Mengapa Matahari & Bulan Dimasukkan Ke Neraka Kelak?

M

[Rubrik: Sekedar Sharing]

Matahari dan bulan di hari akhir nanti memang akan dimasukkan ke dalam neraka. Hal ini telah ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Matahari dan rembulan seolah-olah seperti sapi jantan yang digulung ke dalam Neraka pada hari kiamat.” [HR Ath-Thahawi dalam “Al-muhalla bil-Atsar” (1/96), dan dishahihkan oleh Al-Albani di Silsilah Ash-Shahihah (124)]

Salah satu tafsirannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Khatthabi,
“Keberadaannya di neraka bukanlah maksudnya karena disiksa. Akan tetapi celaan terhadap orang-orang yang dahulu menyembah matahari dan rembulan ketika di dunia, agar mereka mengetahui bahwa peribadatan mereka pada keduanya adalah bathil.” (Fathul Bari, 6/215)

Matahari dan bulan dimasukkan ke neraka bukan untuk disiksa, sebagaimana malaikat-malaikat penjaga neraka juga ada di dalam neraka bukan untuk disiksa. Keadaan ini semisal dengan batu dan berhala-berhala yang mereka sembah yang ikut dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk menghinakan dan mempermalukan mereka agar semakin menyesali perbuatan-perbuatan mereka di dunia dahulu. Allah berfirman,
اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْنَ
“Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” (QS Al-Anbiya’ : 98)

Keberadaan matahari dan bulan di dalam neraka justru akan menambah siksaan batin bagi para penyembahnya. Ibarat seseorang yang kita puji-puji, kita selalu berbuat baik kepadanya ternyata di belakang kita dia malah mengolok-olok dan menjelek-jelekkan kita, maka sakit hati yang kita rasakan justru semakin menyakitkan. Demikianlah keadaan yang dirasakan oleh penghuni neraka tatkala melihat ternyata sesembahan-sesembahan mereka dahulu menjadi bahan bakar yang semakin menambah panasnya neraka.

Artikel www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Leave a Reply