Home / Adab / Menganggap Guru Sebagai “Ayah”?

Menganggap Guru Sebagai “Ayah”?

Dalam ajaran Islam tidak boleh menisbatkan nasab dengan orang yang bukan menjadi ayahnya. Sebagiamana terdapat dalam Al-Quran. Meskipun sudah dianggap sebagai bapaka atau menjadi bapak angkat.

Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, panggilah mereka sebagai saudara-saudaramu seagama atau maulamu. Tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 5)

Bahkan ada ancamananya bagi orang yang mengaku-ngaku anak atau keturunan seseorang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام

“Siapa yang mengaku anak seseorang, sementara dia tahu bahwa itu bukan bapaknya maka surga haram untuknya.”[1]

 

Boleh memanggil guru dengan sebutan Ayahanda

Karena besarnya jasa guru dalam mendidik dan memberikan contoh teladan dalam beragama. Beberapa orang sudah menanggapnya sebagai ayah sendiri bahkan guru tersebut dipanggil “ayahanda”. Ini diperbolehkan dalam agama karena penggilan ini tidak bermaksud mengaku-ngaku dalam nasab.

Memang seorang guru bisa sebagaimana kedudukan seorang ayah.

Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ …

‘Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan seorang ayah, aku mengajari kalian semua….’”.[2]

 

Dan memang boleh menyebut ayah dan kakek tanpa bermaksud menasabkan diri. Sebagaimana dalam Al-Quran:

الُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Rabbmu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” (QS. Al Baqarah: 133)

Para ulama menjelaskan,

ففي هذه استعمال الأبوين من غير ولادة حقيقية وهو مجاز صحيح في اللسان العربي

“Penggunaan kata “bapak-ibu” yang bukan melahirkan secara hakiki adalah majaz yang benar pada lisan orang Arab.” [3]

Syaikh Abdurrahman Al-Barrak hafidzahullah ditanya mengenai hal ini,

اشتهر في الوقت الحالي إطلاق لقب والد على علماء الدين الإسلامي كبار السن والعلم والمقام، فهل إطلاق هذا اللفظ يجوز؟ مع ملاحظة الآتي : أن النصارى يطلقون لفظ البابا على علمائهم الكبار في العلم والمقام.

“Di saat ini, tersebar penggunaan panggilan “ayahanda” kepada ulama senior baik secara ilmu dan kedudukan. Apakah ini benar? Perlu diketahui juga bahwa orang nashrani memanggil dengan panggilan “Al-baaba” (artinya: ayah) kepada rahib mereka yang senior.

Beliau menjawab (ringkasan)

والحاصل أنه لا حرج في مخاطبة العالم والشيخ الكبير بالوالد ، ولا يعد هذا تشبها بالنصارى .

“Tidak mengapa memanggil ulama yang senior dengan panggilan “ayahanda”. Ini juga tidak tasyabbuh (menyerupai) orang nashrani.”[4]

 

Demikian semoga bermanfaat

 

@RS Mitra Sehat, Wates, Yogyakarta tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

 

[1] HR. Bukhari no. 6385

[2] HR. Abu Dawud no. 8, Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 1/173

[3] Fatawa Ibnu Shalah 1/186

[4] Sumber: http://islamqa.info/ar/100329

2 Comments

  1. ai wahyu says:

    jazakallohu bi khoir ya akhi..

Leave a Reply