Home / Adab / Tidak Perlu Memaksa Diri Merubah Sifat Dasar, Tapi Tempatkanlah pada Tempatnya

Tidak Perlu Memaksa Diri Merubah Sifat Dasar, Tapi Tempatkanlah pada Tempatnya

“Aduh aku kok orangnya pemalu ya, pengen merubah tapi sangat sulit”

“Aku memang aslinya keras, mau ubah lembut susah benget”

 

Setiap orang diciptakan dengan berbagai macam sifat dasar. Yang kami tekankan di sini, jadilah diri sendiri dan tidak perlu goyang atau goyah karena kritikan terhadap sifat dasar, akhirnya memaksakan diri berubah yang sangta susah

Ajaran Islam tidak memaksakan untuk merubah sifat dasar, tetapi dikendalikan dan ditempatkan ssesuai dengan tempatnya. Karenanya ada pepatah Arab

لكل مقام مقال

“likulli maqaamin maqaalun”
(setiap keadaan perlu perkataan yang tepat)

Kelebihannya dimanfaatkan dan kekurangannya diminimalkan atau dihilangkan.

 

Para sahabatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  mempunyai berbagai sifat dasar. Para sahabat radhiallahu ‘anhum  ada yang lembut seperti Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah. Sampai-sampai dikisahkah beliau tidak bisa mendengarkan Al-Quran kecuali beliau menangis. Sebagaimana ketika ‘Aisyah radhiallahu ‘anha meminta penjelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , mengapa beliau meminta agar Abu Bakar menggantikan beliau menjadi imam shalat dan akan membacakan Al-Quran bagi manusia.

Diriwayatkan oleh Abi Musa radhiallahu ‘anhu,

مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَال مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ مَتَى يَقُمْ مَقَامَكَ لاَ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَقَالَ مُرِي أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ قَالَ فَصَلَّى بِهِمْ أَبُو بَكْرٍ حَيَاةَ رَسُولِ اللَّهِ

“Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sakit parah beliau berkata: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia”. Maka berkatalah Aisyah: “Ya Rasulullah sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat perasa (mudah menangis). Bagaimana dia akan menggantikan kedudukanmu, dia tidak akan mampu untuk memimpin manusia”. Rasulullah berkata lagi: “Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami manusia! Sesungguhnya kalian itu seperti saudara-saudaranya nabi Yusuf”. Abu Musa berkata: maka Abu Bakar pun mengimami shalat dalam keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.”[1]

 

Ada juga yang tegas seperti Umar bin Khattab. Akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  tidak berusaha mengubah sifat dasar para sahabatnya. Beliau tidak mengubah sifat tegas Umar bin Khattab, tetapi menempatkannya pada tempatnya, yaitu keras terhadap orang yang macam-macam dan memusuhi agama Islam, sampai-sampai ia terkenal  dengan perkataannya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقهَ

 “wahai Rasulullah, izinkan saya menebas lehernya”

 

Perkataan yang membuat bergetar ketakutan musuh-musuh Islam. Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  tidak berusaha mengubah sifat dasar lembut Abu bakar dan sifat Malu Ustman.

Adapun tegas dan keras yang tidak pada tempatnya maka hal ini tercela, kaku dan membuat manusia lari dari dakwah dan agama. Seperti sedikit-sedikit sembarangan mencap kafir dan ahli bid’ah kepada saudaranya. Kalau ada saudaranya salah langsung ditegur dengan cara yang keras tanpa harus tahu apakah saudaranya punya udzur atau tidak.

Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” ( Ali Imran: 159)

 

Ada juga Sahabat yang pemalu seperti Ustman bin Affan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  menyanjung beliau,

أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ؟

“Tidakkah sepatutnya aku malu kepada seorang (yakni Utsman) yang para malaikat malu kepadanya?”[2]

Tentu saja ini adalah malu yang terpuji yaitu malu pada tempatnya dan malu ketika berbuat yang tidak senonoh, malu ketika merepotkan orang lain dan malu ketika berbuat kemaksiatan di depan manusia atau di hadapan Rabbnya. Inilah malu yang dipuji dalam hadits.

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”[3]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”[4]
Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya.”[5]

 

Demikian semoga bermanfaat

 

@Laboratorium Klnik RSUP DR. Sardjito,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB dan follow twitter

Add Pin BB www.muslimafiyah.com kedua 7C9E0EC3, Grup telegram Putra (+6289685112245), putri (+6281938562452)

 

[1] HR. Bukhari Muslim

[2] HR. Muslim no. 2401.

[3] HR.Ibnu Majah no. 4181 Lihat Silsilah al-Ahadîts ash-Shahahah no. 940

[4] Muttafaq ‘alaihi

[5] HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37/60

Leave a Reply