Home / Adab /  Seribu Rupiah Parkir  Tidak Sebanding dengan Desiran Stres Adrenalin

 Seribu Rupiah Parkir  Tidak Sebanding dengan Desiran Stres Adrenalin

Mungkin ada pernah mengalami, sekedar parkir motor ambil uang ATM, ada tukang parkirnya (ATMnya dijagain) kemudian minta 1000 rupiah atau bahkan lebih, padahal motornya gak diapa-apain (minimal kasi pelindung panas, walaupun gak panas), seperti orang nagih (kadang muka masam), kayak dia aja yang punya tanah…

Sakit hati dan mau marah… tetapi kadang tidak bisa

ketika sakit hati dan stress, adrenalin keluar dan itulah hormon stress

Solusinya mungkin bisa direnungkan dengan baik

Tidak perlu sakit hati hanya karena uang seribu rupiah, lebih baik kita anggap saja sumbangan…

Tapi khan, dia agak kurang ajar dan sok..

Tenang dulu, kita sakit hati saja tidak akan merubah kenyataan

Itulah fungsi iman terhadap hari akhir, mereka yang beriman dengan hari akhir dan hari pembalasan akan tetang hidupnya

Segala sesuatu yang tidak adil didunia akan diadili dengan seadil-adilnya dan tidak ada yang bisa lari dan mengelak di hari kiamat

dan urusan serta balasan di akhirat lebih besar

Yang mendzalimi kita , kelak di akhirat akan mencari-cari kita (tentu dengan susah payah dengan suasana super mencekam di padang Mahsyar)

Ngapain cari-cari kita? tentu untuk minta maaf urusan dunia

Minta maaf saja? Tentu tidak !

Maaf saat itu seharga dan dibayar dengan pahala, dia yang mendzalimi anda di dunia akan menyerahkan pahalanya kepada anda sekadar dzalimnya dia

Nah, kalau pahala dia sudah habis (karena banyak mendzalimi orang dan ghibah di dunia)

Maka kesalahan dan dosa anda akan berpindah ke dia yang mendzalimi anda (jadilah dia orang yang bangkrut sebagaimana dalam hadits, bukan bangkrut duit)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

So, jangan mudah sakit hati, untuk urusan 1000 rupiah saja

Nah, bisa diterapkan urusan yang lebih besar, lebih besar juga keuntungan kita di akhirat

Aagar lebih tenang, maafkan saja dia…

kita tenang dan tidak terganggu dengan dendam apalagi sibuk dan buang waktu memikirkan cara membalas dendam

Karena kita yakin balasan di akhirat lebih baik dan dunia sangat jauh-jauh tidak ada apa-apanya dengan akhirat.

Perbandingan akhirat dengan dunia adalah sebagaimana lautan dengan tetesan air dari jari yang dicelup

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah! Dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan salah satu jemarinya ke laut), maka lihatlah apa yang ada pada jarinya tersebut saat ia keluarkan dari laut![HR. Muslim]

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , Follow facebook dan   follow twitter

Leave a Reply to Hamzah ibnuabihi abuibnihi

Cancel