Faidah Ringkas

Sakaratul Maut Itu Bervariasi, dan Belum Tentu Itu Tanda Baik atau Buruknya Seseorang

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Setiap manusia akan menghadapi kematian, dimana mereka semua akan merasakan bagaimana nyawanya dicabut. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik yang menegangkan lagi menyakitkan. Itulah yang dikenal sebagai sakaratul maut. Allah berfirman,

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS Qaaf: 19)

Imam Ath-Thabari menafsirkan,

وهي شدّته وغلبته على فهم الإنسان

“Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya.” (Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran)

Penderitaan sakaratul maut akan dialami oleh setiap makhluk tanpa terkecuali, tetapi tingkat kepedihannya berbeda-beda. Secara umum, orang beriman akan mengalami peristiwa sakaratul maut yang mudah dan ringan. Namun kadang derita sakaratul maut yang berat juga mendera mereka.

Di antara tujuan mengapa orang shalih terkadang merasakan sakaratul maut yang berat adalah untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat derajatnya, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau merasakan bagaimana pedihnya sakaratul maut. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bercerita saat menjelang wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata, “Laa Ilaaha Illallah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata, “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas.“ (HR. Bukhari, no. 6510)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari,

وفي الحديث أن شدة الموت لا تدل على نقص في المرتبة بل هي للمؤمن إما زيادة في حسناته وإما تكفير لسيئاته

“Dalam hadits tersebut, kesengsaraan (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 11/363)

Oleh karena itu, kondisi sakaratul maut itu bervariasi dan tidak selamanya menjadi indikator baik atau buruknya seseorang. Tidak selamanya orang baik akan menjalani proses sakaratul maut yang ringan, sebagaimana tidak selamanya orang buruk akan menjalani proses sakaratul maut yang berat. Tolok ukur utamanya adalah bagaimana ia hidup dengan mengikuti ajaran agama yang benar.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK. (Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *