Home / Adab / Haruskan Berdakwah Mengajak dengan Gaya “Nyiyir bin Nyindir”?

Haruskan Berdakwah Mengajak dengan Gaya “Nyiyir bin Nyindir”?

-Dakwah adalah tugas yang sangat mulia dan perlu kita ingat “Dakwah adalah mengajak kebaikan dan menginginkan kebaikan kepada saudaranya”

Dakwah membuat dekat bukan membuat lari serta mempermudah bukan mempersulit [1]

Dakwah juga hukum asalnya dengan lemah lembut dan menjadi sumber kebaikan [2]

-Kadang kita temui dakwah dengan gaya menyindir
Misalnya:
“Pakaiannya kok ketat sekali, gak sekalian telanjang aja?”
“Lho laki-laki kok gak shalat di masjid, atau lagi menstruasi ya?”

-Tidak bijaksana kalau menyindir LANGSUNG KE INDIVIDU tersebut, karena ini bisa jadi membuatnya lari

Jadi jika ada saudaramu jatuh ke sumur, apakah kita akan menolong atau mencelanya? Tentu menolongnya kan

-Berdakwah dengan gaya menyindir, bisa dilakukan jika:

1. Bahasanya  secara umum tidak menyindir individu atau kelompok tertentu
2. Gaya bahasa tidak terlalu keras bahkan kasar sekali
3. Tidak dilakukan sering-sering karena hukum asal dakwah lemah lembut

Misalnya:
“Jangan bicara agama tinggi-tinggi tapi shalat subuh tidak berjamaah di masjid alias ketiduran”

“Pas dipanggil bos, cepet sekali respon, pas Allah panggil lewat adzan, pura-pura tidak dengar”

-Memang dalam berdakwah, selain memberikan kabar gembira, perlu juga menyampaikan peringatan dan ancaman-ancaman sebagaimana  dalam Al-Quran dan Sunnah, inilah tujuan diutusnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, menyampaikan kabar gembira dan peringatan [3]

Tentunya menyampaikan peringatan tetap dengan cara yang baik pula, melihat waktu, kondisi serta orangnya

-Dakwah juga tegas pada kondisi dan melihat orangnya
Misalnya:

-Orang badui yang kencing di masjid, para sahabat siap-siap memarahi dan “menghabisi”, tetapi diperlakukan lembut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

-Usamah, seorang sahabat, beliau adalah kesayangan Rasulullah dan orang dekat beliau, tetapi beliau dimarahi “habis-habisan” bahkan “disindir”

Usamah membunuh orang yang tiba-tiba mengucapkan “Laa ilaha illallah” ketika dia sudah tidak berdaya di medan perang

Ia mengira bahwa orang itu mengucapkannya hanya “alasan dan ngeles” karena takut dibunuh saja, akhirnya dibunuh oleh Usamah

Mengetahui hal ini Rasulullah marah besar kepada Usamah dan “menyindir”

“Wahai Usamah, apakah engkau sudah membelah dadanya, sehingga engkau tahu isi hatinya?”

Beliau terus mengulangi kalimat ini. Sampai-sampai Usamah berandai kalau saja dia baru masuk Islam (sehingga dimaklumi oleh Rasulullah) [4]

-Semoga kita bisa lebih bijak lagi dalam berdakwah, kami khawatir:
TERLALU BANYAK GAYA BERDAKWAH DENGAN SINDIRIN, SEOLAH-OLAH MENUNJUKKAN KESOMBONGAN DIA DALAM BERDAKWAH, SEOLAH-OLAH DIA SUDAH SUCI SAJA

Semoga kita dihindari dari hal ini.

@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Footnote:

[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

ﻳَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻌَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﺑَﺸِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻨَﻔِّﺮُﻭﺍ

“Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” (HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmu no.69)

[2] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan membuatnya lebih bagus, dan tidak akan tercabut sesuatu darinya kecuali akan membuatnya jelek.”[HR. Muslim]

[3] Allah Ta’ala berfirman,

ﺭُّﺳُﻼً ﻣُّﺒَﺸِّﺮِﻳﻦَ ﻭَﻣُﻨﺬِﺭِﻳﻦَ ﻟِﺌَﻼَّ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣُﺠَّﺔُُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﺰِﻳﺰًﺍ ﺣَﻜِﻴﻤًﺎ

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada lagi alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu ” (QS. An Nisaa’ 165).

[4] Silahkan baca kisahnya dalam hadits:

ﻋﻦ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺜﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺳﺮﻳﺔ ﻓﺼﺒﺤﻨﺎ ﺍﻟﺤﺮﻗﺎﺕ ﻣﻦ ﺟﻬﻴﻨﺔ ﻓﺄﺩﺭﻛﺖ ﺭﺟﻼ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻄﻌﻨﺘﻪ ﻓﻮﻗﻊ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﺬﻛﺮﺗﻪ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻗﺎﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗﺘﻠﺘﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﻗﺎﻟﻬﺎ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻼﺡ ﻗﺎﻝ ﺃﻓﻼ ﺷﻘﻘﺖ ﻋﻦ ﻗﻠﺒﻪ ﺣﺘﻰ ﺗﻌﻠﻢ ﺃﻗﺎﻟﻬﺎ ﺃﻡ ﻻ ﻓﻤﺎ ﺯﺍﻝ ﻳﻜﺮﺭﻫﺎ ﻋﻠﻲ ﺣﺘﻰ ﺗﻤﻨﻴﺖ ﺃﻧﻲ ﺃﺳﻠﻤﺖ ﻳﻮﻣﺌﺬ

Dari Usamah bin Zaid ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami bersama pasukan kecil maka kamipun menyerang beberapa dusun dari qobilah Juhainah, maka akupun berhadapan dengan seseorang (tatkala dia telah kalah dan akan aku bunuh) dia mengucapkan la ilaha illallah, akupun tetap menikamnya.
Namun setelah itu aku merasa tidak enak akan hal itu maka akupun menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah ia mengucapkan la ilha illallah lantas engkau tetap
membunuhnya??”.
Aku berkata, “Ya Rasulullah, dia mengucapkannya hanya karena takut pedangku!”,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Mengapa engkau tidak membelah hatinya hingga engkau tahu bahwa dia mengucapkannya karena takut atau tidak!?”.
Berkata Usamah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulang-ngulang perkataannya kepadaku itu hingga aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islam saat itu” (HR Muslim 1/96)

One Comment

  1. rizki says:

    jazakallahu khairan khatsiran, izin share ..

Leave a Reply