Home / Fiqh / Doa “antinyeri”

Doa “antinyeri”

Setiap orang pasti pernah merasakan sakit atau nyeri, jika rasa nyeri tidak tertahankan seperti sakit gigi, maka kita langsung menkomsumsi obat antinyeri seperti asam mefenamat, akan tetapi terkadang kita lupa membaca doa yang bisa menghilangkan sakit bahkan nyeri yang kita rasakan. Hendakkan seorang muslim menghafalnya karena mudah dan jika dibaca kurang dari satu menit. Dan hendaklah jangan terlalu bertumpu dengan sebab saja tanpa meminta kepada pencipta dan pengatur sebab.

dari Utsman bin Al-Ash radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah mengeluhkan penyakitnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tentang penyakit ditubuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

ضع يدك على الذي تألم من جسدك و قل باسم الله ثلاثا و قل سبع مرات أعوذ بالله و قدراته من شر ما أجد و أحاذر

“Letakkan tanganmu dibagian tubuh yang sakit, lalu ucapkanlah, “bismillah” tiga kali, lalu ucapkan sebanyak tujuh kali “A’udzu billahi wa qudrootihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir”, “Aku memohon perlindungan kepada Allah dengan kemuliaan dan kekuasaannya dari segala keburukan yang kudapatkan dan kukhawatirkan. [HR. Muslim no.2202]

Jika sakitnya seluruh tubuh maka cara mendokan [baca: meruqyah] diri sendiri sama caranya dengan meruqyah orang lain. Maka jika sakitnya di seluruh tubuh, caranya dengan meniup pada telapak tangan kemudian mengusapkan ke seluruh tubuh atau jika tidak mampu, bisa dengan hanya membacanya saja.

 

Salah paham: doa ruqyah hanya untuk sakit supranatural saja

Sebagian kita masih berkeyakinan bahwa doa-doa ruqyah seperti doa di atas adalah doa untuk penyakit-penyakit ghaib/supranatural saja, misalnya sakit karena disantet, akan tetapi semua doa ruqyah bisa untuk penyakit.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata,

ليس معناه تخصيص جوازها بهذه الثلاثة وإنما معناه سئل عن هذه الثلاثة فأذن فيها ولو سئل عن غيرها لأذن فيه وقد أذن لغير هؤلاء وقد رقى هو صلى الله عليه وسلم في غير هذه الثلاثة والله أعلم قوله

Bukanlah maknanya [ruqyah] hanya dibolehkan pada tiga penyakit tersebut [al’ain, al-hummah dan an-namlah-pent]. Namun maksudnya bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  ditanya tentang tiga hal itu, dan Beliau membolehkannya. seandainya ditanya tentang yang lain, maka akan mengizinkannya pula. Beliau telah membolehkan untuk selain mereka, dan Beliau pun pernah meruqyah untuk selain tiga keluhan tadi”. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/185, Darul Uhya’ At-turats, Beirut, 1392 H, syamilah).

 

Allah Ta’ala berfirman,

وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar/kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)

 

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syingkiti rahimahullahu menafsirkan,

هو شفاء يشمل كونه شفاء للقلب من أمراضه ; كالشك والنفاق وغير ذلك، وكونه شفاء للأجسام إذا رقي عليها به، كما تدل له قصة الذي رقى الرجل اللديغ بالفاتحة، وهي صحيحة مشهورة

 

“ini adalah penawar/kesembuhan yang mencakup penawar hati dari penyakit-penyakitnya seperti ragu-ragu, kemunafikan dan lainnya. Dan juga mencakup penawar bagi penyakit badan jika diruqyah pada badan. Sebagaimana ditunjukkan pada kisah seorang laki-laki yang tersengat kalajengking kemudian diruqyah dengan Al-Fatihah. Kisah ini adalah shahih dan masyhur.” [Adwa’ul Bayan 3/181, Darul Fikr, Beirut, 1415 H, Syamilah]

 

Doa untuk orang lain

Bisa membaca doa ini, kemudian memegang atau mengusap dengan tangan kanan di tempat sakit penderita,
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi n menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

8 Jumadil akhir 1432 H, Bertepatan  30 April 2012

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Leave a Reply