AqidahManhajTauhid dan Aqidah

Bolehkah Memanggil Allah dengan “Gusti”?

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Salah satu bentuk keimanan kita kepada Allah adalah beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin kita mendalami nama-nama dan sifat-sifat tersebut, semakin kita mengenal dan mencintai-Nya. Ketika kita mengetahui bahwa Allah memiliki nama Ar-Rahiim, kita akan selalu berbaik sangka bahwa Allah menyayangi kita. Ketika kita mengetahui bahwa Allah memiliki nama Al-Ghafuur, kita tidak akan pernah ragu untuk memohon ampunan kepada-Nya.

Berkaitan dengan pembahasan nama dan sifat Allah dalam pelajaran akidah, kita dibatasi untuk menetapkan nama dan sifat bagi Allah hanya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya, kita tidak boleh memberi nama atau menetapkan sifat bagi Allah di luar apa yang telah dikabarkan oleh Allah sendiri atau oleh Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَاۖ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al-A’raf: 180)

Dari ayat ini, para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak boleh diberi nama secara sembarangan. Demikian pula dalam menetapkan sifat, tidak ada ruang bagi akal manusia untuk menisbatkan sifat kepada Allah tanpa dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan,

لَا يُوصَفُ اللَّهُ إِلَّا بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ، أَوْ وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ ، لَا يُتَجَاوَزُ الْقُرْآنُ وَالْحَدِيثُ

“Allah tidak disifati kecuali dengan apa yang Allah sifatkan pada diri-Nya sendiri atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya. Tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan hadits.” (Al-Ibanah karya Ibnu Batthah, hal. 252)

Muncul pertanyaan: bagaimana dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang terkadang menyebut “Gusti Allah”? Apakah “Gusti” termasuk nama atau sifat Allah?

Jawabannya, “Gusti” bukanlah nama Allah, karena kata tersebut tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Namun, dalam konteks sekadar pengabaran (ikhbar) —wallahu a’lam— kami cenderung pada pendapat yang membolehkannya. Sebab, “Gusti” dalam bahasa Jawa memiliki makna yang dekat dengan As-Sayyid (Tuan), dan makna ini benar bagi Allah.

Para ulama telah menetapkan kaidah:

باب الإخبار أوسع من باب الصفات وباب الصفات أوسع من باب الأسماء

“Pembahasan tentang ikhbar (pengabaran) lebih luas dari pada pembahasan tentang sifat Allah, dan pembahasan tentang sifat Allah lebih luas dari pada pembahasan tentang nama Allah.”

Kaidah ini menjelaskan bahwa setiap nama mengandung sifat, tetapi tidak semua sifat dapat dijadikan nama. Demikian pula, pengabaran tentang Allah lebih luas cakupannya, baik yang memiliki dalil secara langsung maupun tidak, selama tidak melanggar syariat. Oleh karena itu, pengabaran bersifat lebih longgar, sedangkan nama dan sifat bersifat lebih ketat karena harus berdasarkan dalil.

Di antara contoh pengabaran adalah ucapan seseorang ketika berdoa, “Ya Mufahhima Sulaiman” (Wahai Dzat yang memberi pemahaman kepada Nabi Sulaiman). Demikian pula istilah-istilah yang digunakan oleh non-Arab, khususnya di Indonesia, seperti “Tuhan”, “Gusti”, dan semisalnya. Semua ini dibolehkan selama maknanya benar dan tidak bertentangan dengan dalil. Adapun contoh pengabaran yang keliru adalah ucapan seperti “Allah bermesraan dengan fulan”, karena kata “bermesraan” mengandung makna konotasi yang tidak pantas bagi Allah.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

Konsultasi Kesehatan Mental

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button