah fenomena alam sebagaimana dalam Al-Quran [2]

-Demikian juga ketika terjadi gerhana di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihu wa sallam dan bertepatan dengan waktu meninggalnya putra beliau yaitu Ibrahim, beliau segera menjelaskan dan menepis keyakinan jahiliyah yang mengkaitkan kematian anak beliau dengan kejadian gerhana [3]

Qadhi Iyadh berkata terkait hadits gerhana,

ﻭﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻟﻪ ﺁﻳﺔ ﻟﻤﻌﺎﻥ ﻛﺜﻴﺮﺓ ، ﻣﻨﻬﺎ ﻧﻔﻰ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺗﻌﺘﻘﺪﻩ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻓﻴﻬﻤﺎ

“Setiap ayat-ayat (tanda kauniyah) memilik makna faidah yang banyak, di antaranya adalah menafikan/menghapus aqidah/keyakinan jahiliyyah mengenai gerhana bulan atau matahari” [4]

-Agar lebih paham, perlu mengetahui hukum sebab-akibat dalam pelajaran tauhid

Sebab itu ada dua:
1. Sebab Kauniy
2. Sebab syar’i

-Sebab kauniy, ini adalah hukum sebab-akibat alam atau memang ada penelitian bahwa itu adalah sebabnya
misalnya:
1. Api kalau kena air ya padam, kertas kena api terbakar dengan mudah
2. Minum paracetamol demam jadi turun (penelitian)

-Sebab syar’i yaitu sebab yang ditentukan oleh syariat menjadi penyebab sesuatu, meskipun bukan penyebab secara kauniy
misalnya: Jika ingin dipanjangkan umur (berkah) dan dimudahkan rezeki maka silaturahmi (silaturahmi penyebab mudah rezeki)

Demikian semoga bermanfaat

@Desa Pungkak, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Footnote:

[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﺁﻳَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻻَ ﻳَﻨْﺨَﺴِﻔَﺎﻥِ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺃَﺣَﺪٍ ﻭَﻻَ ﻟِﺤَﻴَﺎﺗِﻪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻛَﺒِّﺮُﻭﺍ ، ﻭَﺻَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺗَﺼَﺪَّﻗُﻮﺍ

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

[2] Allah berfirman:

ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞُ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺠُﺪُﻭﺍ ﻟِﻠﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﻠْﻘَﻤَﺮِ ﻭَﺍﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻬُﻦَّ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada- Nya.” (Fushshilat: 37)

[3] Perhatikan hadits,

ﻛَﺴَﻔَﺖِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳَﻮْﻡَ ﻣَﺎﺕَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻛَﺴَﻔَﺖِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏« ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻻَ ﻳَﻨْﻜَﺴِﻔَﺎﻥِ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺃَﺣَﺪٍ ﻭَﻻَ ﻟِﺤَﻴَﺎﺗِﻪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ

”Di masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari ketika hari kematian Ibrahim. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa munculnya gerhana ini karena kematian Ibrahim. Lantas Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalat dan berdo’alah.’” (HR. Bukhari no. 1043)

[4] Syarah Umdatul Ahkam, sumber: Saaid.net

Leave a Reply