Home / Adab / Mahasiswa “Ngaji” Haruskah IP-Nya Cumlaude ?

Mahasiswa “Ngaji” Haruskah IP-Nya Cumlaude ?

*Makalah Kajian FKG UGM

“gimana ni, katanya mahasiswa ngaji, tapi IP-nya kok NASAKOM (nilai Satu Koma), kok kayaknya ga peduli banget dengan kuliahnya, jangan-jangan kalo kita seperti dia, ntar nasibnya sama”


“nak, kalau jadi mahasiswa di sana nanti, jangan lupa belajar agama ya, jangan belajar ilmu dunia saja, dunia ini sementara, jangan lupa kampung akherat kita yang kekal”

 

Ya, seharusnya mahasiswa yang belajar ilmu agama IP-nya bisa cumlaude (tetapi tidak wajib cumlaude juga). Mengapa? Karena Ilmu agama yang ia pelajari mengajarkan agar ia menjadi mahasiwa yang baik, membanggakan orang tua, berguna bagi orang lain dengan ilmu yang ia miliki

 

Mahasiswa harus menjaga amanat dari orang tua
lulus dengan pulang membawa gelar adalah bentuk berbakti kepada orang tua dan kuliah adalah amanta dari orang tua. Maka kita harus sebisa mungkin membanggakan orang tuanya dengan nilai yang baik atau lulus tepat waktu. Perlu diketahui ketahui bahwa umur-umur orang tua kita saat kuliah, yang menjadi kebanggaan dan percaya diri mereka sesama teman, bukan harta dan bukan jabatan tetapi kesuksesan anak. Betapa banyak ibu-ibu yang minder tidak datang arisan karena anaknya tidak lulus-lulus atau bermasalah. Padahal ia kaya dan memiliki jabatan.

Buatlah orang tua kita bangga dengan kesusksesan kita, mungkin ini jalan paling terbaik untuk membalas budi mereka yang tidak akan bisa mungkin terbalaskan.

Sebagai seorang muslim kita harus berusaha menunaikan amanat dengan baik
Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu’minun: 8)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal : 27)

 

Islam mengajarkan agar berlimu dan menuntut ilmu

Islam memberikan motivasi agar berilmu dan meninggikan derajat mereka. Seharusnya semangat belajar di kampus dan menjadi mahasiswa yang baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad) tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha : 114]

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu.” [Az Zumar : 9]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.”[1]

 

Mahasiswa Islam harus pandai mengatur dan memanagemen waktu

Mengaji dan belajar agama tidak mengahalangi belajar di kampus. Karena seorang muslim diperintahkan oleh agama agar bisa mengatur dan menghargai waktunya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menukilkan perkataan Imam Syafi’i rahimahullah, beliau berkat,

صَحِبْتُ الصُّوفِيَّةَ فَلَمْ أَسْتَفِدْ مِنْهُمْ سِوَى حَرْفَيْنِ: أَحَدُهُمَا قَوْلُهُمْ: الْوَقْتُ سَيْفٌ، فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ “.

“Saya menemani orang sufi, aku tidak mendapat manfaat kecuali dua, salah satunya: Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu”[2]

Dan orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.

Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.[3]

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkat,

أدركت أقواما كان أحدهم أشح على عمره منه على درهمه

“aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka”[4]

 

Mahasiswa muslim berusaha merancang masa depan dan menjadi berguna bagi orang lain

Kita diajarkan agar memilik target dan capaian serta melihat masa depan kita.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18).

Dan berusaha berguna bagi orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”[5] 

 

Mahasiswa muslim juga harus tetap belajar agama terutama ilmu yang wajib

Menjadi mahasiwa adalah tahap yang dibilang surga kehidupan, hidup bebas, tidak banyak campur tangan ortu, belum ada beban mencari uang dan lain-lain. Akan tetapi jangan sampai ia lupa belajar agama selain belajar ilmu dunia di kampusnya. Tidak merti menjadi ustadz, karena setiap orang memiliki jalan jihad masing-masing. Belajar agama yang waji-wajib dahulu, mislanya aqidah dan tauhid, fiqh keseharian dan akhlak. Adapun masalah ushul fikh dan takrij hadits, maka ini adalah urusan para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.[6]

 

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 


[1] HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037

[2] Al-Jawabul Kaafi hal. 156, Darul Ma’rifah, beirut, 1418 H, syamilah

[3] Lihat Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar

[4] Dinukil dari “waqtuka huwa umruka” Sumber: http://www.saaid.net/female/r166.htm

[5] Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289

[6] HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah

3 Comments

  1. miki says:

    sebetulnya sih balik lagi ke personnya masing2.. ada orang yang Allah beri kecerdasan yang diatas rata-rata dan yang biasa saja.. bagi yang mengambil jurusan eksak, cukup banyak materi yang menguras otak dan dosen mudah menggagalkan, misalkan kimia kuantum, kimia fisika dll.. kalo sudah dapat E ya ngga akan cumlaude..

    tapi yang lebih penting itu diatas manhaj salaf.. mau dia mahasiswa atau bukan, mau yang mahasiswa abadi dan hampir DO, atau mahasiswa lulus akselerasi.. yang benar adalah salafi

  2. Nadia says:

    Benar mahasiswa ngaji memang tidak wajib mendapatkan IP cumlaude tapi seharusnya bisa mendapatkan itu, Bukankah didalam Islam kita ketahui menuntut ilmu itu wajib karena itu perintah Allah SWT, menuntut ilmu agar ilmu kita bertambah berarti nilai itu nomor sekian bukan?, terkadang saya sendiri sebagai mahasiswa sudah merasakan itu, ilmu bertambah tapi karena disuatu kampus terkadang mahasiswanya melebihi kapasitas dan kadang dosen memberi nilai dengan dilihat rata-ratanya, karena dosen sendiri kadang tida sanggup memeriksa begitu banyak lembar jawaban yg ada, usaha yg dilakukan tidak seimbang dgn nilainya.. ibaratnya sekrang nilai udah tergantung amal perbuatan.. segala sesuatu berorientasi terhadap materi dikampuspun seperti itu jadinya hanya nilai yang dikejar ilmunya udah dilupain..

  3. Wahyu Awaludin says:

    Kalau menuntut ilmu adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah 🙂

Leave a Reply