Home / Bimbingan Islam / Penjelasan & Klarifikasi “Histeria Massal” pada Program Vaksin Anak

Penjelasan & Klarifikasi “Histeria Massal” pada Program Vaksin Anak

Terkadang ada oknum menyebarkan berita “Sudah BANYAK Jatuh Korban Vaksin”. Tentu ini TIDAK BENAR, mereka mengatakan “banyak” hanya karena berdasarkan sangkaan tanpa ilmu dan berita-berita yang tidak jelas atau berita-berita yang judulnya adalah permainan kata-kata (dan sebagian orang ada yang hanya baca judul saja, tidak baca isinya). Kami misalnya berita dengan judul
“Vaksin MR tidak boleh dipakai sampai dihalalkan” (bayangan orang vaksinbelum halal, berarti sebaliknya yaitu haram). Kalau wanita minta dihalalkan mah, banyak…eh^^

Padahal yang benar “sampai dikeluarkan sertifikat halal”, tapi ingat tidak tidak ada sertifikat halal itu bukan berarti haram, telah kami jelaskan pada tulisan kami sebelumnya.

Kami ambil contoh berita berikut:

“Puluhan siswa di KSB dirawat SETELAH jalani imunisasi”

http://www.suarantb.com/news/2018/08/02/259541/Puluhan.Siswa.di.KSB.Dirawat.Setelah.Jalani.Imunisasi.Rubella

nah, judul berita di atas atau screenshoot judul SAJA segera disebarkan oleh oknum antivaksin dengan mengatakan “ini bahaya AKIBAT vaksinasi”

PADAHAL isi berita BUKAN karena vaksin (tinggal baca saja isi beritanya), kami nukilkan:
“Menurut dia, kondisi yang dialami anak-anak tersebut secara klinis TIDAK DISEBABKAN karena vaksin rubella yang baru dimasukkan ke tubuh mereka. Hal itu lebih disebakan, kondisi fisik anak yang kemungkinan tidak siap menjalani proses vaksinasi.” (selesai nukilan)

Secara psikologi, ini yang disebut dengan “histeria massal”. Jadi mereka anak-anak hanya cemas dan panik saja. Tentu orang-orang di sekitar yang tidak punya basic ilmu kesehatan ikut panik, yang penting bawa ke puskesmas dahulu. Setelah di puskesmas dan ditenangkan mereka langsung pulang dengan sehat. Kejadian “histeria massal” ini juga SANGAT JARANG SEKALI TERJADI, apabila kita bandingkan dengan ribuan puskemas (9825 puskesmas, data 2017) yang menjalani program vaksinasi.

Yang namanya anak-anak, berpotensi “histeria massal”, karena mereka takut ada intervensi berupa suntik atau masukkan ke mulut. Sama seperti sunatan massal, satu anak menangis, maka semua akan menangis terpancing, padahal prosedur sudah mendapatkan anestesi.

Perhatikan juga bagaimana media membuat berita dengan bahasa yang menarik seperti itu (agar rating naik), dan tentu dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Mereka hanya menyebarkan berita awal dan berita klarifikasinya tidak disebarkan setelahnya.

Jika ingin mengatakan “banyak korban baksin” tentu harus pakai data dan penelitian. Bukan dengan berita-berita yang kejadiannya hanya satu, dua atau tiga kemudian seolah-olah kejadian banyak, ditambah lagi kepanikan sebagian orang dan cepatnya oknum menyebarkan berita ini, sedangkan keberhasilan vaksin sangat banyak dan dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

Kita pakai logika sederhana saja, apabila vaksin bahaya dan racun, tentu negara-negara yang mewajibkan vaksin (benar-benar wajib, jika tidak, maka dapat hukuman yaitu anaknya tidak boleh sekolah) seperti Australia, sebagian Eropa, sebagian timur tengah seperti Arab saudi, UEA dll. Tentu semua anak mereka semuanya akan mati dan cacat karena racun. Tapi negara-negara maju dengan pahamnya mereka ilmu, mereka mewajibkan dan merasakan MANFAAT Program vaksin. Demikian juga keputusan Arab saudi mewajibkan vaksin meningitis bagi jamaah haji dan umrah (kalau katanya mereka vaksin bikin autis, maka jamaah haji seluruh dunia, pulang-pulang jadi pada diam dan autis)

Masih banyak berita semisal ini, kami telah membuat tulisan terkait hal ini:

# Meluruskan Berita: Bayi Meninggal Setelah divaksin

Ada berita dengan judul:

“Bayi Meninggal SETELAH minum susu”

m.detik.com/health/read/2013/07/26/132939/2315459/1300/bayi-5-bulan-ini-meninggal-setelah-minum-susu

Bagaimana jika berita ini diganti kata-katanya: “Meninggal setelah divaksin”

Apakah kesimpulannya berita ini, susu berbahaya?

Berita meninggalnya bayi setelah vaksin polio di blow up seolah-olah vaksin bahaya (kami doakan semoga orang tuanya diberi kesabaran dan pahala)

Terkadang oknum media juga berperan (yang penting viewer meningkat dulu, masalah klarifikasi belakangan)

Logikanya:

-Yang ikut program imunisasi PIN nasional  hampir mayoritas anak Indonesia karena program nasional, karena 1 kasus saja jadi ambil kesimpulan demikian

-Media menulis dengan kata-kata “Setelah divaksin” BUKAN “meninggal KARENA di vaksin” (mereka main aman)
Karenanya perlu diteliti penyebab kematiannya, apakah karena vaksin atau penyebab lainnya dan kasus serupa seperti ini setelah diteliti ternyata bukan karena vaksin semata melainkan karena yang lain

-Beberapa negera seperti Arab Saudi, UEA dan lain-lainnya, vaksin adalah program wajib, jika tidak divaksin tidak dapat akte lahir dan tidak bisa masuk  sekolah
jika vaksin racun maka satu negara mati semua (vaksin dari Saudi diimpor juga dari Indonesia, jadi sama ya)

Semoga kita bisa bijak menyikapi

https://muslimafiyah.com/meluruskan-berita-bayi-meninggal-setelah-divaksin.html

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

_________________

Apabila kita cari berita (googling) “Meninggal SETELAH bekam” atau “meninggal SETELAH minum susu”, tentu BANYAK. Apakah bekam dan minum susu bahaya? Tentu TIDAK. Vaksin sudah diwajibkan di negara-negara maju dengan benar-benar wajib.

Mari bijaksana dan menyebarkan berita dengan fakta dan data.

Semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 

 

Leave a Reply