Home / Fatwa Kedokteran / Harus Mandi Junub Dan Batal Puasa Pada VT (Vaginal Toucher) Dan Obat Intravagina?

Harus Mandi Junub Dan Batal Puasa Pada VT (Vaginal Toucher) Dan Obat Intravagina?

12images

Sebagian kaum muslimin ada yang menyangka jika hal ini menyebabkan harus mandi wajib dan batal puasanya, bagaimana yang benar? Berikut pembahasannya

VT atau colok vagina adalah pemeriksaan bagian dalam vagina dengan memasukkan dua jari untuk mengetahui keadaan bagian dalam vagina. Sering dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui “bukaan” dan dilakukan pada pemeriksaan kebidanan.

Berikut fatwa Al-lajnah Da’imah (semacam MUI di Saudi dengan anggota ulama-ulama besar) berkaitan dengan hal ini:

Pertanyaan:

إذا أدخلت المرأة أصبعها للاستنجاء في الفرج، أو لإدخال مرهم أو قرص لعلاج أو بعد كشف أمراض النساء حيث تدخل الطبيبة يدها أو جهاز الكشف، هل يجب على المرأة الغسل؟ وإن كان هذا في نهار رمضان هل تفطر ويجب عليها القضاء؟

“jika seseorang wanita memasukkan jarinya untuk “istinja”/membersihkan kemaluannya atau memasukkan obat dalam bentuk salep/krim atau tablet (obat intravagina, pent) untuk pengobatan atau pemeriksaan pada pasien wanita di mana dokter wanita memasukkan tanganya ke kemaluan wanita (Vaginal Toucher, pent) atau memasukkan alat periksa ke kemaluan pasien (misalnya speculum, pent).

Apakah wajib bagi wanita tersebut mandi junub? Apabila dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan apakah membatalkan puasa dan wajib baginya qhada?

Jawab:

إذا حصل ما ذكر فلا يجب غسل جنابة ولا يفسد به الصوم.

“jika terjadi sebagaimana yang disebutkan maka tidak wajib baginya mandi junub dan tidak membatalkan puasanya.”[1]

 

Catatan:

Yang mengira VT atau obat intra vagina harus mandi junub atau puasanya batal, mereka mungkin meng-qiyaskan dengan jima’/bersetubuh. Hal ini tidak termasuk jima’, syaikh Abdullah Al Bassam rahimahullah menjelaskan pengertian jima’:

الجماع هو تغييب خشفة الذكر في الفرج, قبلا كلن أو دبرا, و لو في بهيمة, فيفطر كل من الواطئ و الموطوء المطاوع

“jima’ adalah memasukkan kepala (maaf) penis ke dalam kemaluan (tolak ukurnya kepala, pent), baik itu vagina atau dubur, meskipun kepada binatang. Maka batal puasa pelaku  dan objeknya jika ia ridha/tidak dipaksa.”[2]

Mengenai obat intra vagina maka, DR. Ahmad bin Muhammad Al-Khalil menjelaskan dalam kitabnya “muftiratish shiyam Al-mu’ashirah” (pembatal-pempatal puasa kontemporer) ada dua pendapat :

القول الأول: ذهب المالكية، والحنابلة، إلى أن المرأة إذا قطرت في قبلها مائعاً لا تفطر بذلك الأدلة :1ـ أن فرج المرأة ليس متصلاً بالجوف.2ـ أن مسلك الذكر من فرج المرأة في حكم الظاهر. القول الثاني: ذهب الأحناف، والشافعية، إلى أن دخول المائع إلى قبل المرأة يفطر الدليل: أن لمثانتها منفذاً يصل إلى الجوف، كالإقطار في الأذن.

Pendapat pertama: Malikiyah dan Hanbilah berpendapat jika diteteskan cairan kedalam vagina seorang wanita maka puasanya tidak batal[3], dalilnya: pertama, bahwa vagina tidak terhubung dengan rongga dalam. Kedua, tempat masuknya penis pada vagina adalah hukum dzahir yang dipakai

Pendapat kedua: Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa masukknya cairan ke dalam vagina membatalkan puasa[4], dalilnya bahwa vagina memiliki pori-pori yang terhubung dengan rongga dalam, sama seperti obat tetes telinga.

القول المختار: بنى الأحناف والشافعية قولهم بالتفطير على وصول المائع إلى الجوف عن طريق قبل المرأة، كما علل به في بدائع الصنائع، وهو أمر مخالف لما ثبت في الطب الحديث، حيث دل على أنه لا منفذ بين الجهاز التناسلي للمرأة وبين جوفها، ولذلك فليس هناك في الحقيقة ما يوجب التفطير، حتى على مذهب الأحناف والشافعية، إنطلاقاً من تعليلهم. فالقول الأقرب هو عدم التفطير بالغسول المهبلي مطلقاً، وليس في النصوص ما يدل على التفطير،

Tarjih: Hanabilah dan Syafi’iyah mendasarkan pendapat mereka –batalnya puasa- pada sampainya cairan rongga dalam vagina, seperti alasan yang dikemukakan penulis kitab Bada’i shana’i . pendapat ini bertentangan dengan ilmu kedokteran modern yang membuktikan bahwa tidak ada saluran antara organ reproduksi perempuan dengan rongga dalam. Maka hakikatnya tidak ada sesuatu yang mengharuskan batalnya puasa, bahkan berdasarkan mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyah sekalipun, bertolak dari alasan yang mereka kemukakan.

Maka, pendapat yang lebih bisa diterima adalah tidak batalnya puasa secara mutlak disebabkan pencuci vagina (dan obat intra vagina lainnya, pent). Didalam berbagai nash tidak ada sesuatu yang membatalkan puasa

 

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

2 Ramadhan 1433 H, Bertepatan  21 Juli 2012

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 


[1] Fatawa Lajnah Da’imah no.9881

[2] Taudhihul Ahkam II/685, Darul Atsar, cet. I, 1425 H

[3] Al-mudawwanah I/177, Mawahib Al-Jalil II/422

[4] Radd Al-mukhtar II/101, Bada’i shana’i II/93

2 Comments

  1. Maaf sepertinya ada yang perlu diralat pak Dokter, untuk pendapat kedua adalah pendapat dari Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah. Kami dapatkan dari penjelasan Syaikh Dr. Ahmad bin Muhammad Al Kholil (Asisten Profesor di jurusan Fikih Jami’ah Al Qoshim) dalam tulisan “Mufthirootu Ash Shiyam Al Mu’ashiroh”.

    Pendapat pertama: Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa jika ada sesuatu yang ditetesi lewat kemaluan (vaginanya), maka tidaklah membatalkan puasa. Di antara alasannya, vagina wanita tidaklah bersambung dengan jauf atau rongga perut.

    Pendapat kedua: Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah berpandangan bahwa masuknya cairan ke dalam vagina wanita membatalkan puasa. Alasannya, karena vagina dianggap bersambung ke dalam rongga tubuh sebagaimana telingan dianggap demikian.

    Mohon diralat, barakallahu fiikum

Leave a Reply