Home / Adab / Bolehkah Berdoa dan Diakhiri dengan “Insya Allah” ?

Bolehkah Berdoa dan Diakhiri dengan “Insya Allah” ?

#IndonesiaBertauhid

-Kita diperintahkan berdoa dengan bersunguh-sungguh dan yakin Allah sangat mampu mengabulkan doa kita

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍُﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﻮْﻗِﻨُﻮْﻥَ ﺑِﺎْﻹِﺟَﺎﺑَﺔِ .

“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a.”[1]

-Bagaimana jika ditambahkanya dengan “Insya Allah” diakhir doa?
misalnya: semoga kita akan bertemu di surga, insyaAllah

-Jawabannya: TIDAK boleh
Karena kata InsyaAllah setelah doa artinya menggantungkan kehendak kepada Allah, “jika Allah menghendaki”, sedangkan kita diperintahkan agar berdoa dengan yakin dan berharap  agar doa dikabulkan

Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,

: ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ” ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ” ﻓﻲ ﺩﻋﺎﺋﻪ ﺑﻞ ﻳﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻭﻳﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ

“Tidak selayaknya manusia berdoa kepada Allah kemudian mengucapkan “InsyaAllah”, bahkan hendaknya dia bersungguh-sungguh meminta dan memperbesar harapannya karena Allah subhanahu wa ta’la tidak ada yang bisa memaksa.”[2]

-Sebagaimana dalam hadits, tidak boleh kita berdoa “Ya Allah, jika engkau menghendaki”

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

َ ﻭَﻻَﻳَﻘُﻮْﻟَﻦَّ ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺇِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺄَﻋْﻄِﻨِﻲْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻣُﺴْﺘَﻜْﺮِﻩَ ﻟَﻪُ .

“Janganlah ia berkata: ‘Ya Allah, apabila Engkau sudi, makakabulkanlah do’aku ini,’
karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.”[3]

-Akan tetapi ada bebeberapa doa dalam sunnah yang menggunakan “InsyaAllah”, misalnya doa kepada orang yang sakit

ﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﻃَﻬُﻮﺭٌ ﺍِ ﻥْ ﺷَﺂ ﺀَ ﺍﻟﻠّﻪُ

“ Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Allah .”[4]

Maka jawabannya: ini adalah pengecualian pada doa ini saja, karena:

1. Makna “InsyaAllah” bisa berarti tahqiq (تحقيق) yaitu sesuatu yang pasti
Sebagaimana doa ketika masuk kuburan, lafadznya “kami akan menyusul kalian, insyaAllah”[5]
maka ini adalah pasti kita akan menyusul mereka dengan kematian

Syaikh Al-Abbad menjelaskan,

ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻖ، ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ؛ ﻷﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻠﺤﻖ ﺑﻬﻢ

“Ini bukan ta’liq (menggantungkan kehendak) tetapi tahqiq (kepastian), karena kita pasti menyusul orang yang mati”

2. Ini adalah bentuk tabarruk bukan bentuk ta’liq (menggantungkan kehendak)

Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan,

ﻷﻥ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﻗﺪ ﻳﺮﻳﺪ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺘﺒﺮﻙ ﻻ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻖ

“yang mengatakannya bisa jadi bermaksud tabarruk bukan ta’liq (menggantungkan kehendak)” [6]

-Silahkan lihat juga fatwa syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan [7]

-Karenanya lebih hati-hati adalah tidak mengucapkan “insya Allah” ketika berdoa tetapi memintalah dengan sungguh-sungguh dan yakin Allah mengabulkan dam tentunya dengan bersungguh-sungguh juga menempuh sebabnya

Demikian semoga bermanfaat

@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Footnote:

[1] HR. At-Tirmidzi, Silsilah al- Ahaadiits ash-Shahiihah no. 594

[2] Majmu’ Fatawa wa Rasa-il syaikh Al-‘Utsaimin

[3] HR. Bukhari dan Muslim

[4] HR. Bukhari

[5] lafadznya adalah:

ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ، ﻭَﻳَﺮْﺣَﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘْﺪِﻣِﻴﻦَ ﻣِﻨَّﺎ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﺄْﺧِﺮِﻳﻦَ، ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻟَﻠَﺎﺣِﻘُﻮﻥَ ﺃَﺳْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”
(HR. Ahmad 25855, Muslim 975).

[6] Majmu’ Fatawa wa Rasa-il syaikh Al-‘Utsaimin

[7] link: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13610

2 Comments

  1. Mochamad Ichsan says:

    Assalaamu’alaykum. Saya minta izin membagi artikel di atas. Jazaakumulloohu khoyr

Leave a Reply